Sikap petani terhadap program agropolitan berbasis jagung yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Gorontalo
MUSA, Farid TH, Drs. Rahardjo, M.Sc
2008 | Tesis | S2 SosiologiDalam rangka pelaksanaan Undang-undang nomor 22 tahun 1999 yang telah disempurnakan dalam Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah, Pemerintah Propinsi Gorontalo mencanangkan program agropolitan berbasis jagung. Dalam program ini, pemerintah memperkenalkan sistem pertanian modern yang berdasarkan inovasi teknologi pertanian. Disisi lain, sistem pertanian tradisional yang telah lama dilakukan petani, menggunakan sumber daya yang terdapat disekitar kehidupannya. Perbedaan sistem pertanian modern dan sistem pertanian tradisional, menimbulkan fenomena yang berbeda antara budidaya jagung unggul yang dianjurkan pemerintah, dengan realitas penggunaan lahan pertanian oleh petani di Kecamatan Tilongkabila. Sesuai observasi awal, terdapat fenomena petani menanam jagung lokal dan tidak melaksanakan anjuran pemerintah untuk membudidayakan jagung hibrida. Realitas ini dikaitkan dengan sikap petani terhadap program pemerintah berbasis jagung, sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apa yang menyebabkan petani tidak merespon program agropolitan berbasis jagung yang dicanangkan Pemerintah Propinsi Gorontaloâ€. Untuk menjawab masalah dalam penelitian ini, digunakan jenis penelitian deskriptif dan menggunakan metode survei. Dalam penelitian ini, pengumpulan data primer dilakukan dengan menyebarkan angket yang telah ditentukan jawabanya, dan melakukan wawancara untuk memperkecil kesalahan dan memperoleh jawaban yang mendalam. Selain data primer, juga dilakukan pengumpulan data sekunder yang terkait dengan luasan pertanian lahan kering, jumlah penduduk, dan fasilitas yang terdapat di Kecamatan Tilongkabila. Berdasarkan hasil penelitian, program agropolitan berbasis jagung yang menggunakan sistem pertanian modern, dirasakan oleh petani sangat memberatkan dan membutuhkan biaya yang tinggi serta resiko kerugian yang besar, apabila gagal panen. Upaya menghindari resiko tersebut, petani memilih untuk menanam jagung lokal yang dianggap “Mootame Polango†artinya dapat “mengatasi rasa laparâ€. Prinsip “mootame polangoâ€, identik dengan prinsip “dahulukan selamat†yang melekat pada pertanian subsistensi, bahwa pengolahan lahan pertanian ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan bukan untuk memperoleh keuntungan dari usaha taninya.
In understanding of real autonomy the government of Gorontalo Province reconstruct the implementation of UU 22 1999th be the new deal with new regulation, that is UU 32 2004th The government of Gorontalo Province recognizes the Agropolitan issue which base corn as the core commodity. In this program the government set up the new system of agriculture based on technological innovation. In other side a traditional agriculture being the old conception. It is described when the farmers still using the natural resources. The differentiation of modern agriculture system and a traditional system is present a different phenomenom in quality corn empower based on the program of government. This issue is attempt for the usefulness crop growing with the falmers in Tilongkabila regency. Based on the first observation it is appear the old phenomenon, when farmer plant a local corn with did not doing the government role for empowering a hybrid corn. This reality is related with the government way in a great program based on a corn. Based on some reason above, the problem statement in this research is what makes the farmer did not response the Agropolitan based on corn, like the issue declared by the government of province Gorontalo? Answering the problem in this research, the researcher using the descriptive method and also using a survey way. In this research , the collecting primer data doing with questioner spread that enclosed the answer of question, and the researcher also did interview for reduce the fault in primer data. Beside a primer data, also the researcher collects a secunder data that related with posses a dry soil, inhabitant, and all infrastructures in Tilongkabila regency. Based on the result of this research, agropolitan program base on corn that using a modern agriculture system it is strictly hard for farmer because the cost for its system and the risk it. The effort to avoid from the risk is the farmer choose to plant a local corn that assume “mootame polango†it means “a hungry solving†the principle of “mootame polango†identically with the principle of “save priority†that inherent with the substance of agriculture, it is the organizing of agriculture is aim for the solve of family necessity and it is not to get a profitable from agriculture business.
Kata Kunci : Sikap,Petani,Jagung,Pemerintah,The farmers,Attitude,Agropolitan,Corn