Laporkan Masalah

Masalah anak putus sekolah di Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunungkidul

MUCHDIHARTO, Dwi Agus, Drs. S. Djuni Prihatin, M.Si

2008 | Tesis | S2 Sosiologi

Dalam kerangka pembangunan bangsa, pengembangan sumberdaya manusia merupakan salah satu upaya strategis pembangunan nasional. Program pendidikan dasar 9 tahun merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan berkembangnya sumberdaya manusia tersebut. Program ini dilaksanakan untuk mewujudkan suatu masyarakat Indonesia yang terdidik minimal memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar yang esensial. Kemampuan dasar ini diharapkan dapat digunakan para lulusan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau dijadikan bekal untuk menjalani hidup dan menghadapi kehidupan dalam masyarakat. Kemampuan dasar ini dapat digunakan masyarakat dalam memilih dan memanfaatkan produk-produk berteknologi tinggi, mengadakan interaksi dan kompetisi antar warga masyarakat, kelompok dan antar bangsa. Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yaitu enam tahun di jenjang SD/MI sederajat dan tiga tahun di jenjang SMP/MTs sederajat, memerlukan penganan yang serius dan melibatkan berbagai pihak. Sampai saat ini program tersebut dapat dikatakan sudah mendekati target tuntas paripurna yang di tetapkan oleh pemerintah yaitu selesai pada tahun 2009. Penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun sampai saat ini masih menemui beberapa kendala (hambatan). Hambatan tersebut salah satunya adalah adanya anak putus sekolah. Anak putus sekolah walaupun jumlahnya hanya sedikit namun apabila dibiarkan saja akan menjadi ”duri dalam daging” bagi keberhasilan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun walaupun sulit untuk menjadikan 0 (nol) % angka putus sekolah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif diskriptif, dengan mengambil lokasi di lima sekolah yaitu dua SD Negeri, satu SD Swasta, satu SMP Negeri dan satu SMP swasta. Selain melalui teknik observasi dan teknik dokumentasi, data juga di dapat melalui teknik wawancara dengan informan baik dari kepala sekolah, guru kelas/wali kelas, orang tua siswa dan siswa putus sekolah. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa salah satu penyebab dari anak putus sekolah adalah faktor sosial ekonomi orang tua siswa dan motivasi anak untuk sekolah yang masih rendah. Sedangkan keterlibatan dari pemerintah (pemberian beasiswa dan Bantuan Operasional Sekolah) cukup besar terbukti dari semua informan memberikan harapan yang sangat besar terhadap kelangsungan subsidi dari pemerintah terhadap jalannya pendidikan.

In the form of Nation development, the development of human resource is on of the Nation development strategic effort. The 9 th basic compulsary program is one of the goverment’s effort to realize the human resourse development. This program is development to realize an educated of Indonesian society. Wich is at least has knowledge and the essential of basic skills. Hoperlly, this basic ability can be used to the graduations to continue their study to the higher level of education or to provide their self to life and to face living in the society. This basic ability can be used by society to choose and to use the high product of technology, to make some interaction, and to complete in the society group or interlational. The nine year gosil educational compulsary program, that are six years in elementary level (SD/MI and the like) and three years in junior high level (SMP/MTs and the like), needs the seniors handling and it involves many partics. The program can be said almost reach the target determined by government ends in 2009. Student dropped out of school; althougt they are only few students: if we do not give them any attentim, will be thorn for the success of the program.They can prick it inside. We cannot neglect them, thought it is imposible to make it 0 %. This rescarh on this is done by using descriptive qualitative approach. Ich research takes five locations in five school. They are two state elementary school, one private elementary school, one state junior high school and one private junior high school. Besides using observation and documentation technique, data are also taken through interview with some informants, such as the headmasters, teachers/class supervisors, the parents and the dropped out student them selves. The rescarch shows that the parent and dropped out students are socioleconomic factor of the parents and the students low motivation to school. On the hand, the government’s involmentis highly proved from the informant who gove great expectations to the coninuity of subsidy from the government to education.

Kata Kunci : Putus sekolah,Ekonomi orang tua,Motivasi anak untuk sekolah, drop out, parents economy, student motivation to shooll


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.