Faktor-faktor risiko gagal konversi dahak setelah pengobatan dengan strategi dots tahap intensif di Kabupaten Halmahera Tengah tahun 2008
RAJANA, Rijja, dr. Iswanto, SpP, FCCP
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar Belakang: Sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh mikobakterium tuberkulosis. Diperkirakan tiap tahunnya ada 9 juta pasien tuberkulosis paru baru dan 3 juta kematian akibat tuberkulosis diseluruh dunia, dan 98% kematian akibat tuberkulosis, terjadi pada negara-negara berkembang. Kasus TB Paru, Indonesia menempati peringkat ke tiga dunia dan sekitar 75% pasien TB Paru terdapat pada kelompok usia yang paling produktif (15-50 tahun). Sejak tahun 1995 Indonesia mengadopsi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dengan paduan OAT jangka pendek yang diberikan dalam dua tahapan (intensif dan lanjutan). Angka kegagalan konversi dahak di Kabupaten Halmahera Tengah pada tahun 2005-2008 masih sangat tinggi yakni 75 (33,33%) dari 225 penderita yang di obati dengan kategori 1 dan 2. Tujuan: Untuk mengatahui faktor-faktor risiko gagal konversi BTA dahak penderita TB setelah pengobatan dengan strategi DOTS tahap intensif di Kabupaten Halmahera Tengah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan case control study terhadap penderita TB paru yang menjalani pengobatan strategi DOTS tahap intensif dengan pengamatan secara retrospektif. Besar sampel 150 orang (1:2). Analisis secara univarabel, bivariabel (uji chi-squrae) dan analisis multivariabel (regresi logistik ganda). Hasil : Hasil analisis menunjukkan variabel yang bermakna secara statistik dan merupakan faktor risiko gagal konversi BTA dahak adalah penyakit penyerta odds ratio 5,860 dengan CI 95% 2,380 Background: Approximately one third of the world population has been infected by mycobacterium tuberculosis. It is estimated that each year there are 9 million TB patients and 3 million deaths due to TB all over the world. Lung TB cases in Indonesia are in the third rank of the world and about 75% of TB patients belong to the most productive age (15 – 50 years). Since 1995 Indonesia has adopted DOTS with short - term Anti TB drugs combination given in phases (intensive and continuation). Failure rate of sputum conversion at District of Halmahera Tengah in 2005 – 2008 is still relatively high; i,e. 75 (33.33%) of 225 patients treated at category 1 and 2. Objective: To identify risk factors of acid fast bacillus conversion failure of TB patient sputum after medication using DOTS strategy of intensive phase at District of Halmahera Tengah. Method: This was an observational study with case control study design to TB patients undergoing medication using DOTS strategy of intensive phase done retrospectively. Samples consisted 150 people (1:2). Data analysis used univariable, bivariable (chi square test) and multivariable (double logistic regression). Result: Variables statistically significant and risk factors of acid fast bacillus sputum conversion failure were co-existing disease (OR 5.860, CI95% 2.380
Kata Kunci : FAktor risiko,Kegagalan konversi dahak,Pengobatan DOTS, risk factors, DOTS, tuberculosis, sputum conversion