Faktor-faktor yang berhubngan dengan kejadian penyakit kusta di Kota Ternate
TAUDA, Muh. Isa, dr. Haripurnomo K, MPH, DrPH
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Penyakit kusta masih menjadi permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat dunia terutama di negara berkembang, dan Indonesia merupakan penyumbang penyakit kusta setelah India dan Brazil. Secara medis faktor penyebabnya yaitu kuman mycobacterium leprae, sedangkan risiko penyebab lain belum diketahui secara pasti, diperkirakan faktor lingkungan, keadaan sosial budaya dan ekonomi cukup berperan. Pemerintah menargetkan eliminasi penyakit kusta pada 2010 dengan target prevalensi < 1/10.000 penduduk utamanya di daerah endemis tinggi, Angka prevalensi di propinsi Maluku Utara tahun 2006 (PR 8,5/10.000) dan distribusi penyakit kusta di kota Ternate tahun 2007 (PR 9,8/ 10.0000) Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit kusta. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah Observasional dengan rancangan Case Control. Subjek penelitian adalah penderita kusta yang masih mejalani pengobatan, dengan besar sampel sebanyak 158 orang, yang terdiri dari 79 kasus dan 79 kontrol. Subjek penelitian diperoleh dari register puskesmas priode Juni 2007-Juni 2008, kemudian kontrol disesuaikan dengan umur dan tempat tinggal yang sama. Analisis data yang digunakan yaitu; analisis secara diskriptif, bivariabel dan multivariabel. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukan faktor risiko yang dominan terhadap kejadian kusta di kota Ternate adalah : riwayat kontak dengan odds ratio 7,88 (p 0,00), pengetahuan dengan odds ratio 3,37 (p 0,00), kepadatan hunian dengan odds ratio 3,25 (p 0,00), status ekonomi keluarga dengan odds ratio 3,14 (p 0,00), dengan tingkat kepercayaan (CI 95%) Kesimpulan : riwayat kontak, pengetahuan yang rendah, tingkat kepadatan hunian yang tinggi serta keadaan status ekonomi keluarga yang rendah merupakan faktor risiko yang mempunyai hubungan yang kuat, sedangkan faktor lainya dalam penelitian ini hubungannya lemah
Background: Leprosy is a public health problem faced in the world community, especially in developing country. Indonesia is the third biggest country with leprosy after India and Brazil. This disease is a communicable and chronic disease with a long incubation period and impacted not only to the medical aspect but also to psychology, social and economy aspects. The government has targeted to eliminate leprosy at the year 2010 to become under 1 per 10.000 population, especially in endemic area with high prevalence. The fact showed that the prevalence in North Maluku in the year 2006 is 8.5/10.000 and the leprosy distribution in Ternate city in 2007 9.8/10.000. Objective: The objective of this study is to find out the factors that related to the leprosy. Methodology: This study is an observational study with case control design. The subjects of this study are leprosy patients that are still performing the treatment. The sample size is 158, distributed to 79 cases and 79 controls. The subjects obtained from registered patients in primary health centre in the period Juny 2007-July 2008, and controls obtained from the community that are not having the disease but living in the leprosy patient area with age different around 2 years. Data collected based on questioners and observation to the patients. Data analyzed with univariate, bivariate and multivariate analysis. Result: The study results showed that risk factors to the leprosy in Ternate city are experienced contacts with leprosy patients with odds ratio 7.88 (p 0.00), knowledge with odds ratio 3.37 (p 0.00), density population in the house with odds ratio 3.25 (p 0.00), economic status with odds ratio 3.14 (p 0.00), with confident interval (CI) 95 %. Conclusion: Having experience contacts, a low knowledge, a high density population in the house and a low economic status are dominant risk factors to the incidence of leprosy in Ternate city.
Kata Kunci : Riwayat kontak,Penyakit kusta,Kuman mycrobacterium leprae,Keadaan sosial budaya, Leprosy, risk factors