Laporkan Masalah

Persepsi tentang kemandirian puskesmas di Kabupaten Flores Timur

BEOANG, Florentina B, Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang. Paradigma pengelolaan puskesmas ke depan harus berubah peran yang mengarah pada konsep yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan. Oleh karena itu sudah saatnya untuk diberi kewenangan dalam aspek manajemen, pengelolaan sumber daya dan program. Hal ini akan mengurangi ketergantungan yang tinggi pada birokrasi pemerintah yang sedang berubah untuk dapat meningkatkan efektifitas masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan puskesmas. Dengan diberikan kewenangan dan di dukung kepemimpinan yang profesional akan mempertahankan dan memperkuat budaya organisasi sehingga puskesmas mempunyai kekuatan dan peluang untuk mengalami perubahan agar dapat menyediakan pelayanan yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan karyawan. Melalui peningkatan kesejahteraan karyawan akan mempengaruhi kemandirian puskesmas. Tujuan. Untuk mengetahui gambaran persepsi atas budaya organisasi dan persepsi atas kepemimpinan terhadap persepsi kemandirian puskesmas di Kabupaten Flores Timur. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik,rancangan crossectional, pendekatan survey.Unit analisis puskesmas dan dinas kesehatan.Subyek penelitian petugas puskesmas,camat dan pejabat dinas kesehatan (pejabat). Sampel: disproportionate stratified random sampling.Data primer diperoleh melalui kuisioner. Pengolahan dan analisis data menggunakan statistik korelasi sederhana. Instrumen penelitian dilakukan uji validitas dan reliabilitas melalui uji coba sebelumnya pada petugas puskesmas non lokasi penelitian di Kabupaten Flores Timur. Hasil penelitian: Analisis korelasi dan regresi menunjukkan variabel budaya organisasi yang dipersepsikan petugas puskesmas mempunyai hubungan yang positif dan pengaruh yang bermakna (r=0.309; ß=0.421;P<0.05) dan menurut pejabat mempunyai pengaruh yang tidak bermakna (r= 0.459; ß =0.446 ;P>0.05). Kepemimpinan yang dipersepsikan petugas puskesmas mempunyai hubungan yang positif dan pengaruh yang tidak bermakna (r=0.181; ß=0.024 ;P>0.05) dan menurut pejabat mempunyai pengaruh yang bermakna(r=0.425;ß =0.441;P<0.05). Sedangkan kepemimpinan melalui budaya organisasi menunjukan hubungan yang positif dan pengaruh yang bermakna baik menurut petugas puskesmas (r=0.138; ß=0.043 ;P<0.05).maupun pejabat (r=0.425; ß=0.394;P=0.05). Maka dari ke dua variabel tersebut yang paling berpengaruh terhadap persepsi kemandirian puskesmas adalah variabel persepsi budaya organisasi. Kesimpulan: Persepsi budaya organisasi dan kepemimpinan mempunyai hubungan yang positif dengan persepsi kemandirian dan mempunyai pengaruh yang signifikan. Semakin tinggi atas persepsi budaya organisasi dan persepsi atas kepemimpinan semakin tinggi pula persepsi terhadap kemandirian puskesmas.

Background: The paradigm of health center management in the future has to shift to the concept that is customer satisfaction oriented. Therefore it is time to give autonomy in aspect of human resources and program management. Autonomy will minimize high dependence on the government and increase effectiveness of the community in utilizing health center service. Autonomy and professional leadership support will sustain and strengthen organizational culture so that health centers have strengths and opportunities to change and provide quality services as well as improve staff's welfare that will affect autonomy of health centers. Objective: To get an overview of perception about organizational culture and leadership and about autonomy of health centers at District of Flores Timur. Method: This was an analytical study with cross sectional design and survey approach. The analysis units were health centers and health office. Subjects of the study were staff of health centers, chief of subdistricts, structural officials and staff of health office. Samples were taken using disproportionate stratified random sampling technique. Primary data were obtained through questionnaires. Data processing and analysis used simple correlation statistics. Validity and reliability of research instrument were tested to staff of health center outside the location of the study at District of Flores Timur. Result: The result of correlation and regression analysis showed that variable of organizational culture was perceived by staff of health centers as having positive relationship and significant effect (r=0.309; ß=0.421; p<0.05) and perceived by stakeholders as not having significant effect (r=0.459; ß=0.446; P>0.05). Leadership was perceived by staff of health centers as having positive relationship and insignificant effect (r=0.181; ß=0.024; P>0.05) and perceived by stakeholders as having significant effect (r=0.425; ß=0.441; P<0.05). Meanwhile, leadership through organizational culture showed positive relationship and significant effect perceived both by staff of health centers (r=0.138; ß=0.043; P<0.05) and stakeholders (r=0.425; ß=0.394; P=0.05). Therefore variable of perception about organizational culture most dominantly affected perception about autonomy of health centers. Conclusion: Perception about organizational structure and leadership had positive relationship with and significant effect to perception about autonomy. Higher perception about organizational structure and leadership meant higher perception about autonomy of health centers.

Kata Kunci : Persepsi kemandirian,Budaya organisasi,Kepemimpinan, autonomy, organizational culture, leadership, perception


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.