Tinjauan pelaksanaan pelayanan farmasi klinik pada Rumah Sakit Umum milik pemerintah di Jakarta dan sekitarnya
LESTARI, Sri Bintang, Dra. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt
2008 | Tesis | S2 Farmasi KlinikPelayanan farmasi di rumah sakit dapat digolongan dalam 2 bentuk pelayanan yaitu: pelayanan non klinik dan pelayanan klinik. Pelayanan non klinik adalah pelayanan tidak langsung sebagai bagian terpadu dari pelayanan pasien dan pada umumnya farmasis adalah penanggung jawab tunggal. Pelayanan ini biasanya tidak memerlukan interaksi langsung dengan pasien dan profesional kesehatan lain. Pelayanan farmasi klinik adalah pelayanan yang diberikan secara langsung kepada pasien dan memerlukan interaksi langsung dengan pasien dan atau dengan profesional kesehatan lain yang terlibat dalam perawatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pelayanan farmasi klinik di rumah sakit umum milik pemerintah yang berada di Jakarta dan sekitarnya serta untuk mengetahui hubungan antara kebijakan yang dibuat oleh pimpinan rumah sakit, Sumber Daya Manusia, dan fasilitas dengan pelaksanaan pelayanan farmasi klinik. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan belah lintang (cross sectional) dan analisis data dilakukan dengan metoda deskriptif-korelatif untuk memperoleh gambaran tentang pelaksanaan pelayanan farmasi klinik di rumah sakit dan untuk melihat hubungan antara kebijakan yang dibuat oleh pimpinan rumah sakit, Sumber Daya Manusia, dan fasilitas dengan pelaksanaan pelayanan farmasi klinik. Data dikumpulkan melalui wawancara, kuesioner dan pengamatan langsung dengan subjek penelitian yaitu 12 rumah sakit umum tipe A,B atau C milik pemerintah yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelayanan farmasi klinik belum dapat berjalan seluruhnya dengan baik. Pelayanan farmasi klinik yang telah dapat berjalan dengan baik adalah ronde pasien ? 33,3%, pengkajian resep ? 33,3%, dispensing TPN ? 8,3%, pencampuran obat suntik ? 8,3%, dispensing sediaan sitotoksik ? 25%, pemantauan terapi obat ? 2(16,7%), konseling ? 16,7% dan pelayanan informasi obat ? 60%. Sedangkan wawancara riwayat obat belum dapat berjalan dengan baik. Adanya hubungan yang positif dan bermakna antara kebijakan, SDM dan fasilitas dengan pelaksanaan pelayanan farmasi klinik.
Pharmacy services at hospital can be classified into two type of services which are : non clinical pharmacy services and clinical pharmacy services. The non clinical pharmacy services are an indirect services as the integrated part of the medical patient services and generally the pharmacist is the single responsible for that. These services usually does not need direct interaction with the patient and other health professional. The clinical pharmacy services are the services which are given directly to the patient and need interaction and or with other health professional which is involved in the patient treatment. This study was proposed to find out how is the implementation of clinical pharmacy services at the government general hospitals which are located in Jakarta and its environs and also to know the correlation between policies which were made by stakeholder in hospital, human resource and the facility to implementation of clinical pharmacy services. The study was carry out by using cross-sectional descriptive-correlative approach and data analysis was done quantitatively by using program of SPSS Release 12.00 For Windows to obtained the description about the implementation of the clinical pharmacy services at the government general hospitals and to see the correlation between policies which were made by stakeholder in hospital, human resource and facility to implementation of clinical pharmacy services. The data was collected through interviews, questionnaires and direct observation with the subject which were 12 government general hospitals type A, B or C which is located in Jakarta and its environs. From the result of the study, it could be concluded that the clinical pharmacy services have not been implemented entery well. The clinical pharmacy services which have been implemented well by the pharmacist at the hospital were patient round ? 8,3%, review medice orders ? 33,3%, dispensing of TPN ? 8,3%, IV admixture ? 8,3%, dispensing of cytotoxic ? 25 %, therapeutic drug monitoring ? 16,7%, counseling ? 16,7%, drug information service ? 50%. On the other hand, the interview of medication history had not been implemented by pharmacist well. There were positive and significant correlation between policies, human resource and facility to implementation of clinical pharmacy services.
Kata Kunci : Pelayanan Farmasi Klinik,Kebijakan,SDM dan fasilitas,Rumah Sakit,Jakarta dan sekitarnya