The son of the mosque :: Religious commodification within social relationship between Kyai and Madurese workers in Malaysia
SIDDIQ, Akhmad, Prof. Dr Irwan Abdullah
2008 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaTesis ini mencoba mengungkap proses komodifikasi agama dalam relasi sosial antara kyai dan tenaga kerja Madura di Malaysia, terutama melalui aktivitas pengajian yang diadakan kyai di kongsi-kongsi (perumahan sementara) tenaga kerja asing di Malaysia. Proses komodifikasi agama ini bisa dilihat embrionya dari keberangkatan kyai ke Malaysia, guna mencari dana bagi institusi-institusi keislaman, seperti pesantren, madrasah, dan masjid. Menggunakan kapital agama, para kyai merancang aktivitas-aktivitas keislaman selama kunjungan mereka di Malaysia. Untuk menjaga hal itu, mereka senantiasa melestarikan habitus ke-kyaian, garis keturunan, dan kekuatan kharisma. Komodifikasi agama biasanya diproduksi dalam konteks budaya tertentu. Hal ini meniscayakan pemahaman yang komprehensif tentang batas-batas budaya. Bersembunyi di balik kesucian nilai-nilai agama, kyai yang datang ke Malaysia menggunakan simbol-simbol agama untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan ekonomis. Kyai memahami betul arti penting otoritas keagamaan; atribut, simbol, dan ritual keagamaan adalah faktor yang sangat penting untuk melanggengkan pengaruh (influence) para kyai dalam kehidupan tenaga kerja Madura. Seperti kita ketahui, dalam struktur sosial masyarakat Madura kyai masih merupakan simbol kekuatan kharismatik karena peran sosio-historis mereka, terutama dalam ranah agama. Zamakhsyari (1982) mendefinisikan kyai sebagai sosok yang memiliki pesantren dan mengabdikan dirinya untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Iik Arifin Mansurnoor (1990) membagi kyai Madura dalam dua kelompok: (1) kyai lokal (local kyai) dan (2) kyai supra-lokal (supra-local kyai). Kyai supra-lokal memiliki koneksi yang lebih luas dan status yang lebih tinggi dalam masyarakat; mereka memiliki akses terhadap pemerintahan, lembaga dana, atau individuindividu dermawan. Tidak seperti kyai supra-lokal, kyai lokal mempunyai hanya koneksi yang terbatas; sulit untuk mencari dana pengembangan pesantren atau madrasah yang mereka kelola. Akhirnya, sebagian dari mereka pergi ke Malaysia untuk mencari dana, dengan cara, misalnya, mengadakan pengajian. Tesis ini memadukan hasil observasi-partisipatif (participant observation) dan wawancara mendalam (in-depth interview) yang dilakukan selama satu-bulanpenelitian di Kuala Lumpur dan Selangor. Dua lokasi ini adalah kantong terbesar tenaga kerja Madura bekerja di Malaysia. Selain itu, data-data di dalam tesis ini diramu dari penelitian selama dua bulan di Pamekasan, Madura serta data-data pustaka lainnya. Sebagai konklusi, tesis ini menggarisbawahi adanya praktik komodifikasi agama dalam relasi sosial antara kyai dan tenaga kerja Madura di Malaysia. Salah satu pertimbangan utama kepergian kyai ke Malaysia adalah profit. Moralitas dan religiusitas menjadi faktor sekunder. Tesis ini adalah sebuah upaya untuk menyibak apa yang ada di balik layar, sesuatu yang tersembunyi, yang terselubung dalam ruang-ruang dakwah atas nama agama. Merujuk pada Bourdieu, di sinilah religious enterprise (firma agama) itu terlihat menjadi nyata.
This thesis attempts to describe manners of religious commodification within social relationship between kyai and Madurese workers in Malaysia, especially through Islamic preaching performed at the kongsi (provisional housing of migrant workers in Malaysia). The process begins from kyai’s visit Malaysia to collect money for their Islamic institutions, e.g. pesantren, madrasah and mosques. Using religious capitals, kyai, as religious leader, perform any Islamic activities amongst Madurese communities in Malaysia to achieve their economic interests. In doing so, kyai consistently keep the habitus of kyai-ship and reveal the lineage, the power of charisma. Religious commodification is usually produced in a specific cultural context, and thus, it requires a comprehensive understanding of its cultural boundary. Hiding behind the purity of religious teachings, the kyai coming to Madurese worker communities in Malaysia, use religion as a symbolic capital to get their economic purposes. Kyai profoundly know the significant effects of having religious authority; religious attributes, symbols and rituals are very important to maintain their influence in Madurese worker’s life. In the social structure of Madurese, kyai have charismatic power because of their role in Madurese sosio-history, namely in religious realm. According to Zamakhsyari (1982), kyai are leader of pesantren (Islamic boarding school), who dedicate their life to teach Islamic values. Iik Arifin Mansurnoor (1990) classified Madurese kyai into (1) local kyai and (2) supra-local kyai. Supra-local kyai have a bigger role and higher status in the society, so they have a wider connection than local kyai to develop pesantren; find an access to the government, foundations, or wealthy individuals to enhance the pesantren. Unlike supra-local kyai, local kyai have a narrow connection: it is difficult for them to find financial support to develop their pesantren. Some local kyais visit Malaysia to arrange pengajian (Islamic preaching) to collect financial support from Madurese workers. This research elaborates participant observation and in-depth interview with Madurese workers in Malaysia during a monthly-research-stay at the kongsi in Kuala Lumpur and Selangor. I have chosen these two districts of central Malaysia Peninsula because the majority of Madurese workers are working there. Additionally, it is being supported by secondary data. As conclusion, this thesis notes that the most important things for the kyai’s visit Malaysia is an economic profit; the milieu of religiosity and morality of Madurese worker seems as a secondary consideration. Even if kyai persistently said that the main purpose of their visit is da’wa and to collect financial support for their institution, Madurese workers currently understand what essentially occurs “behind the scenesâ€. It is no longer a part of religious curiosities. It is a piece of what Bourdieu said as a religious enterprise.
Kata Kunci : Kyai,Agama,Komodifikasi,Tenaga kerja Madura