Laporkan Masalah

Komitmen dokter spesialis dan minat pasien terhadap rencana pengembangan poliklinik perjanjian di RSUD DR. M. Yunus Bengkulu

NURHARDINI, Siti, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Dari hasil studi pendahuluan diperoleh data: masih banyaknya keluhan pasien yang tidak puas akan layanan poliklinik rawat jalan karena waktu tunggu yang lama, sistem pendaftaran yang relatif rumit, keinginan berobat dilayani dokter spesialis tidak selalu terpenuhi. Poliklinik perjanjian dianggap merupakan solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit dan memfasilitasi keinginan pasien untuk berobat dengan dokter spesialis dan dapat meningkatkan keberadaan dokter spesialis di RSMY Bengkulu. Guna pengembangan poliklinik perjanjian ini perlu diteliti kesesuaian (match) antara sumber daya yang akan dikembangkan peranannya dalam hal ini dokter spesialis dan lingkungan eksternal yaitu minat pasien. Tujuan: 1. Teridentifikasinya komitmen dokter spesialis terhadap rencana pengembangan poliklinik perjanjian. 2. Teridentifikasinya minat pasien terhadap rencana pengembangan poliklinik perjanjian di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus eksploratif dan instrumen penelitian adalah kuesioner, pedoman wawancara terstruktur. Subyek penelitian adalah 16 orang dokter spesialis dan 100 pasien umum yang datang ke poliklinik dan 100 pasien bangsal VIP. Teknik pengambilan sampel pada populasi dokter spesialis dengan teknik purposive sampling, sedangkan untuk populasi pasien dengan teknik simple random sampling Hasil penelitian: dalam penelitian ini 89% responden VIP dan 85% responden poliklinik berminat terhadap rencana pengembangan poliklinik perjanjian, Pada penelitian komitmen diperoleh (56%) dokter spesialis berkomitmen tinggi terhadap rencana pengembangan poliklinik perjanjian. Akan tetapi ditemukan beberapa dokter yang tidak berkomitmen terhadap rencana pengembangan poliklinik perjanjian, yang menjadi alasannya adalah mereka telah memiliki praktek pribadi dipagi hari, keterbatasan waktu, terlalu besarnya beban kerja, dan kurangnya fasilitas RSMY untuk poliklinik perjanjian. Dengan adanya data ini dapat diperoleh gambaran bahwa RSMY dapat merealisasikan poliklinik perjanjian dengan strategi tetap memfasilitasi keinginan masyarakat dan mengakomodir keinginan dokter spesialis, dengan strategi tarif terjangkau tetapi pelayanan tetap bermutu. Kesimpulan dan saran: Minat pasien terhadap rencana pengembangan poliklinik perjanjian di RSMY Bengkulu sangat tinggi, hal ini menunjukkan adanya peluang bagi RSMY untuk mengembangkan berdirinya poliklinik perjanjian. Komitmen dokter spesialis terhadap rencana pengembangan cukup tinggi, hal ini menunjukkan adanya kekuatan RSMY Bengkulu untuk mengembangkan berdirinya poliklinik perjanjian. Untuk realisasi poliklinik perjanjian pihak manajemen perlu mengadakan konsolidasi dengan dokter-dokter spesialis lebih lanjut tentang rencana pengembangan poliklinik perjanjian. Mengadakan studi kelayakan tentang aspek-aspek pendukung dalam pengembangan poliklinik perjanjian.

Background: Previous study show that there are complaints from patients that pose dissatisfaction towards outpatient polyclinic service due to longer waiting time, complicated registration system, and unmet need for specialists’ service. Appointment-based polyclinics or polyclinics which provide specialists’ service based on appointment is considered a solution that can be applied to improve hospital income or to facilitate patients to receive a specialist service as well as to improve the existence of specialists in Dr. M. Yunus General hospital of Bengkulu. To develop appointment-based polyclinic, the matching between human resource in terms of specialists’ role and external environment in terms of patients’ interest has to be made. Objective: 1. To identify specialists’ commitments on the plan of appointment-based polyclinic development. 2. To identify patients’ interest towards the plan of appointment-based polyclinic development in Dr. M Yunus General Hospital of Bengkulu. Method: This study used an explorative case study design and the instruments were questionnaires, structured interview guide. Subjects were 16 specialists and 100 patients visiting the polyclinic and 100 patients visiting VIP inpatient ward. Sampling technique in specialist population was with total population technique while in patient population was with simple random sampling Results: In this study, 89% VIP respondents and 85% polyclinic respondents were interested in the plan of appointment-based polyclinic development. Fifty-six percent specialists were at high commitment towards the plan. However, there were some specialists that had low commitment because of some reasons such as private practice ownership in the morning, limited time, too much work load, and lack of facility for appointment-based polyclinic in hospital. These data gave a description that the hospital could realize such polyclinic with a strategy to facilitate patients and accommodate specialists by giving reachable tariffs but with quality services. Conclusion and recommendation: Patients’ interest toward the plan of appointment-based polyclinic development in M Yunus Hospital of Bengkulu is high.This shows opportunity for the hospital to develop such a polyclinic. Specialists’ commitment towards the plan is high as well and this shows the strengths of the hospital to develop the polyclinic. To realize the appointment-based polyclinic, the hospital management needs to consolidate further with the specialists about the plan of the polyclinic development by conducting research about supporting aspects in the development of appointment-based polyclinic.

Kata Kunci : Komitmen dokter spesialis,Minat pasien,Pengembangan poliklinik perjanjian,Specialists’ commitment, patients’ interest, appointment-based polyclinic development


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.