Pengelolaan konflik berbasis hukum adat :: Studi tentang metode penyelesaian dan pencegahan konflik melalui lembaga adat Keujreun Blang di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan, NAD
KHUDRI, Drs. Bambang Purwoko, M.A
2008 | Tesis | S2 Ilmu PolitikKonflik-konflik persawahan yang terjadi dalam masyarakat Kecamatan Kuala Nagan Raya biasanya dapat diselesaikan melalui lembaga adat keujreun blang. Oleh karena itu eksistensi lembaga adat keujreun blang sampai saat ini masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat setempat. Lahirnya UndangUndang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh telah membawa dampak positif terhadap pengembangan dan penguatan lembaga adat keujreun blang terutama dalam penyelesaian kasus-kasus persengketaan dalam masyarakat. Atas dasar tersebut, menarik untuk dipertanyakan bagaimana metode penyelesaian konflik antar petani sawah melalui lembaga adat keujreun blang di Kecamatan Kuala Nagan Raya. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dan lapangan dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan telaahan dokumentasi, wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi. Populasi yaitu Kecamatan Kuala Nagan Raya, dipilihnya lokasi tersebut berdasarkan pertimbangan masih memiliki area persawahan yang cukup luas, dijumpai adanya kasus konflik/persengketaan persawahan yang muncul dalam masyarakat, adanya proses penyelesaian sengketa dan masih aktifnya lembaga adat Keujreun blang. Sedangkan sample yang pilih adalah 5 dari 17 gampong dalam Kecamatan Kuala. Adapun teori yang digunakan dalam menganalisa objek penelitian adalah teori sistem sosial (teori fungsionalisme struktural) dan teori konflik yang dikembangkan oleh beberapa pakar/ahli. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa eksistensi lembaga adat keujreun blang sampai saat ini masih bejalan dengan baik, hal ini dapat diketahui melalui adanya struktur lembaga adat keujreun blang sampai di tingkat gampong serta adanya pemberian insentif oleh pemerintah daerah setempat. Sedangkan norma-norma adat yang masih dipraktekkan masyarakat adalah keuneunong (siklus alam), kenduri blang dengan berbagai variasinya, pagee adat blang (pagar adat), uroe pantang treun u blang (hari-hari pantang) dan simbol-simbol kegiatan persawahan. Masyarakat mematuhi dan menjalankan norma-norma tersebut berdasarkan kepatuhan dan otoritas lembaga adat keujreun blang, demi kemaslahatan dan keteraturan. Sementara itu, faktor dominan terjadinya konflik persawahan di Kecamatan Kuala disebabkan oleh masalah pembagian air, pemukulan di areal sawah dan ternak makan padi. Dalam penyelesaian peran keujreun blang sangat vital sebagai upaya preventif agar sengketa tidak mengarah pada tindak pidana. Metode penyelesaian yang dilakukan keujreun blang adalah melalui upaya pendekatan yang humanis demi terciptanya perdamaian antar para pihak yang berkonflik, dengan berpedoman kepada beberapa azas diantaranya adalah azas keadilan, azas musyawarah, azas perdamaian, azas kompromi dan azas kekeluargaan. Pola penyelesaian konflik yang dilaksanakan oleh keujreun blang seperti ini tidak selamanya secara personal, akan tetapi juga melibatkan keuchik, tokoh masyarakat dan tokoh adat.
Farm conflicts happened in society Kuala Nagan Raya subdistrict society usually can be finalized through customary law keujreun blang. Therefore the existence of customary law keujreun blang till now still is looked after carefully by local public. Came up of lawbook No. 11 year of 2006 about Aceh government has brought positive impact to expansion and reinforcement of customary law keujreun blang especially in solving of dispute cases in public. Base on the thing, interesting to be questioned how solving method of conflict inter smallholder through customary law keujreun blang in Kuala Nagan Raya subdistrict. This research applies bibliography study and field with qualitative approach. The data collecting technique is done with documentation study, in-depth interview and observation. The population is Kuala Nagan Raya subdistrict, chooses the location based on consideration still having cultivating area that is wide, detectable existence of case of farm conflict came up in society, existence of dispute finishing process and still be active of customary law Keujreun blang. While selecting sample is 5 of 17 gampong in Kuala subdistrict. As for theory applied in analysing research object is the social system theory (the structural functionalism theory) and the conflict theory developed by some expert. Based on the result of research it is found that customary law existence keujreun blang till now is still carefully, this thing is knowable passed existence of customary law structure keujreun blang reaches level of gampong and existence of giving incentive by local government. While fundamental norms which still be practiced of society is keuneunong (nature cycle), kenduri blang with the various variation, pagee adat blang (pagar adat), uroe pantang treur u blang (prohibition days) and rice field activity symbols. The society obeys and implements the norms based on compliance and customary law authority keujreun blang, for the salvation and regularity. Meanwhile, dominant factor the happening of farm conflict in Kuala subdistrict because of distribution water problem, hitting in rice field areal and livestock eats paddy. In solving the role of keujreun blang is very significant as preventive effort that dispute doesn't lead to crime. The solution method done by keujreun blang is through approach effort which humanist for the shake of creation of peace among side having conflict, with is guided by some principalities between it is justice principality, deliberation principality, peace principality, compromise principality and familiarity principality. Pattern solving of conflict executed by keujreun blang like this is not forever in personal, however also entangles Keuchik, elite figure and custom figure.
Kata Kunci : Manajemen konflik,Lembaga adat Keujreun Blang,Petani sawah,Hukum adat,Persengketaan masyarakat,Customary law Keujreun Blang; Conflict; Rice field Farmer