Laporkan Masalah

Pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada usia 6-23 bulan di Puskesmas Muara Enim Kabupaten Muara Enim

FAUZI, Ahmad, Prof.dr. Djaswadi D, SoPG(K), MPH, PhD

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Angka kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi di antara negara-negara anggota ASEAN, dengan penyebab utama kematian adalah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Di Kabupaten Muara Enim angka kejadian penyakit ISPA masih menduduki urutan teratas dari 10 penyakit terbanyak. Salah satu faktor risiko terjadinya ISPA adalah pemberian air susu ibu (ASI) yang tidak adekuat. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, telah menjadi program pemerintah sebagai salah upaya mencegah kesakitan dan kematian bayi. Tetapi pada kenyataanya, pencapaian program ASI eksklusif masih dibawah target. Tujuan penelitian: Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada usia 6-23 bulan. Metode penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan rancangan kohort retrospektif. Paparannya adalah pemberian ASI eksklusif sedangkan keluarannya adalah kejadian ISPA. Subjek sebanyak 142 anak berusia 6-23 bulan diambil dengan teknik non probabilitas sampel dari anak yang berobat di puskesmas. Data dianalisis dengan analisis univariabel, analisis bivariabel, dan analisis multivariabel. Hasil penelitian: Dari 142 anak dalam penelitian ini, yang terpapar ASI eksklusif hanya 15,49%. Kejadian ISPA lebih besar pada anak yang tidak mendapat ASI eksklusif (OR=5,5; IK 95%=2,08-14,97). Tingkat pendidikan ayah dan status pekerjaan ibu berpengaruh terhadap kejadian ISPA (OR=3,6; IK 95%=1,28-10,24 dan OR=0,3; IK 95%=0,09-0,88). Variabel status imunisasi, status gizi, tingkat pendidikan ibu, dan anggota keluarga yang merokok tidak bermakna secara statistik. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif bermanfaat mengurangi kejadian ISPA. Tingkat pendidikan ayah dan status pekerjaan ibu berpengaruh terhadap kejadian ISPA.

Background: Infant mortality rate in Indonesia is still relatively high among ASEAN countries, and acute respiratory infection (ARI) is the major cause of mortality. At District of Muara Enim the prevalence of ARI is the highest of 10 major diseases. One risk factor of the prevalence of ARI is inadequate breastfeeding supply. Exclusive breastfeeding supply within 6 months is a government program as an effort to prevent infant morbidity and mortality. However, the achievement of exclusive breastfeeding program is still below the target. Objective: The study aimed to identify the effect of exclusive breastfeeding supply to the prevalence of ARI among infants of 6-23 months. Method: The study was observational with retrospective cohort design. The input was exclusive breastfeeding supply and the output was the prevalence of ARI. There were as many as 142 subjects of infants of 6 – 23 months old taken using non probability sampling technique from those visiting the health center. Data analysis used univariable, bivariable and multivariable techniques. Result: Out of 142 infants 15.49% of them got exclusive breastfeeding. The prevalence of ARI was greater in infants that did not get exclusive breastfeeding (OR=5.5; CI 95%= 2.08 – 14.97). Education of fathers and occupational status of mothers affected the prevalence of ARI (OR=3.6; CI 95%= 1.28 – 10.24 and OR=0.3, CI 95% = 0.09 – 0.88). Variables of immunization status, nutrition status, education of mothers and members of family who smoked were statistically insignificant. Conclusion: Exclusive breastfeeding supply could minimize the prevalence of ARI. Education of fathers and occupational status of mothers affected the prevalence of ARI.

Kata Kunci : ASI eksklusif,ISPA,Fakator risiko, exclusive breastfeeding, risk factors, acute respiratory infection (ARI)


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.