Studi kerentanan intrusi airlaut di Kota Semarang, Jawa Tengah
HATORI, Cecep Ahmad, Dr. Heru Hendrayana
2008 | Tesis | S2 Teknik GeologiSemarang merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang memiliki kepadatan penduduk tinggi. Lebih dari dua per tiga dari penduduknya (> 850 ribu jiwa) tinggal di dataran pantai atau daerah seluas 37% dari total luas Kota Semarang. Umumnya penduduk di kawasan ini menggunakan airtanah sebagai sumber airbaku untuk minum, industri dan kebutuhan lainnya. Tingginya debit pengambilan airtanah di kota ini telah menyebabkan terjadinya intrusi airlaut pada akuifer airtanah dangkal. Penelitian kerentanan airtanah terhadap intrusi airlaut dengan berdasarkan parameter geologi dan hidrogeologi telah dilakukan di Dataran Pantai Kota Semarang. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui tingkat kerentanan intrinsik dan spesifik akuifer airtanah terhadap terjadinya intrusi airlaut. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, salah satu metode pemetaan kerentanan yang berlandaskan GIS, Metode GALDIT yang telah dimodifikasi, digunakan untuk menghasilkan peta kerentanan airtanah terhadap intrusi airlaut. Geologi Dataran Pantai Kota Semarang tersusun oleh endapan aluvial Kuarter yang terletak tidak selaras di atas Formasi Damar. Data pemboran menunjukkan, bahwa akuifer airtanah dangkal di daerah ini tersusun oleh pasir halus-sedang dan pasir kerikilan yang berumur Kuarter dengan ketebalan 24 - 48 m. Berdasarkan pada hasil pengukuran harga TDS di lapangan diketahui, bahwa airtanah dangkal di daerah penelitian, pada jarak 2 - 4 km dari garis pantai, telah terintrusi airlaut. Tingkat kerentanan intrinsik airtanah terhadap intrusi airlaut di daerah penelitian berkisar antara rendah – sangat tinggi. Daerah yang paling rentan terhadap intrusi airlaut memiliki nilai indeks kerentanan >85 dan umumnya yang memiliki elevasi muka airtanah rendah atau hampir sama dengan permukaan laut. Penurunan tingkat kerentanan airtanah dari kelas sangat tinggi ke rendah, disebabkan oleh semakin tingginya elevasi muka airtanah dan jarak yang semakin jauh dari sumber air asin. Tingkat kerentanan spesifik airtanah terhadap intrusi airlaut menunjukkan, bahwa untuk tahun 2007 pengambilan airtanah di daerah penelitian belum berpengaruh terhadap terjadinya intrusi airlaut. Peningkatan debit pengambilan airtanah yang mencapai hampir dua kali lipat dari kondisi tahun 2007 akan menyebabkan seluruh daerah penelitian memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap intrusi airlaut.
Semarang is a city in Central Java that has high populated. Almost about two thirds of Semarang s population (> 850 thousand) live with in the coastal area that taking up about 37% of total area of Semarang City. Generally the people in this region rely on groundwater as their main source of freshwater for drinking, industri and other purposes. Highly groundwater abstraction in this region had caused seawater intrusion into the shallow groundwater aquifer. Vulnerability mapping based on geological and hydrogeological data was conducted in Alluvial Coastal Plain of Semarang City. The aim of this study is to investigate the degree of intrinsic and specific groundwater vulnerability to seawater intrusion. To achieve the objective of research, the GIS-base method, GALDIT Method with some modification, was used to develop the map of groundwater vulnerability to seawater intrusion. Geologically, Semarang Alluvial Coastal Plain are built up of Quaternary alluvial deposits that unconformable underlain by Damar Formation. The borehole data show that the unconfined aquifer is located in fine to medium sand and gravely sand layer of Quaternary age with thickness about 24 to 48 m. Based on measurement of total dissolved solids (TDS ) in the field, the seawater intrusion in this region had penetrated the shallow groundwater aquifer about 2 to 4 km landward. The degree of intrinsic groundwater vulnerability to seawater intrusion range from low vulnerable to very high vulnerable. The highest indices (>85) which is considered to have very high risk to seawater intrusion are calculated for some part of the area that has elevation of groundwater level below or near the sea level. The decrease of groundwater vulnerability from very high to low is due to a higher groundwater level and farther distance from the saltwater zone. The degree of specific groundwater vulnerability to seawater intrusion show that for year 2007, rate of groundwater abstraction not yet had an effect to seawater intrusion. Increasing of groundwater abstraction about twice will cause the entire of researched area highly risk to seawater intrusion.
Kata Kunci : Intrusi airlaut,GALDIT,Kerentanan,Pengambilan airtanah, seawater intrusion, GALDIT, vulnerability, groundwater abstraction