Pelestarian situs Tamansari pascagempa 2006 :: Pendekatan manajemen penanggulangan bencana
HADIYANTA, Ignatius Eka, Prof. Dr. Timbul Haryono, MSc
2008 | Tesis | S2 ArkeologiPada dasarnya gempa bumi yang terjadi merupakan fenomena yang tidak dapat dipredeksikan kapan waktunya, oleh karena itu diperlukan kajian terhadap berbagai resiko-resikonya. Dampak gempa bumi di samping memunculkan resiko terhadap berbagai objek fisik seperti halnya gugusan bangunan-bangunan di Situs Tamansari, juga terhadap lingkungan serta jiwa manusia. Bencana alam gempa bumi merupakan faktor eksternal yang besar pengaruhnya atau berdampak terhadap soliditas bangunan, yaitu berakibat menimbulkan berbagai kerusakan, baik retak, patah, deformasi struktural dan runtuh. Hal itu terjadi mengingat kondisi situs dan gugusan bangunannya sebagian sudah mempunyai kerentanan (vulnerable) terhadap goncangan gempa bumi dengan skala besar. Berbagai dampak gempa bumi di Situs Tamansari tersebut di atas perlu dilakukan penanganan secara intensif, mengingat sumberdaya arkeologi mempunyai berbagai nilai penting dan mempunyai sifat keterbatasan yaitu â€tidak dapat diperbarui†(non-renewable resource). Penanganan intensif tersebut dengan melakukan upaya pelestarian Situs Tamansari dan semua potensi sumberdaya arkeologi yang ada dengan mengacu kepada manajemen sumberdaya budaya (CRM). Implementasi pelestarian dilakukan dengan memperhatikan arah kebijakan dan strategi pelestarian, serta program-program yang menekankan pendekatan keberlanjutan (sustainability). Adanya kondisi dampak gempa bumi maka penanganan di Situs Tamansari perlu dilakukan dengan pendekatan yang memperhitungakan aspek resiko bencana, yaitu meliputi tahapan sebagai berikut. Pertama, tahap pragempa, yaitu mengimplementasikan langkah-langkah antisipasi dalam penanganan situs dengan melakukan sosialisasi berbagai regulasi, identifikasi kondisi rawan dampak gempa, penetapan batas-batas bangunan di situs, mitigasi (struktural dan non struktural) serta kesiapsiagaan. Kedua, tahap responsif, melakukan penanganan proses evakuasi, identifikasi lokasi dampak gempa, penilaian cepat serta tanggap darurat awal. Ketiga, tahap pascagempa mengimplementasikan upaya pelestarian dan pemanfaatan dengan program pemulihan kembali (recovery) yang meliputi aspek fisik atau pemugaran kembali, pemanfaatan situs secara komprehensif dan organisasi pengelola yang representatif. Program pelestarian dan pemanfaatan di Situs Tamansari pada dasarnya harus dilakukan dengan berprinsip keberlanjutan, azas keseimbangan serta holistik, yaitu dengan mempertimbangkan nilai penting sumberdaya arkeologi, keterlibatan masyarakat, dan potensi masyarakat
Basically, earthquake is a phenomenon which can’t be predicted when it will happened, therefore study towards its risks is needed. Earthquake impact brings risks to various physical objects like group of buildings in Tamansari Site, as to social environment, and human. Earthquake disaster is external factor that gives big influences to construction solidity, that is causes kinds of damages, crack, fracture, structural deformation, as wll as collapse. The damages happen because some of the site and group of construction are still vulnerable to big scale earthquake shock. The various impact of earthquake in Tamansari Site need to be overcomed intensively, considering that archaeology resource has significance or essential value and limits charateristic, i.e non renewable resource. Intensive handling is carried out by executing conservation efforts toward Tamansari Site and its potential of archaeological resource reffering to Culture Resource Management (CRM). The presevation implementation is carried out by considering the policy direction and the conservation strategy, as well as the programs amphaizing on sustainabillity approach. Condition of earthquake impact, Tamansari Site tackling needs to be carried out applying approach which calculates disaster risk aspects covering some stages. First, pre-earthquake stage needs implements anticipation steps to handle the site by socializing various regulations, dangerous condition plotting of earthquake impact, construction delineation determining in the site, structural mitigation as well as non structural one, and preparedness. Twice, responsive stage is the stage which carries out evacuation process, location identification of earthquake impact, rapid assessment and early emergency reaction. Third, post-earthquake stage is the stage implementing preservation effort by recovery program which consist of physical aspect or re-restoration, making use of the site comprehensively and representative manager organization. The preservation of Tamansari Site basically has to be done by sustainability principle, balance and holistic basis, which are by considering essential value of archaeological resource, social-economic potential, and society involvement.
Kata Kunci : Situs Tamansari,Sumberdaya arkeologi,Pelestarian,manajemen sumberdaya budaya,Manajemen penanggulangan bencana,Mitigasi,Kesiapsiagaan,Nilai resiko, Tamansari Site – Archaeological Resource – Conservation – Culture Resource Management – Disaster Ris