Laporkan Masalah

Dampak penerapan total quality management (TQM) terhadap penggunaan obat di puskesmas Kabupaten Parigi-Moutong

FEBRIYANI, Nur Zakiah, dr. Sunartono

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang. Dalam Sistem Kesehatan Nasional terdapat prinsip pemerataan dan keadilan. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan terdekat dengan masyarakat harus selalu memegang prinsip ini. Pemerataan dan keadilan harus terwujud dalam kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan. Penerapan Total Quality Manajemen (TQM) merupakan gabungan dari intervensi edukasi, manajerial dan regulasi. Penerapan TQM di Puskesmas Kabupaten Parigi-Moutong merupakan salah satu solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan Puskesmas yang terungkap dalam brainstorming pada pertemuan perencanaan kesehatan Kabupaten Parigi-Moutong tahun 2003.Targetnya adalah tercapainya pelayanan kesehatan paripurna, yaitu meliputi semua usaha preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif. Sasaran penerapan TQM adalah Kepala Puskesmas dan seluruh stafnya. Salah satu hambatan yang ditemukan adalah masih rendahnya mutu pengelolaan obat, termasuk di dalamnya peresepan atau penggunaan obat. Tujuan Penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah penerapan TQM dapat meningkatkan mutu penggunaan obat di Puskesmas Kabupaten Parigi-Moutong dan pelatihan TQM mana yang menghasilkan mutu penggunaan obat paling baik. Metode penelitian. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experimental) dengan rancangan nonrandomized control group pre-post test. Penggunaan obat diukur menggunakan indikator penggunaan obat tahap peresepan, yang dikeluarkan oleh WHO. Data berasal dari resep dan buku kunjungan harian, yang dilengkapi dengan hasil wawancara mendalam kepada Petugas Pengelola obat Kabupaten, Kepala Puskesmas, Dokter Puskesmas serta Petugas Pengelola obat di Puskesmas Parigi-Moutong. Data kuantitatif diuji dengan t-test untuk mengetahui kebermaknaannya. Hasil penelitian. Setelah penerapan TQM, rata-rata jumlah item obat per kunjungan turun 8,30% (<0,05), rata-rata peresepan generik naik 1.78% (<0,05), rata-rata peresepan sesuai DOEN turun 1.27% (>0,05), rata-rata peresepan injeksi turun 9.17% (>0,05), dan rata-rata peresepan antibiotik turun 0.32% (<0,05). Puskesmas periode pelatihan TQM pertama menunjukkan perubahan positif yang signifikan pada 2 item indikator, kelompok 2 dan 3 masing-masing pada 1 item indikator. Kesimpulan. Penerapan TQM meningkatkan mutu penggunaan obat di Puskesmas yang telah menerapkannya. Perubahan indikator signifikan untuk rata-rata jumlah item obat per kunjungan, rata-rata % peresepan generik, dan rata-rata % peresepan antibiotik. Puskesmas yang dilatih pada periode pertama menunjukkan peningkatan mutu penggunaan obat paling bagus.

Background. In National Health System there is a principle of equality and fairness. Public Health Centre (PHC) as the centre of health care nearest the community always have to hold this principle. Equality and fairness have to occur in quantity and quality of health care. The implementation of Total Quality Management (TQM) is the combination of education, managerial and regulation intervention. Implementation of TQM in PHC in Parigi-Moutong District is a solution to solve problems in increase the quality of PHC health care which found in brainstorming in health plan meeting 2003. The target is to have a perfect health care, which contain all preventive, curative, rehabilitative dan promotive care. The object of TQM implementation are the Head of PHC dan all staff of PHC. One of the problem in increase the quality of PHC health care which found is the low of drug management quality, include prescribes or drug use. Objective. To identify if TQM implementation can increase the quality of drug use in Parigi-Moutong District PHC and which traine periode of TQM giving the best of drug use quality. Method. Quasi-experimental method with nonrandomized control group pre-post test was used. Drug use was identifying with drug use indicator prescription phase of WHO. Data was collected from prescriptions and daily encounter book, which complited with the results of deep interview to District drug management staff, Head of PHC, Doctors of PHC, and drug management staff of Public Health Centres in Parigi - Moutong District. Quantitative data is tested with t-test to identify the signification of indicator’s measure results. Results. After TQM have implemented, the average number of drugs per encounter decrease 8,30 % (< 0,05), average percentage of drugs prescribed by generic name increase 1,78 % (< 0,05 %), average percentage of drugs prescribe from DOEN decrease 1,27 % (> 0,05), average percentage of encounter with an injection prescribe decrease 9,17 % (> 0,05), and average percentage of encounter with an antibiotic prescribed decrease 0,32 % (< 0,05). PHC which trained in 1st periode show significant positive changes in 2 items of indicator, PHC which trained in 2nd and 3rd periodes show signification only in 1 indicator’s item. Conclusion. TQM implementation increase the quality of drug use in PHC which have implemented it. Average results of indicator measure significant for number of drugs per encounter, % of drug prescribed by generic name, and % of encounters with an antibiotic prescribed. PHC which trained in 1st periode shows the best results in quality drug use increase.

Kata Kunci : Total Quality manajemen,penggunaan obat, TQM, Drug use


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.