Religion in the proper sense of the word :: The discourse of Agama in Indonesia
HIDAYAH, Sita, Dr. Zainal Abidin Bagir
2008 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaTelah menjadi semacam kebiasaan yang jamak meletakkan persoalan mengenai bagaimana “agama†dipahami di Indonesia dalam kerangka religious-politis. Sebuah studi kultural mengenai pemahaman “agama†mengandaikan bahwa persoalan pemberian definisi “agama†yang tepat memiliki kecenderungan untuk melibatkan dimensi-dimensi politis dan melibatkan kompetisi sosial demi otoritas dan hegemoni. Tesis ini menggunakan konsep kewarganegaraan untuk secara kritis memahami wacana keagamaan di Indonesia. Wacana agama dalam tesis ini dipahami dalam relasi wacana triadik antara “agamaâ€, “adatâ€, dan “kepercayaanâ€. Bagaimana “agamaâ€, “adatâ€, “kepercayaan†saling berkelindan dipahami dalam kerangka “genealogi dan arkeologi†Foucauldian dilengkapi pembahasan mengenai “kewarganegaraan diskursifâ€. Asumsi yang mendasari wacana “agama†adalah ‘nilainilai monoteisme’ yang hegemonic dan developmentalisme dimana pengalaman-pengalaman dan pemahamanpemahaman muncul, menyebar dan beroperasi dalam relasi sosial di Indonesia yang mana adalah: “agama†yang diakui merupakan “agama†sekaligus melampaui “agama†karena menjadi standar criteria “agama†yang modern dan rasionalis yang harus diikuti oleh semua agama ‘suku’, kaum monoteis adalah warganegara yang diharapkan—mereka yang memeluk agama yang diakui negara sesuai dengan profil subyek baru yang modern, rasional, dan nasionalis. Praktek diskursif yang hegemonis menciptakan sekaligus menantang aspek-aspek subyektifitas warganegara yang religious di Indonesia. Hanya dengan mempertanyakan pandanganpandangan yang familiar, tidak sadar, dan tak tergoyahkan mengenai agama dan menjelajahi pandangan alternatif mengenai agama kita bisa mengurai pemahaman historis, politis dan sosiologis yang rumit mengenai agama sehingga kita bisa memulai kondisi-kondisi yang memungkinkan bagi terwujudnya kewarganegaraan yang emansipatoris di Indonesia.
This problem of understanding “agama†in Indonesia has been persistently contained within the religio-political framework. A cultural study of the appropriation of the term “agama†suggests that the problem of endowing the term “agama†with a precise definition has the affinity to including political dimensions as well as socio-cultural competition for authority and domination. This thesis uses the notion of citizenship to critically assessing religious discourse in Indonesia. The discourse of “agama†here is situated within the triadic discursive sphere of “agamaâ€, “adat†and “kepercayaanâ€. How “agamaâ€, “adat†and “kepercayaan†are seen in relation to each other is studied using Foucauldian “genealogy†and “archeology†framework. Assumptions organizing the discourse are hegemonic ‘monotheistic values’ and developmentalism through which religious experience and understanding comes to have, share, and operate within social relations in Indonesia are: that ‘acknowledged’ religions are “agama†and beyond “agamaâ€â€”as the criterion of modern, rationalist religions to which all ‘tribal’ religions should abide, monotheists are the desired citizens—those who adhere State-acknowledged religions match the modern, rationalist, and nationalist profile of the new subject. Hegemonic discursive practice both produce and challenge aspects of existing religious citizens’ subjectivity in Indonesia. It is only by questioning the familiar, unconscious, unchallenged points of view concerning “agama†and by elaborating alternatives view of the term that we can unravel the complex historical, political, and sociological appropriation of the term “agama†and thus begin to develop emancipatory citizenry in Indonesia.
Kata Kunci : Kebiasaan persoalan agama dipahami Indonesia,Dimensi politis melibatkan kompetensi sosial demi otoritas dan hegemoni,agama, discourse, citizenship