Pemilik kebun dan penyadap karet Jalinana patronase dalam pengelolaan perkebunan karet rakyat :: Studi kasus di Desa Rantau Limau Manis, Jambi
PAHRUDIN HM, Prof. Dr. Tadjuddin Noer E
2008 | Tesis | S2 SosiologiRelasi sosial dalam bentuk patron-klien telah berlangsung lama dalam kehidupan manusia. Tidak mengherankan jika hampir tidak ada sektor atau aspek kehidupan manusia di bumi ini yang tidak tersentuh oleh pola hubungan seperti ini. Mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan beragam kelompok sosial masyarakat lainnya tidak luput dari pengaruh hubungan patronase ini. Para pakar mendefinisikan pola hubungan patron-klien sebagai relasi yang terjalin antara satu individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lainnya, di mana satu pihak berposisi sebagai patron atau atasan sedangkan pihak lain berposisi sebagai klien atau bawahan. Pola hubungan semacam ini dilakukan oleh para pelaku yang terlibat di dalamnya dengan cara melakukan pertukaran barang atau jasa yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang terlibat. Seorang patron biasanya memiliki sumberdaya yang sangat dibutuhkan oleh kliennya yang kemudian dipertukarkan, misalnya, dengan jasa tenaga yang dimiliki oleh kliennya tersebut. Pola hubungan semacam ini terus berlangsung meskipun keuntungan yang diperoleh oleh masing-masing pihak tidak sama, bahkan cenderung membuat pihak yang berposisi sebagai patron mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan kliennya. Penelitian ini memfokuskan pada upaya untuk menjawab pertanyaan; bagaimana pola dan bentuk hubungan patron-klien dalam pengelolaan perkebunan karet rakyat di Desa Rantau Limau Manis, Jambi dan apa saja yang menjadi faktor penentu keberlanjutan relasi patron-klien dalam pengelolaan perkebunan karet di desa ini? Dengan memfokuskan pada pertanyaan semacam ini maka penulis mendapatkan suatu kenyataan bahwa hubungan patron-klien yang terjadi dalam pengelolaan perkebunan karet rakyat di desa ini dilakukan dengan cara mempertukarkan sumberdaya perkebunan karet yang dimiliki oleh para pemilik kebun dengan jasa penyadapan yang dimiliki oleh para penyadap. Pola hubungan semacam ini terus berlangsung sehingga masing-masing pihak mendapatkan keuntungan, baik materi maupun non-materi, meskipun dari perspektif luar beragam keuntungan tersebut berat sebelah. Hal ini bukan tidak disadari oleh para pelaku yang terlibat di dalamnya, utamanya pihak klien, akan tetapi beragam keuntungan yang didapatkan tersebut sudah lebih dari cukup bagi mereka. Meskipun demikian, penulis mendapatkan suatu realitas bahwa terdapat empat faktor yang menjadi penentu keberlanjutan pola hubungan semacam ini; terbatasnya pekerjaan alternatif, tingginya harga jual karet di pasaran, sistem feodal paternalistik yang berlaku di masyarakat dan penguasaan perkebunan karet oleh kalangan tertentu. Keempat ini penentu saling berkaitan satu dengan yang lain sehingga pola relasi patronase terus bertahan dan berkembang dalam masyarakat.
Social relation in the form of patron-client has been living long time in the live of human. It is not wondering if there is almost no a sector or an aspect of human live in the earth that is not touched by these relational patterns. From agricultural, holticultural, fishing sectors, and other social groups, they are also influenced from this patronage relation. Many experts define the relational pattern of patron-client as the integrated relation between individual each other or groups and individuals or other groups where one party positions as a patron or a boss while the other party position as a client or a staff. This relational pattern has been done by many people involved in it through goods or services exchanging. A patron usually has resources very needed by their clients. Soon after that they exchange them whith the other goods or services owned by them, for instance. This relation pattern has been living though their benefits obtained are not same. Even it tends making a party positioning as a patron getting benefits more than their client. This research focuses on the efforts to answer the questions: how are the pattern and form of patron-client relation in managing rubber holticultural in the village of Rantau Limau Manis, Jambi and what ever become the determining factors of the continuing patron-client relation in managing rubber agricultural in this village? By focusing on the question, writer gets the fact that patron-client relation in managing the rubber agricultural in this village in done by exchanging the garden owner’s resources of rubber holticultural with the rubber wiretapping services from a rubber wiretapper. This relational pattern has been living until they get the benefits respectively, both material and non-material. Though from the outside perspective, they are unbalance, but people involved, especially the client aspect, in this business are not aware. Even they get more benefits from them. However, writer find the fact that there are four factors becoming determiner of their continuing of this relational pattern; the limiting of alternative jobs, the expensive of rubber price, the applying of paternalistic feudal system in the society and the mastering of rubber holticulturtal from certain people. These four determining factors are related each other so that the relational pattern of patronage have been still standing and developing in the society until now.
Kata Kunci : Pemilik kebun dan penyadap karet,Manajemen perkebunan,Hubungan/ jalinan patronase