Keterlibatan kiai dalam pilkada :: Studi kasus pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006
SUBIYAKTO, Rudi, AAGN Ari Dwipayana, M.Si
2008 | Tesis | S2 Ilmu PolitikPenelitian ini bertujuan untuk memotret keterlibatan Kiai dalam pilkada Banjarnegara 2006. Kiai sebagai tokoh masyarakat tidak hanya memiliki “aura†atau kharisma dalam hal agama saja. Kiai juga memainkan peranan yang cukup siginfikan dalam wilayah politik. Lebih dari itu, keragaman atau kompleksitas Kiai dalam berpolitik tidaklah tunggal. Artinya, Kiai tidak hanya menjadi tokoh atau panutan dalam hal agama saja, melainkan, mempunyai peran yang cukup signifikan dalam perkembangan demokratisasi di Indonesia. Realitas sosial berdimensi historis, kultural dan interaksionis, seperti dalam kasus penelitian ini, lebih tepat untuk diteliti dengan menggunakan metode kualitatif. Dipilihnya metode kualitatif ini didasarkan pada konsep hubungan dialektik dalam interaksi sosial antara elit lokal (Kiai) dengan masyarakat. Hasil penelitian ini setidaknya menemukan dua aliran politik Kiai, pertama, Kiai sebagai aktor. Yaitu Kiai yang masuk dalam partai politik tertentu dan menjadi tim sukses pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Aktivitas politik yang mereka lakukan adalah dengan mengenalkan pasangan calon yang didukung kepada masyarakat melalui mimbar-mimbar agama. Para Kiai juga tidak sungkan mengajak pasangan calon dalam setiap agenda sosial kemasyarakatan baik yang diselenggarakan oleh masyarakat sendiri ataupun pihak pesantren. Kedua, Kiai sebagai partisipan. Yaitu mereka yang sebenarnya sudah masuk kedalam partai politik tertentu dan namanya tercantum dalam tim sukses. Namun, mereka tidak secara terbuka mengkampanyekan pasangan calon yang didukung. Kiai ini berpandangan bahwa masyarakat pada dasarnya akan mengetahui dan mengikuti dengan sendiri mengenai pilihan politik Kiai. Kiai model ini juga mempersilahkan dan mendorong mesin politik (kader partai) bergerak lebih banyak dari pada dirinya. Hal ini agar peran Kiai sebagai pemimpin agama tetap terjaga dengan baik. Namun demikian, model Kiai seperti tidak mencari keuntungan pragmatis. Mereka tetap hanya menerima (kalau toh ada yang memberi) bantuan dari pasangan calon yang mereka dukung. Sedangkan dampak keterlibatan Kiai dalam pilkada di Kabupaten Banjarnegara tahun 2006 dapat dibagi menjadi 3 hal, dampak bagi kandidat, bagi Kiai dan dampak bagi santri: Bagi kandidat, dengan merangkul Kiai diharapkan akan mendapatkan dukungan suara yang signifikan dari para pengikut Kiai di Banjarnegara, hal ini sangat bergantung pada â€kinerja†Kiai pendukung kandidat; Kiai akan mendapatkan keuntungan berupa jaminan bantuan dana bagi pembangunan dan pengembangan pesantren yang dipimpinnya. Tetapi meskipun tidak signifikan, keterlibatan Kiai dalam kancah politik lokal tersebut berpengaruh terhadap proses pembelajaran karena aktifitas Kiai tersebut menyebabkan sering meninggalkan pesantren yang dipimpinnya; dan bagi santri, perubahan dan penambahan berbagai fasilitas pesantren yang berasal dari bantuan para kandidat disini sangat membantu kegiatan belajar mengajar di pesantren.
This research was intended to describes Kiai’s (Moslem scholars) involvement in regional head election (PILKADA) of Banjarnegara in 2006. Kiai as social figures not only has charisma in religion case but also played the significant roles in politic case. Moreover, Kiai has various roles in political activities. Kiai is not only as religious figures but also has the significant role in Indonesia democratic development. Social reality has historical dimension, cultural dimension and interaction dimension such as the problems in this research are suitable to use the qualitative method. This is based on dialectic relation concept in social interaction between Kiai and society. The result of this research is find two line politic of Kiai. The first, Kiai as the actor. It means, Kiai who is join in some political party and became advocate team to district head (Bupati) and district head’s deputy (wakil Bupati) aspirant. Their political activities are to expose the district head (Bupati) and district head’s deputy (wakil Bupati) aspirant to the society through religious activities. The Kiai also dare urge the couple aspirant, who is supported by them, to join in the social activities which are held both the society and the boarding school (pesantren). The Second, Kiai as a participant. It means, they have joined some political party and they became advocate team. However, only implicitly they launch a campaign for the couple aspirant, who is supported by them. They think, in fact, the society will know and follow by themselves about the Kiai political choice. This Kiai figures also urge the political members to move much more than themselves. This case, in order to keep the good role of the Kiai as the religious leaders. However, This Kiai is not looking for pragmatism advantages. They, of course, accept only the aid (if anyone is giving) from the couple aspirant, who is supported by them. Whereas, the impact of Kiai involvement in regional head election (PILKADA) of Banjarnegara in 2006, can be divide in 3 case: the impact of the district head (Bupati) and district head’s deputy (wakil Bupati) aspirant, the impact of Kiai and the impact of santri (students at traditional Moslem School). The impact of the district head (Bupati) and district head’s deputy (wakil Bupati) aspirant, join with Kiai, is hope the supporting votes from the follower’s Kiai of Banjanegara, this case, depend on “work hard†of the Kiai’s advocate of a couple aspirant. Kiai will get the profits, that is helping financial to the reconstruction and development of boarding schools, which are leaded by them. However, in few case, the involvement of Kiai in local politic areas has influence in learning process, because the Kiai activities are often leave the boarding school. Then, the impact of santri have changed and added several boarding school facilities of the aid district head (Bupati) and district head’s deputy (wakil Bupati) aspirant and this is very significant to help learning process activity in boarding school.
Kata Kunci : Kiai,Keterlibatan politik, Kiai and Kiai’s involvement