Status gizi awal masuk pasien dewasa sebagai prediktor lama rawat inap di Rumah Sakit Daerah Anuntaloko Parigi :: Kajian metode subjective global assessment (SGA) dan nutrition services screening assessment (NSSA)
HARIMAWAN, Agustinus I Wayan, Prof. dr. Hamam Hadi, MS, Sc.D
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Penilaian status gizi pasien saat masuk rumah sakit merupakan langkah awal dalam memberikan intervensi gizi yang akan berdampak pada lama rawat inap serta perjalanan penyakit pasien selama dirawat. Intervensi gizi yang tepat sebagai bagian dari perawatan pasien dapat dijadikan sebagai indikator gambaran mutu pelayanan suatu rumah sakit. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi awal masuk pasien dewasa menggunakan metode Subjective Global Assessment (SGA), pengaruhnya terhadap lama rawat inap dan status pulang pasien, serta membandingkan kemampuan indikator SGA dengan Indikator Nutrition Services Screening Assessment (NSSA) dalam memperkirakan lama rawat inap dan status pulang pasien dewasa. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan studi kohort prospektif pada RSD Anuntaloko Parigi Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah dari bulan Juli sampai September 2008. Subjek penelitian berjumlah 162 orang terdiri dari 82 orang gizi kurang dan 80 orang gizi baik berdasarkan penilaian menggunakan metode SGA. Analisis data menggunakan analisis bivariat dan multivariat, analisis receiver operating characteristics (ROC) curve, dan analisis diagnostik dengan program komputer. Hasil: Pasien yang baru masuk rumah sakit lebih banyak menderita gizi kurang (50,6%), status gizi awal pasien yang dinilai dengan metode SGA dapat mempengaruhi lama rawat inap pasien (relative risk atau RR= 3,67) namun tidak untuk status pulang pasien (RR= 0,97). Kemampuan indikator SGA, area under the curve (AUC)= 0,81 dan maximum sum of sensitivity and specificity (MSS)= 1,57 lebih baik dibandingkan dengan indikator NSSA (AUC=0,76 dan MSS=1,43) dalam memperkirakan lama rawat inap. Kemampuan indikator SGA dan NSSA tidak dapat ditentukan dalam memperkirakan status pulang pasien. Kesimpulan: Indikator SGA dan NSSA dapat digunakan dalam menilai status gizi awal masuk pasien dewasa namun kemampuan indikator SGA lebih baik dibandingkan dengan indikator NSSA dalam memperkirakan lama rawat inap.
Background: Assessment of nutrition status of newly hospitalized patients is an initial stage of nutrition intervention which will bring effects to the duration of stay and the history of patients' diseases during hospitalization. Appropriate nutrition intervention as part of patients' care can be used as an indicator of the quality of hospital service. Objective: The study aimed to identify preliminary nutrition status of newly hospitalized adult patients using subjective global assessment (SGA) method, its effects to length of stay and status of discharge and compare the capacity of SGA and Nutrition Services Screening Assessment (NSSA) indicators in predicting length of stay and status of discharge of adult patients. Method: This observational study used prospective cohort study design. It was carried out at Anuntaloko Hospital of Parigi, District of Parigi Moutong, Sulawesi Tengah from July to September 2008. Subject consisted of 162 people comprising 82 undernourished people and 80 people with good nutrition status based on assessment using SGA method. Data analysis used bivariable and multivariable, receiver operating characteristics (ROC) curve and diagnostic methods using computer program. Result: The majority of newly hospitalized patients were undernourished (50.6%); preliminary status of patients assessed using SGA method could affect length of stay, relative risk (RR)=3.67 but not status of discharge (RR=0.97). The capacity of SGA indicator, area under the curve (AUC)=0.81 and maximum sum of sensitivity and specificity (MSS)=1.57 was better than NSSA indicator (AUC=0.76 and MSS= 1.43) in predicting length of stay. Nevertheless, the capacity of SGA and NSSA indicators cannot predict the discharge status of the patients. Conclusion: SGA and NSSA indicators could be implemented in assessing preliminary nutrition status of newly hospitalized adult patients; SGA indicator had better capacity than NSSA indicator particularly in predicting the length of stay
Kata Kunci : Status gizi,Lama rawat inap,Status pulang pasien,Subjective global assessment (SGA),Nutrition Services Screening Assessment (NSSA),nutrition status, length of stay, discharge status