Masyarakat sipil dan pembangunan :: Studi tentang peran Nahdlatul Wathan dalam pembangunan daerah Nusa Tenggara Barat
DARMAWAN, Lalu, Dr. Suharko
2008 | Tesis | S2 SosiologiSetelah reformasi Indonesia 1998, keadaan jauh berubah, proses demokrasi sedang berlangsung, walaupun masih dinilai demokrasi yang diselenggarakan hanya sebatas demokrasi formal dan prosedural. Kekuasaan tidak lagi tunggal di tangan ekskutif. Legislatif yang selama Orde Baru di bawah kendali ekskutif sekarang sudah mulai membenahi diri. Sembari reformasi telah membawa implikasi perubahan di sektor politik, tetapi perbaikan-perbaikan di bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial belum terpenuhi. Karena itu, harapan untuk mewujudkan perbaikan kepada sektorsektor tersebut sangat diharapkan dari semua kalangan masyarakat melalui perkumpulan-perkumpulan, asosiasi dan organisasi kemasyarakatan untuk menciptakan solusi dari semua persoalan yang ada. Organisasi masyarakat (Ormas) sebagai gerakan sosial diharapkan tampil dalam upaya pemberdayaan selagus sebagai mediasi kebijakan negara yang berbasis masyarakat.. Atas dasar itulah, penelitian ini berupaya mengkaji kiprah Ormas dalam usaha mewujudkan visi dan cita-cita tersebut dengan memfokuskan pada Ormas Nahdlatul Wathan tentang: bagaimanakah peran Nahdlatul Wathan sebagai organisasi civil society dalam upaya pembangunan daerah Nusa Tengara Barat? Penelitian ini dirancang dengan model penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data primer yang di peroleh dari hasil proses indepth interview, observasi dan partisipasi didukung dengan data sekunder yang diperoleh melalui proses pengumpulan catatan-catatan, yang berkaitan dengan kepentingan dan validitas penelitian. Nahdlatul Wathan sebagai organisasi civil society menyelenggarakan upaya pembangunan daerah dilakukan melalui tiga paket program yaitu bidang pendidikan. Malalui bidang pendidikan NW menyelenggarakan pendidikan secara terbuka dan dapat dengan mudah diakses bagi semua lapisan masyarakat, bidang sosial menyelenggarakan pemberdayaan terutama di sektor ekonomi masyarakat dan bidang dakwah melakukan kontrol mental masyarakat di tengah arus kuatnnya pesaingan usaha bisnis yang mengarah para muncul hedonisme masyarakat. Selain itu, NW tidak berafiliasi dengan organisasi dan partai politik manapun, tetapi NW tidak begitu saja apriori. NW melakukan kompromi positif demi menyelenggarakan pemberdayaan masyarakat sebagai visi dan cita-cita civil society dengan tetap mengusung trilogi paradigma yaitu yakin, ikhlas dan istiqamah. Yakin iman taqwa sebagai ideologi hidup, bekerja ikhlas semata-mata demi melaksanakan kewajiban, dan istiqamah sebagai upaya mempertahankan hasil kerja dan dijadikan sebagai manifesto orientasi dinamis. Adanya hubungan antara NW dengan negara dapat melahirkan sinergitas simbiosis mutualistis. Posisi NW yang cenderung kooperatif dengan negara daripada melakukan langkah-langkah konfrontatif diyakini sebagai sikap yang tepat ditengah persoalan bangsa yang multidimensional. Era reformasi dalam keyakinan NW sepatutnya tidak diisi dan diolah bebas lepas tanpa kontrol. Membangun hubungan yang saling mendukung (complementary) adalah upaya dewasa untuk menciptakan bangsa bermasyarakat modern.
Since Indonesia’s reform in 1998, there was a big change. Democratization process is on going, although still in formal and procedural level. The Authority doesn’t seem to be in the single hand of the executive anymore. In the new order legislative was run under the power of executive, now they are trying to reform their institution. The reformation has brought changes in economy and politic but there is no improvement on the economy, education and social life. The community in fact want to improve those aspects trough community organizations or association as a solution of the problems. Society organizations as movement hopefully would empower community also strengthen civil society. This research is trying to explore the function of mass organization in order to aim their goals by focusing in mass organizations of Nahdlatul Wathan to see what they are doing to empower the community in practice. This research is a explorative and analytical research. The primary data has collected by in-depth interview process, observation, and participation supporting by secondary data trough critical review, documentation and validation related to the research. Nahdlatul Wahtah as civil society of organisation conducted civil society empowerment in three big packages; Education, Social and missionary endeavour. Their responses in the political situation were not apathetic. Nahdlatul Wathan committed not to affiliate to any political party, but it doesn’t mean for them to be priory. They did positive compromise in order to aim their goal trough their three paradigm, they are; Yakin, Ikhlas and Istiqamah. Sure that faithful in Allah as life ideology, work with all of heart soul only to do their obligation, and Istiqamah in faith their result of the work as dynamic orientation. The relation between Nahdlatul Wathan dan the state would bring a synergy “symbiosis mutualismsâ€. Their position seems to be cooperative to the state rather then trying to confront, this to show an adult attitude in the middle of problems of the state. Reform order according to the Nahdlatul Wathan doesn’t mean to be free or out of control. To develop a positive relationship or complementary is wiser to create modern society.
Kata Kunci : Organisasi masyarakat,Civil society,Pemberdayaan masyarakat, Organization Civil Society, Society Empowerment