Laporkan Masalah

Studi makro epidemiologi kejadian malaria dengan pendekatan spasial dan temporal terkait tata guna lahan dan meteorologis di Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau

MUSLIM, Prof. dr. Sugeng JM, DAP dan E, MSc

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

protozoa darah, Plasmodium sp. dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles sp. Faktorfaktor yang mempengaruhi penularan malaria meliputi faktor langsung yaitu jumlah nyamuk yang menggigit, kepadatan nyamuk, lamanya daur sporogonik, umur nyamuk dan jumlah pembawa parasit serta faktor tidak langsung yaitu tata guna lahan dan metereologis. Kejadian malaria klinis tahun 2006 dan 2007 di Kabupaten Bintan mengalami peningkatan dari 125,3 per 1000 penduduk tahun 2006 menjadi 127,2 per 1000 penduduk tahun 2007, sedangkan angka malaria positif (API) mengalami penurunan dari 16,4 per 1000 penduduk tahun 2006 menjadi 9,6 per 1000 penduduk tahun 2007, sementara AMI di Kecamatan Bintan Utara mengalami peningkatan sedangkan API tidak mengalami penurunan dan jumlah penderita malaria positif sebanyak 586 kasus dari 1.006 kasus dan merupakan daerah endemis malaria di Kabupaten Bintan. Ada kemungkinan bahwa kejadian malaria di Kecamatan Bintan Utara terkait dengan faktor tata guna lahan dan meteorologis. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran makroepidemiologi kejadian malaria berdasarkan tata guna lahan dan meteorologis dengan pendekatan spasial serta kecenderungan trend kejadian malaria dengan pendekatan temporal menurut data tahun 2005 s/d 2007 di Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian survei studi cross sectional analitik dengan rancangan observasional, subjek penelitian 248 orang penderita malaria positif berdasarkan laporan registrasi laboratorium Puskesmas Tanjunguban selama tahun 2007, variabel dependen yaitu kejadian malaria dan independen tata guna lahan dan meteorologis, analisis data spasial dengan Clustering, Space-Time Permutation Model (Likehood Ratio Test) dan analisis kecenderungan. Hasil: Terdapat hubungan bermakna antara luas lahan hutan dengan kejadian malaria (p = 0,0440940), tidak terdapat hubungan yang bermakna antara luas lahan perkebunan, pemukiman, rawa-rawa, bekas penambangan pasir, suhu udara, kelembaban udara dan curah hujan dengan kejadian malaria (p > 0,05). Simpulan: Hutan merupakan faktor pendukung kejadian malaria secara tidak langsung karena penebangan pohon di kawasan hutan akan menimbulkan habitat perindukan nyamuk meningkat, sehingga mempercepat perkembangbiakan nyamuk Anopheles maculatus dan proses penularan kepada manusia juga akan cepat. Perkebunan, rawa-rawa, pemukiman dan penambangan pasir bukan merupakan faktor pendukung kejadian malaria serta faktor meteorologis yang terdiri dari suhu udara, kelembaban udara dan curah hujan bukan merupakan faktor pendukung kejadian malaria. Terdapat trend meningkat kejadian malaria tahun 2005 s/d 2007 serta ada bukti transmisi lokal memungkinkan terjadinya Most Likely Clusters di Kelurahan Tanjung Uban Selatan dan Secondary Clusters di Kelurahan Tanjung Uban Kota

Background : Malaria is an infectious disease caused by blood protozoa, Plasmodium sp. and transmitted by Anopheles sp. Factors affecting malaria infection includes direct factors such as number of mosquito bites, mosquito density, duration of sporogonic cycle, age of mosquitoes and number of parasite carriers as well as indirect factors, namely land use management and meteorology. Clinical malaria incidence in 2006 and 2007 at District of Bintan increased from 125,3/1000 people in 2006 to 127,2/1000 people in 2007, whereas Annual Parasite Incidence (API) decreased from 16,4/1000 people to 9,6/1000 people in 2007. Meanwhile, at Subdistrict of Bintan Utara Annual Malaria Incidence (AMI) increased and API did not increase. API cases increased from 586 to 1.006 in Subdistrict of Bintan Utara, a malaria endemic area at District of Bintan.The research problem is whether malaria incindence at Subdistrict of Bintan Utara is related to land use management and meteorology. Objective : To get an overview of malaria macroepidemiology in relation to land use management and climatic factors using spatial approach and trend in malaria incidence using temporal approach based on morbidity data 2005-2007 at Subdistrict of Bintan Utara, District of Bintan, Province of Kepulauan Riau. Method : The study was an analytic cross sectional survey with observational design. Subject consisted of 248 postive malaria patients according to the report of laboratory registry at Tanjung Uban Health Center during 2007. The dependent variable was malaria incidence and the independent variables were land use management and meteorology. Spatial data analysis used clustering, space time permutation model (Likehoold Ratio Test) and trend analysis. Result : There was significant relationship between land area and malaria incidence (p=0.0440940). There was no significant relationship between areas for plantation, dwelling, swamp, deserted sand mining, temperature, humidity and rainfall and malaria incidence (p>0.05). Conclusion : Forest area was supplementary factor for malaria incidence because cutting down trees in forest areas could cause the emergence of increased mosquito breeding places that accelerated reproduction of Anopheles maculatus and the process of infection to human. Plantation, swamp, dwellings, and sand mining were not supplementary factor for malaria incidence. Climatological aspect such as temperature, humidity and rainfall were not supplementary factor for malaria incidence either. There was increasing trend of malaria incidence in 2005-2007 and there was evidence of local transmission that enable the emergence of most likely clusters at Kelurahan Tanjung Uban Selatan and secondary clusters at Kelurahan Tanjung Uban Kota.

Kata Kunci : Kasus malaria,Analisis Spesial,Analisis temporal,SIG


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.