The Dalai Lama's response to religious diversity
BRAMANTYO, Hastho, Dr. Zainal Abidin Bagir
2008 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaMasalah utama yang dikaji dalam keanekaragaman agama adalah klaim kebenaran universal dan keselamatan atau kebebasan. Kedua isu ini menjadi begitu penting karena dua alasan, yang pertama karena dua hal ini sering bertanggungjawab dalam terjadinya kekerasan atas nama agama dan yang kedua, karena masalah ini tidak bisa dipecahkan secara permukaan atau superfisial, sebab dua hal ini berhubungan dengan fondasi terdalam dari sebuah keyakinan agama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari pemecahan secara filosofis terhadap kedua isu tersebut. Langkah yang ditempuh penulis adalah dengan memaparkan usaha pemecahan dari beberapa ahli pluralitas agama. Dengan menggunakan ancangan dari kaum realis kritis, penulis mencoba untuk menampilkan pandangan Dalai Lama dalam memecahkan masalah klaim kebenaran dan keselamatan. Penyelesaian Dalai Lama terhadap masalah klaim kebenaran dan keselamatan disebut pluralisme pragmatis, yang mengaitkan pluralisme dengan pertimbangan praktisnya. Dengan menggunakan analogi tentang obat, Dalai Lama sanggup memecahkan baik pandangan absolutisme maupun relativisme. Penyakit yang berbeda membutuhkan obat yang berbeda pula, sama halnya dengan itu, tidak ada agama yang terbaik untuk semua orang, setiap agama adalah terbaik bagi pemeluknya sejauh dia merasakan kecocokan dengan agama tersebut dan agama itu sanggup membebaskan manusia dari penderitaan. Penulis menambahkan pandangannya sendiri terhadap posisi Dalai Lama, yaitu keterbukaan kritis. Pandangan ini berdasarkan pada asumsi bahwa kebenaranitu bersifat dinamis dan transcendental dalam arti kebenaran itu selalu lebih luas dan mengatasi pengertian yang kita anggap telah kita ketahui. Dengan menggunakan proses dialektika dalam membicarakan kebenaran dengan penaganut keyakinan yang berbeda-beda secara terbuka, jujur dan kritis, semua pihak yang terlibat dalam dialog akan menjadi semakin diperkaya dan mencapai kematangan yang semakin besar. Begitu masalah filosofis tentng klaim kebenaran dan keselamatan selesai dipecahkan, maka orang-orang bisa bekerja sama dalam menghadapi masalah-masalah kemanusiaan. Keterbukaan kritis juga bisa diterapkan dalam dialog-dialog antariman di Indonesia, untuk menciptakan harmoni dan pemahaman yang lebih baik.
Universal truth claims and liberation or salvation are the main issue that is discussed widely in religious diversity. These issues are very important for several reasons, First, it is often responsible in the religious persecutions and violence, and second, it is difficult to resolve the problem merely by superficial means, for it is related to the very foundation of religious belief. The aim of this research is to find the solution to the philosophical problems of seemingly contradictory truth claims and the concept of liberation or salvation. In doing so, I review different answer that has been proposed by many thinkers on religious diversity, Using the critical realist critique to the Universalist view on religious pluralism as my foundation, I try to present the Dalai Lama’s views to resolve the problem of truth claims and salvation. The Dalai Lama’s solution to the problem of truth claims is called pragmatic-pluralism, which relates the notion of pluralism with its practical considerations. By using the analogy of medicine, the Dalai Lama is able to resolve both the absolutist and relativist views. Different illnesses require different medicines; similarly, there is no one best religion for everyone, each religion is best according to its capacity and usefulness to deliver man from suffering. I add my own view to complement the Dalai Lama’s pragmatic positions, which is called Critical Openness. This view is based on the basic assumption that truth is dynamic and transcendental in the sense that there is always more to truth than we thought we already knew. By dialectical process of discussing the truth between people of different religions openly, honestly and critically, each party in the discussion will benefit much and will achieve an even greater maturity in their views both of their own and others’ truth claims. Once the philosophical problems of truth claim and salvation have been resolved, then people can start to work and cooperate on the common problem of humanity. In the end I show how critical openness is also applicable to interfaith dialogue among religions in Indonesia, to create better understanding and harmony.
Kata Kunci : Klaim kebenaran,Kebebasan,Pluralisme pragmatis,Keterbukaan kritis,Realisme kritis,Dalai lama,Keanekaragaman agama,truth claims, salvations, pragmatic-pluralist, critical openness, critical realism, the Dalai Lama, religious diversity