Laporkan Masalah

Strategi peningkatan pendapatan asli daerah pasca reformasi pajak dan retribusi daerah :: Studi kasus di Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Pariwisata dan Dinas Pasar Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat

FARHAN, Eva Kurnia, Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPP

2008 | Tesis | S2 Administrasi Negara

Peranan pendapatan asli daerah dalam membiayai pembangunan selama ini belum mencerminkan kinerja otonomi daerah yang sesungguhnya karena secara umum daerah otonom saat ini belum mampu secara mandiri membangun dan membiayai dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan kontribusi pendapatan asli daerah terhadap APBD masih sangat kecil yaitu antara 10 sampai 20 persen. Dengan demikian ketergantungan pemerintah daerah sangat besar terhadap bantuan anggaran dari pemerintah pusat. Padahal otonomi daerah merupakan refleksi kemandirian daerah yang tercermin antara lain dari kemampuan daerah dalam membiayai jalannya pemerintahan dan pembangunan dengan bersumber pada PAD sendiri. Menyadari akan kemampuan daerah seperti itu, melalui Undang- Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang pajak dan retribusi daerah yang berjumlah 28 jenis penerimaan yang bersumber dari pajak dana retribusi daerah dipangkas dari kewenangan pemerintah daerah, kemudian menciptakan obyek pajak dan retribusi yang baru. Kebijakan pemerintah pusat tersebut telah mengakibatkan meningkat penerimaan PAD dari tahun 2005/2006 sebesar 32,210,171,342.88,- dari target 35,077,161,500.00,- dari PAD yang terjadi peningkatan dari tahun pertahun, tetapi tidak pernah memenuhi target yang ingin dicapai inilah yang menjadi alternatif saya membuat bagaimana strategi akan memaksimalkan dari target yang ingin dicapai. Tesis ini disusun melalui pendekatan studi kasus dengan secara deskriptif kulaitatif terhadap bagaimana memaksimalkan strategi penerimaan pendapatan asli daerah di Kabupaten Lombok Timur yang terkait dengan reformasi sumber PAD yaitu pajak dan retribusi daerah. Untuk merumuskan strategi peningkatan asli daerah, kerangka tulis ini menggunkan model strategi perencanaan yang diperkenalkan oleh Bryson yang didasari kesepakatan adanya misi dan mandat, yang kemudian dengan menggunakan analisis SWOT untuk mengidenfikasi lingkungan internal guna mendapatkan gambaran akan kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses) serta menggambarkan lingkungan eksternal berupa peluang (opportunities) dan anceman (threats) yang dipahami Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Lombok Timur. Strategi terpilih yang diformulasikan telah dievaluasi dan diujikan dari serangkaian alat uji berupa “deskriptif kulaitatif”, Dari hasil penelitian dan interpretasi data ditemukan bahwa peningkatan pendapatan asli daerah belum maskimal, walupun produktivitas menunjukkan perkembangan yang cukup baik, namun kemampuan menyesuikan terhadap penfaatan dan pelayanan kepada wajib pajak tergolong masih kurang karena belum dapat diterapkan dengan baik serta di tingkat kepuasan kerja pegawai belum optimal karena minimnya intensif yang diterima oleh pegawai. Sedangkan faktorfaktor yang mempengaruhi organisasi Dinas Pendapatan Daerah (Dispinda) Kabuapetan Lombok Timur yang menunjukan bahwa struktur organisasi yang ada sudah baik, walaupun penempatan pegawai belum sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dijabatinya

The role of regional real income in financing the development have not been reflected in the real regional autonomy so far, generally autonomic region has notbeen able to develop, financing and sustain themselves independently. This is due to low contributions of regional real resources to the income and the expenditure that ranges between 10 to 20 percent. So the over dependency of regional governments to the central government is high. Whereas, regional autonomy is a reflection of regional independency, that is reflected from the ability of the region to finance their governments and developments with its own source real regional income. Realizing of the region ability like through the law act no 34 of 2000 about taxes and regional contribution, 28 types of income from regional contribution taxes ware deleted from regional government authority, then created new tax and contribution object. This central government policy, has increased real regional incomes from 2005/2006 of 32,210,171,342.88,- from target of 35,077,161,500.00,- . From the increasing income that happens every year, there is no accomplished target sofar as always planned and desired. This thesis is made through cases study with qualitatively descriptive to maximize the strategy of real regional income in East Lombok related with the reformation of real regional income sources that is regional retribution. To explain the strategy of real regional income, this thesis uses management strategy model introduced by Bryson based on the agreement of mission and mandate, then uses SWOT analysis to identify internal environment reflection that is strength and weakness, and also external environment reflection that is opportunities and threats existed in East Lombok area. The chosen strategy was evaluated and tested from a set of testing tool of “qualitatively descriptive”. From the results and data interpretation found that the increase of regional real income is not maximal, though the productivity showed a good development, but the ability to adjust is still low because of the exploitation and poor means of tax policy application and also the level of employee satisfaction is not encouraging because of the low incentives accepted by the employee. Whereas factors that affected organization of the East Lombok Real Regional Income Official showed that the structure of organization already exist is good enough, although the placement of the employee is not matched with the education background.

Kata Kunci : Pendapatan asli daerah, Reformasi pajak retribusi daerah, Objek pajak


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.