Laporkan Masalah

Pengaruh konseling farmasis terhadap hasil terapi dan kualitas hidup paien diabetes militus tipe 2 dipoli penyakit dalam RSUD Dr Abdul Rivai Tanjung Redeb Kalimantan Timur

HERMAWAN, Arif Rudi, Dra. Zullies Ikawati, Ph.D, Apt

2008 | Tesis | S2 Farmasi Klinik

Faktor utama kegagalan sebuah terapi adalah karena ketidakpatuhan pasien terhadap terapi, sehingga farmasis dapat memainkan peranannya dalam membantu pasien untuk mengikuti proses terapi. Salah satu upaya penting untuk untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi adalah konseling dan pemberian informasi yang lengkap dan akurat tentang terapi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui sejauh mana pengaruh konseling terhadap hasil terapi dan kualitas hidup penderita diabetes melitus, mengetahui hubungan antara hasil terapi dan kualitas hidup penderita diabetes melitus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan control group pretest-posttest design dengan pengambilan sampel secara aksidental . Pengumpulam data berasal dari pemeriksaaan tekanan darah sistolik, diastolik, glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial serta dari hasil wawancara dan pengisian kuesioner yang menggunakan Diabetes Quality of Life Instrument. Pengolahan data dengan uji t berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% dan uji korelasi untuk mengetahui adanya hubungan antara hasil terapi dengan skor kualitas hidup. Hasil penilaian terhadap tekanan darah sistolik pasien kelompok perlakuan menunjukkan penurunan rata-rata 7,67±2,52 mmHg; p= 0,005, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan peningkatan rata-rata 3,33 ± 1,94 mmHg; p= 0,096.Tekanan darah diastolik pasien kelompok perlakuan menunjukkan penurunan rata-rata 2,67±1,43 mmHg; p=0,073, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan peningkatan rata-rata 2,67±2,49 mmHg; p= 0,293. Glukosa darah puasa pasien kelompok perlakuan menunjukkan penurunan rata-rata 37,07±14,43 g/dl; p=0,016, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan peningkatan rata-rata 17,27±11,83 mg/dl; p=0,155. Glukosa darah 2 jam post prandial pasien kelompok perlakuan penurunan rata-rata 45,63±16,29 mmHg; p=0,009, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan peningkatan rata-rata 16,70±15,46 mg/dl; p=0,289. Skor kualitas hidup pasien kelompok perlakuan menunjukkan peningkatan rata-rata 4,87±0,78 mg/dl; p=0,000, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan perubahan skor kualitas hidup dari 52,20 ± 0,76 mg/dl menjadi 51,67 ± 0,83 mg/dl. (penurunan rata-rata 0,54 ± 0,56 mmHg; p=0, 346). Pada penelitian ini, usia dan tekanan darah sistolik awal mempengaruhi penurunan tekanan darah sistolik. Glukosa darah 2 jam post prandial awal mempengaruhi penurunan glukosa darah 2 jam post prandial. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konseling dapat membantu pasien diabetes melitus tipe 2 (di RSUD dr Abdul Riva’i Kalimanan Timur) dalam meningkatkan hasil terapi dan kualitas hidupnya. Ada korelasi antara penurunan glukosa darah 2 jam post prandial dan peningkatan skor kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2 (p=0,008; r=-0,477), sedangkan penurunan tekanan darah sistolik (p=0,062; r=-0,344), diastolik (p=0,275; r=-0,206) dan glukosa darah puasa (p=0,075; r=-0,330) tidak terdapat korelasi.

The main cause of therapy failure is incompliance of patients to follow therapy, therefore pharmacist play his or her role in helping them. By counseling and providing complete and accurate information about therapy, pharmacist could increase the rate of patient compliancy to follow therapy procedures. Based on this fact, the objective of this research is to measure the effect of counseling toward therapeutic outcomes and quality of life of type 2 diabetes mellitus patients, measure correlation between therapeutic outcomes and quality of life of type 2 diabetes mellitus patients. This research used experimental method with control group pretest-posttest design. The samples of this research were taken by accidental. The data collecting came from examination of systolic and diastolic blood pressure (SBP/DBP), fasting blood glucose (FBG), and 2 hours postprandial blood glucose (2HPP) and also from interviewing and filling questionnaire using Diabetes Quality of Life Instrument. The data analysis of this research used paired t test with 95% degree of confidence and also test of correlation to indicate the correlation between therapeutic outcomes and quality of life scores. The analysis of SPB for test group patients showed an average decreasing of 7,67±2,52 mmHg; p= 0,005, whereas for control group patients showed an average increasing of 3,33 ± 1,94 mmHg; p= 0,096. The analysis of DBP for test group patients showed an average decreasing of 2,67±1,43 mmHg; p=0,073, whereas for control group patients showed an average increasing of 2,67±2,49 mmHg; p= 0,293. The analysis of FPG for test group patients showed an average decreasing of 37,07±14,43 g/dl; p=0,016, whereas for control group patients showed an average increasing of 17,27±11,83 mg/dl; p=0,155. The analysis of 2HPP for test group patients showed an average decreasing of 45,63±16,29 mmHg; p=0,009, whereas for control group patients showed an average increasing of 16,70±15,46 mg/dl; p=0,289. The quality of life scores for test group patients showed an average increasing of 4,87±0,78 mg/dl; p=0,000, whereas for control group patients showed an average decreasing of 0,54 ± 0,56 mmHg; p=0, 346. In this research the patient’s ages and initial systolic blood pressure has significant influence on decreasing of systolic blood pressure. The initial 2HPP has significant influence on decreasing of 2HPP. The conclusions of this research are counseling could help type 2 diabetes mellitus patients in increasing their therapeutic outcomes and quality of life scores, there is a correlation between the decreasing 2HPP and the increasing scores of quality of life for type 2 diabetes mellitus patients (p=0,008; r=-0,477), and there is not correlation between the decreasing of SBP (p=0,062; r=-0,344) , DBP (p=0,275; r=-0,206), FPG (p=0,075; r=-0,330) with quality of life scores.

Kata Kunci : Konseling,Tekanan darah sistolik,Tekanan darah diastolik,Glukosa darah puasa,Glukosa darah 2 jam postpradial,Hasil terapi dan kualitas hidup, counseling, systolic and diastolic blood pressure (SBP/DBP), fasting blood glucose (FBG), and 2 hours postprandia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.