Organisasi Islam di Borneo Selatan, 1912-1942 :: Awal kesadaran berbangsa Urang Banjar
SYAHARUDDIN, Prof. Dr.Djoko Suryo
2008 | Tesis | S2 SejarahAwal munculnya kesadaran identitas urang Banjar melalui berbagai organisasi Islam dari Jawa pada dekade kedua abad ke-20, penting dikaji sebagai sumbangan pemikiran tentang semangat zaman (zeitgesit) urang Banjar yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Gejala itu diawali ketika SI memulai aktivitasnya (1912), yang diikuti kemudian oleh Muhammadiyah, NU dan Musyawaratutthalibin, maka ketika itu wilayah ini memasuki babak baru, dan mewarnai pergerakan organisasi modern. Berbagai organisasi itu, berupaya mencari sebuah identitas bersama, melalui berbagai aktivitas politik, ekonomi, sosial, agama dan terutama melalui aspek pendidikan (Islam). Berdasarkan hal itu, maka diperlukan kajian tentang eksistensinya, serta menggambarkan dinamika organisasi Islam dan pendidikan Islam dalam membangun kesadaran identitas ke- Indonesiaan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan pada dekade kedua abad ke-20. Penelitian ini merupakan kajian sejarah politik dengan pendekatan sejarah sosial. Penekanannya terletak pada berbagai dinamika dan hubungan-hubungan sosial para elite organisasi Islam dalam hubungannya dengan usaha mewujudkan identitas ke-Indonesiaan. Pemanfaatan sumber, berupa koran lokal yang dipadu dengan informasi dari arsip dan juga wawancara sangat membantu penulis dalam mengungkap masalah yang diteliti. Beberapa lagu dan puisi yang ditemukan pada koran menjadi penting untuk dimaknai agar penggambaran realitas masa lalu semakin jelas. Kesadaran identitas urang Banjar merupakan akumulasi dari “kemauan bersama†dari para elite Islam. Hal ini diperkuat ketika Islam dijadikannya sebagai simbol perekat (integrating force), di samping bahasa Melayu melalui berbagai media lokal. Aktivitas elite Islam pun semakin berkembang ketika pemerintah Belanda mengapresiasinya. Hal itu dapat dipahami, karena adanya kekhawatiran pemerintah terhadap aktivitas organisasi politik yang membahayakan eksistensinya. Pengaruh kehidupan sosiokutural masyarakat Banjar (sebagai pemeluk Islam dan pedagang) ikut pula mendorong berkembangnya organisasi Islam di xix Borneo Selatan. Melalui aktivitas pendidikan Islam, masyarakat pun semakin rasional dan merasakan begitu pentingnya arti sebuah bangsa dalam kehidupan urang Banjar.
The beginning appearance of identity awareness of Banjarese is through various Islamic organizations in Java from the second decade in twentieth century. It is important to examine that as thought contribution about spirit of age (zeitgeist) Banjarese has been established by their ancestors. This symptom is begun when SI starts his activities (1912), joint by Muhammadiyah, NU, and Musyawaratutthalibin later. This area definitely entered new phase and participate modern organization movement. These organizations try to find an identity together through multiple political, economical, and spiritual activities, especially educational aspect (Islam). Based on the statement, it needs to have exploration about the existence as well as describing the dynamic of Islamic organization and education in building identity awareness of Indonesianess of Banjar society in South Kalimantan in second decade of twentieth century. This research represents the study of political history with the social history approach. Its emphasis lays in various activity, dynamics, and social relations of all Islamic elite organization in its relation on the effort to realize the nationalism identity. The sources utilization, from the local newspaper compiled with the archives information as well as interview very assistive to the writer in expressing the accurate problems. Some songs and poetries founds at newspapers become important to mean so that the depiction to the reality of the past is progressively clear. The identity awareness of urang Banjar is an accumulation from “together willingness†from Islamic elites. This kind of circumstance is strengthened when Islam become an integrating force, despite the Malay Language through multiple local media. The Islamic elite activities increasingly develop the Dutch Government appreciate it. Indeed, it is because the Dutch Government worries about political organization xxi activities which endanger its existence. The socio-cultural life influence of Banjar society (as Moslems and business men) contributes to encourage the Islamic organization development in South Borneo. By the Islamic education activity, the society is increasingly rational and feels that the meaning of a nation in the urang Banjar life is quite important.
Kata Kunci : Organisasi Islam,Pendidikan Islam,Identitas Urang Banjar