Sistem nilai budaya masyarakat urban terhadap pendidikan :: Studi tentang putus sekolah, tinggal kelas dan tidak dapat melanjutkan sekolah formal di jenjang pendidikan dasar pada rumah tangga Madura urban di Kelurahan Wonokusumo Kota Surabaya
MARDLIYAH, Sjafiatul, Dr. Suharko
2008 | Tesis | S2 SosiologiProgram wajib belajar 9 tahun yang sudah berjalan selama ini ternyata masih menyisakan persoalan, bahwa sebagian anak-anak dari rumah tangga Madura urban belum tersentuh dengan program tersebut. Kondisi di atas membuktikan bahwa antara harapan dan kenyataan tidak berjalan beriringan. Secara umun dipahami bahwa penyebab terjadinya putus sekolah, tinggal kelas, dan tidak dapat melanjutkan sekolah formal pada jenjang pendidikan dasar adalah faktor tekanan ekonomi. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Ada dugaan bahwa terdapat faktor budaya yang berpengaruh terhadap fenomena tersebut. Perhatian utama penelitian ini adalah pada: (1) Bagaimana kondisi putus sekolah, tinggal kelas, dan tidak dapat melanjutkan sekolah formal di jenjang pendidikan dasar pada rumah tangga Madura urban di Wonokusumo? (2) Bagaimana sistem nilai budaya berpengaruh terhadap pola orientasi pendidikan pada rumah tangga Madura urban di Wonokusumo sehingga menyebabkan terjadinya putus sekolah, tinggal kelas, dan tidak dapat melanjutkan sekolah formal di jenjang pendidikan dasar? Pendekatan kualitatif fenomenologi digunakan peneliti untuk menjawab permasalahan di atas. Untuk mengeksplor dan mendeskripsikan permasalahan secara mendalam peneliti juga menggunakan pendekatan critical instance case studies dengan alasan karena wilayah Wonokusumo merupakan salah satu kawasan di bagian Surabaya Utara yang paling padat dihuni oleh komunitas Madura. Observasi dan wawancara mendalam dilaksanakan untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Informan utama dalam penelitian adalah rumah tangga Madura urban yang memiliki kriteria anak (1) masih menempuh pendidikan dasar yang pernah tidak naik kelas atau tinggal kelas. (2) droup-out di jenjang pendidikan dasar. (3) tidak bisa meneruskan ke jenjang sekolah menengah pertama. Informan lain adalah guru, kepala sekolah, serta tokoh masyarakat. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari data primer dan data sekunder. Proses analisa data dilakukan melalui tahapan-tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan utama pendidikan, khususnya bagi anak-anak usia pendidikan dasar, pada rumah tangga Madura urban di Wonokusuma adalah masalah sistem nilai budaya. Masalah tersebut semakin komplek, karena kondisi perekonomian mereka yang berada di bawah garis kemiskinan dan sulitnya kebijakan pembangunan pendidikan menyentuh pada komunitas mereka. Kondisi putus sekolah, tinggal kelas dan tidak dapat melanjutkan sekolah formal pada jenjang pendidikan formal, merupakan persoalan yang muncul akibat dari sistem nilai yang terbangun dari kehidupannya di daerah asal mereka, khususnya Madura pedalaman. Sistem nilai tersebut terbangun atas ajaran Islam lokal Madura yang lebih mempercayai kyai sebagai pemegang otoritas kehidupan masyarakat dan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menjadi tumpuan utama pendidikan mereka. Oleh karena itu, mereka masih belum meyakini sepenuhnya bahwa pendidikan formal yang dibangun pemerintah dapat berfungsi sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas anak. Melihat kondisi tersebut, maka diperlukan suatu upaya untuk melakukan transformasi sosial dengan pendekatan local wisdom (kearifan lokal), yaitu memposisikan pembelajaran yang disesuaikan dengan sistem nilai budaya masyarakat yang sudah terbangun, sehingga pendidikan dilaksanakan dengan cara yang manusiawi, mengembangkan potensi, menjawab persoalan dan menciptakan kemandirian masyarakat.
The program of nine-years education completion which has been running so far, is still troubled by the fact that some children coming from urban Maduranese families have not been touched by the program. The phenomenon proves that the hope and reality cannot run hand in hand. Overally, it can be concluded that actually the main cause of study on school drop-out, class-skipping, and inability to continue to high school level is economic factor. Nevertheless, cultural factor also contribute significant role in the occuring trouble. The study therefore aims to investigate (1) describe the phenomenon of school drop-out, class-skipping, and inability to continue to high school level in urban Maduranese families in Wonokusumo; (2) explain how cultural value system infleunces educational orientation model on urban Maduranese families in Wonokusumo so that school drop-out, class-skipping, and the inability to continue to high school level. Qualitative approach was applied to answer the research questions above. In order to explore and describe the occuring phenomenon deeply, the researcher also implemented critical instance case studies due to the fact that Wonokusumo is one of Northern Surabaya area which is densely-occupied by Maduranese community. Observation and instrument were conducted to collect the data needed. The main informant in this research is the group of Maduranese families raising children who (1) ever have class-skipping and are still studying at primary level; or (2) have ever dropped-out from school; or (3) cannot continue their study to high school level. Other informants are teachers, headmasters, and public figures. The data were classified into primary and secondary data. The data analysis was processed through several data reduction phases, data presentation and verification. The result of this research shows that the main problem of education, especially in primary level, on urban Maduranese families on Wonokusumo is cultural value system. The problem is getting more complex because their financial condition is below the poverty line and the difficulty of educational provision to reach them. The phenomena of school drop-out, class-skipping, and inability to continue the study to high school level, are problems coming up from value system made up from the original lives, especially Madura remote area. The value system was constructed upon local Maduranese Islamic teachings which believe more to their kyai (Islamic religious leaders) as the top authority on people’s life and to pesantren (Islamic boarding schools) as the educational institution as their educational dependant. Therefore, they haven’t entrusted and realised that formal education founded by the government can function as a means to improve their children’s quality. Based on the fact, the efforts to conduct social transformation with local wisdom approach is badly needed, i.e. to make use of educational learning which has been adjusted with developed social-cultural value system, so that educational program can run with humanistic ways, develop children’s potential, solve the problems, and create social undependability.
Kata Kunci : Nilai budaya masyarakat,Jenjang pendidikan dasar,Tekanan ekonomi,Pola orientasi pendidikan rumah tangga