Program life skills pendidikan non formal antara harapan dan kenyataan :: Studi implementasi program life skills pelatihan kerajinan perak di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Ngudi Ilmu Desa Kepek, Saptosari, Gunungkidul
SUHARJIYA, Dr. Suharko
2008 | Tesis | S2 SosiologiKrisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah menyadarkan kita akan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang sangat rendah, statemen ini secara tidak langsung juga merujuk pada mutu pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia itu sendiri. Merespon persoalan tersebut Depdiknas menyusun kebijakan pendidikan yang berbasis luas dan mendasar (broad based education), berorientasi pada kecakapan hidup (life skills), dan berbasis masyarakat (community based education). Program life skills ini diimplementasikan melalui dua jalur yaitu pendidikan formal dan nonformal (PNF). Program life skills PNF pada hakekatnya merupakan upaya untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, sikap dan kemampuan yang memungkinkan warga belajar dapat hidup mandiri. Tujuan akhir program ini untuk mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Sebagai sebuah inovasi, keberhasilan program life skills PNF menarik untuk dikaji. Penelitian yang dilaksanakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ngudi Ilmu Desa Kepek, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul ini bertujuan untuk mencari jawaban atas pertanyaan, â€Apakah harapan atau tujuan program life skills pelatihan kerajinan perak yang dilaksanakan oleh PKBM Ngudi Ilmu dapat terwujud?, faktor-faktor apakah yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan program tersebutâ€? Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara wawancara dan data sekunder yang diperoleh melalui studi dokumen, proposal dan laporan pelaksanaan program. Sedangkan langkah-langkah dalam analisis data adalah (1) reduksi data, (2) display data dan (3) pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan (1) bahwa terdapat kesenjangan yang jauh antara harapan dan realisasi program life skills pelatihan kerajinan perak yang dilaksanakan oleh PKBM Ngudi Ilmu, (2) faktor pertama yang berpengaruh terhadap kegagalan program life skills PNF di PKBM Ngudi Ilmu berkaitan dengan substansi kebijakan program life skills PNF tersebut, (3) faktor kedua yang mempengaruhi kegagalan program life skills PNF di PKBM Ngudi Ilmu berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat, (4) faktor yang berpengaruh terhadap kegagalan program life skills PNF di PKBM Ngudi Ilmu bersumber dari implementasi program life skills tersebut dalam hal ini berkaitan dengan kapasitas dan kemampuan pengelola program sebagai implementator kebijakan, (5) antara substansi kebijakan, kondisi sosial masyarakat dan kemampuan implementator merupakan satu sinergi yang saling berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi program, hasil penelitian di lapangan sinergi ketiga hal tersebut tidak diketemukan.
Economical crise in mid-1997 has brought us to very low quality of Indonesian human resources, this statement also indirectly refers to education quality which produces human resources itself. Responding the problem, National Department of Education arranged a broad base educational policy, orienting to life skills, and community based education. This life skills program is implemented through two lines, formal education and nonformal education (NFE). NFE life skills program is basically an effort to improve skills, knowledge, attitude and capability enabling learning community being autonomous. Final purpose of program is to overcome poverty and unemployment problems. As an innovation, success of NFE life skills program is interested to be analyzed. Research conducted at Ngudi Ilmu Community Learning Centre (CLC) Kepek Village, Saptosari Subdistrict, Gunungkidul Regency was intended to find out the answers of questions, “Can expectation or objective of life skills program of silver craftsmanship training implemented by Ngudi Ilmu CLC be realized?, what are factors affecting to success or failure of that program?†To find out the answers of questions, method used in this study was descriptive qualitative. Data needed in study was primary data obtained by interview and secondary data obtained by documentary, proposal, and program implementation report studies. While steps in analyzing data was (1) data reduction, (2) data display, and (3) conclusion and verification making. Given the results of study, it can be concluded that (1) there is great discrepancy between expectation and realization of life skills program of silver craftsmanship training implemented by Ngudi Ilmu CLC, (2) first factor affecting to failure of NFE life skills program at Ngudi Ilmu CLC relates to policy substance of NFE life skills program, (3) second factor affecting to failure of NFE life skills program at Ngudi Ilmu CLC relates to community social condition, (4) factors affecting to failure of NFE life skills program at Ngudi Ilmu CLC are rooted from implementation of life skills program, in this case relating to capacity and capability of program manager as policy implementator, (5) policy substance, community social condition, and implementator’s capability are synergy affecting each other to success of program implementation, it was not founded synergy of them in field.
Kata Kunci : Program life skills,Pendidikan non formal,Pusat kegiatan belajar masyarakat, Nonformal Education (NFE) Life Skills Program, Implementation, Community Learning Centre (CLC)