Laporkan Masalah

Ketahanan sosial masyarakat Surakarta :: Studi kasus tentang strategi etnis Tionghoa Surakarta dalam menciptakan ketahanan sosial masyarakat Surakarta

BUDIATI, Atik Catur, Prof. Dr. Susetiawan

2008 | Tesis | S2 Sosiologi

Pergulatan etnis Tionghoa Surakarta telah ada sejak lama, mulai dari zaman penjajahan Hindia Belanda hingga sekarang. Dari sekian waktu itu selalu terjadi konflik antara etnis Tionghoa dengan etnis Jawa di Surakarta. Karena itu, etnis Tionghoa sebagai etnis minoritas harus mencari strategi sosial guna menciptakan kekuatan dan pengembangan etnis di masyarakat sekitar. Dan kesempatan untuk mengembangkan diri itu hanya diperoleh pada kekuatan bisnis atau perdagangan. Tetapi, kekuatan bisnis ekonomi Tionghoa ini dijadikan alat politik kekuasaan yang menyebabkan pada kerusuhan anti Tionghoa. Dan puncaknya terjadi pada kerusuhan Mei 1998. Menariknya, etnis Tionghoa di Surakarta tetap bertahan di tengah-tengah isu anti Tionghoa yang seolah-olah terus menerus direproduksi. Untuk itu, penelitian ini mengambil masalah utama strategi etnis Tionghoa dalam menciptakan ketahanan sosial masyarakat Surakarta. Strategi ini dilihat dari 3 hal yaitu ada tidaknya sistem perlindungan bagi keberadaan etnis Tionghoa, ada tidaknya jaringan investasi sosial yang menguntungkan, dan ada tidaknya mekanisme untuk mengurangi sumber-sumber konflik. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus analisa situasional karena Kota Surakarta merupakan daerah yang sering terjadi kerusuhan anti Tionghoa. Adapun teknik pengumpulan data melalui wawancara baik berstruktur maupun tidak berstruktur, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan teknik pengambilan informan menggunakan purposive baik etnis Tionghoa maupun etnis Non Tionghoa termasuk tokoh masyarakat, akademisi dan pemerintah. Berdasarkan dari data yang dikumpulkan, pertama, adanya sistem perlindungan yang dibangun oleh etnis Tionghoa Surakarta melalui penguatan identitas kelompok sosial yang selama ini terpecah belah dan juga adanya kesadaran untuk aktif berorganisasi sosial kemasyarakatan bahkan di dunia politik (terciptanya kohesi sosial). Karena kemapanan ekonomi yang selama ini mereka miliki belum dapat menjamin keberlangsungan hidup etnis Tionghoa di Surakarta. Kedua, meskipun begitu salah satu strategi bertahan etnis Tionghoa Surakarta adalah melalui kemapanan ekonomi dengan menguasai tempat-tempat strategis sebagai sarana berinvestasi sosial yang menguntungkan bagi penguatan modal sosial. Ketiga, strategi bertahan etnis Tionghoa adalah mengurangi sumber konflik yang dapat muncul kembali dengan menciptakan ruang publik yang menggambarkan budaya khas Tionghoa seperti Imlek dan Cap Go Meh yang digunakan sebagai sarana berkomunikasi dengan berbagai elemen dalam masyarakat yang memiliki kepentingan budaya yang berbeda. Ketiga hal tersebut merupakan strategi etnis Tionghoa Surakarta dalam menciptakan ketahanan sosial masyarakat Surakarta.

Struggle of Tionghoa ethnic in Surakarta have been a long time ago, start from epoch colonization of Indies Dutch until now. From that time, there always happened conflict between Tionghoa ethnic and Java ethnic in Surakarta. For that reason, Tionghoa ethnic as a minority ethnic have to look for social strategy to create strength and development of ethnic in society. The opportunity to developing is only obtained at strength of commerce or business. But, strength of economic business of Tionghoa is become by political equipment to power causing of riot resistant to Tionghoa. And riot of May 1998 is its culminate. Its interesting, Tionghoa etnic in Surakarta still have resilienced in the centre of issue resistan of Tionghoa which is continuously reproduced. For that reason, this research take ethnical strategy of Tionghoa in creating society social resilience of Surakarta. This strategy is seen from 3 matter. First, there is do not a protection system to ethnical existence of Tionghoa. Second, there is do not a beneficial social investment network. Third, there is do not a mechanism to reduce the source of conflict. This research use approach of case study analyse situasional because Surakarta represent area which often happened riot of resistant Tionghoa. As for data collecting technique is through good interview which have structure and also not have structure, observation, and documentation. Technique intake of informan use ethnical good purposive like a Tionghoa ethnic and Non Tionghoa ethnic including elite figure, academic, and government. Based from collecting data, first, there is a protection system which is developed by its Tionghoa ethnic in Surakarta through reinforcement of social group identity. Also, there is awareness to active in social organization even in politic world (it is create a social cohesion). Because of economics setlled condition have not yet earned to guarantee to take place ethnical life of Tionghoa in Surakarta. Second, even though of its, strategy of Tionghoa ethnic in Surakarta is through economics setled condition with to dominate strategic places as a medium social invesment. This matter is used to reinforcement of social capital. Third, strategy of resilience Tionghoa ethnic reduce the source of conflict by creating public room which describe of Tionghoa culture like Imlek and Cap Goh Meh. It is used as a medium communicate with various element in society which have a different culture. The mentioned of its is representing strategy of Tionghoa ethnic in Surakarta to create society social resilience in Surakarta.

Kata Kunci : Ketahanan sosial,Kohesi sosial,Modal sosial,Konflik sosial,Social Resilience,Social Cohesion,Social Capital,Social Conflict


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.