Mitigasi bencana aliran debris Sungai Belanting secara non struktural Desa Belanting Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur-Nusa Tenggara Barat
LEGIARTO, Ahad, Prof. Dr. Ir. Djoko Legono
2008 | Tesis | S2 Teknik SipilDesa Belanting terletak dikaki Pegunungan Rinjani dilintasi oleh Sungai Belanting, merupakan desa yang sedang berkembang pesat. Hampir seluruh penduduknya adalah pendatang, yang merupakan transmigran swadaya. Pada tanggal 21 Januari 2006 terjadi bencana aliran debris, mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang sangat parah. Salah satu masalah yang dihadapi di daerah ini adalah belum adanya mitigasi bencana non struktural. Berdasar pada kondisi ini, maka perlu dilakukan sebuah penelitian menyangkut tingkat pemahaman pemukim terhadap ancaman bencana aliran debris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap bencana aliran debris, sebagai dasar untuk menentukan pola penanganan bencana dengan mitigasi non struktural. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan wawancara, dengan responden 80 orang. Data hasil kuisioner kemudian dianalisis dengan menggunakan SPSS (Statistic Pocket for Social Scince) Dari hasil analisa diketahui bahwa 52,5 % responden belum paham terhadap ancaman bencana dan dari wawancara diketahui bahwa Pemuka Agama (Tuan Guru) mempunyai tingkat sosial yang sangat tinggi. Berdasarkan pada hasil analisa dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa, perlu suatu strategi program mitigasi non struktural dengan sosialisasi, yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pengajian sehingga lebih efektif dan efesien.
Belanting village, situated in the foot of Rinjani mountain range and crossed over by Belanting River, is a fast-growing village. Almost all of its inhabitants are migrants who came there on their own support. On January 21, 2006, disaster struck: debris flow came, taking people’s lives and creating havoc to local infrastructures. One of the difficulties in the area is that it lacks nonstructural disaster mitigation. At this rate, a study needs to be done concerning the awareness of local inhabitants of the threat posed by debris flow. The objective of the study is to find out the level of local people’s understanding of debris flow disaster, functioning as the basis in determining disaster management pattern by non-structural mitigation. Data were collected from questionnaires and interviews with 80 respondents. The resulting questionnaire data were then analyzed using SPSS (Statistic Pocket for Social Science). Result of the analysis indicates that 52.5 per cent of respondents do not yet understand the threat of disaster. In the meantime, the interviews indicate that religious leaders (Tuan Guru) have very high social status. Therefore, based on the result of the analysis and of the interviews, there is a need for a strategy in non-structural mitigation program and, as far as the study is concerned, socialization during public religious learning is regarded as more effective and efficient.
Kata Kunci : Aliran debris,Pemahaman,Mitigasi nonstruktural,Debris flows,Understanding,Non-structural mitigation