Analisis biaya satuan pelayanan kesehatan rawat inap dengan metode activity based costing (ABC) pada Badan Rumah Sakit Kabupaten Banggai
TONGKO, Rahmah, Agastya, SE., MBA., MPM
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Pendapatan BRSD Kabupaten Banggai dari tahun ketahun berfluktuatif dengan tingkat pengeluaran untuk kegiatan operasionalnya yang semakin meningkat. Dengan kata lain bahwa persentase pengeluaran atau biaya operasional di BRSD Kabupaten Banggai lebih besar dari pendapatan. Kondisi tersebut dikarenakan pengelolaan biaya yang belum terlaksana dengan baik. Untuk menjadi lebih baik rumah sakit ini seharusnya mempunyai informasi yang akurat tentang biaya operasional khususnya kos per pelayanan. Oleh karena itu pihak manajemen BRSD Kabupaten Banggai memerlukan perhitungan kos per pelayanan. Salah satu metode yang dapat dipakai untuk mendapatkan perhitungan informasi kos per pelayanan adalah Activity Based Costing (ABC). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Aktivitas yang dipertimbangkan dalam penghitungan Biaya Satuan Pelayanan Rawat Inap, untuk mengetahui besar Unit cost pelayanan dan besar perbedaan antara tarif rumah sakit yang berlaku dengan hasil analisis biaya satuan pelayanan di instalasi rawat inap BRSD Kabupaten Banggai berdasarkan metode Activity Based Costing (ABC), serta untuk mengetahui sensitivitas biaya terhadap perubahan BOR. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus. Subyek penelitian ini adalah aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk jasa pelayanan di instalasi rawat inap. Lokasi penelitian adalah instalasi rawat inap. Unit analisis adalah pelayanan di ruang perawatan instalasi rawat inap. Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas rumah sakit yang berkaitan dengan variabel yang diteliti. Data sekunder diperoleh melalui laporan tahunan rumah sakit pada bagian keuangan, bagian medical record, bagian administrasi, dan sumber-sumber lain yang relevan dengan penelitian ini. Hasil: Unit cost pelayanan di instalasi rawat inap dengan dan tanpa memperhitungkan biaya investasi umumnya berada di atas tarif yang berlaku. Pada perhitungan unit cost dengan memperhitungkan biaya investasi terdapat unit cost yang lebih rendah dari tarif yang diberlakukan BRSD Kabupaten Banggai saat ini, yaitu pada layanan ruang rawat VIP dengan selisih Rp.26.937,91. Perhitungan unit cost tanpa memperhitungkan biaya investasi terdapat unit cost yang lebih rendah dari tarif yang berlaku yaitu pada layanan ruang rawat VIP dengan selisih Rp.33.222,68. Kesimpulan: Unit cost layanan di ruang perawatan rawat inap berada diatas tarif yang ditetapkan. Hal ini mencerminkan bahwa tarif yang berlaku belum sesuai dengan biaya riil dalam melakukan layanan terhadap pasien.
Background: BRSD income of Banggai Regency by years fluctuated by the expending level for operational activity which more increase. In another word, expending percentage or operational in BSRD of Banggai Regency more than the income. This condition is caused by the spending management which has not been conducted as well. To be better this hospital should has accurate information on operational cost, in particularly cost per service. Thus, the part of BRSD management of Banggai Regency needs the calculation of cost per service. One of methods could be used to gain the calculation of information on cost per service is Activity Based Costing (ABC). Objective: This research is intended to know the activities, the amount of unit cost in inpatient installation of BSRD Banggai Regency, and the result of sensitivity analysis. Method: This research is descriptive research by case study plan. The subject of this research is activity conducted to produce a product of service in inpatient installation. The location of research is inpatient installation. Unit of analysis is service in inpatient installation service. The data sources comprise of primary data and secondary data. Primary data was gained through interview with the hospital staff that is related to the understudied variable. Secondary data was gained through the annual report of hospital in financial department, medical record department, administrative department, and other sources that is relevant with this research. Result: The result of unit cost calculation included investment component shows that unit cost of inpatient installation of BSRD Banggai Regency bigger than tariff. Another unit cost calculation not included investment component also shows that unit cost of inpatient installation of BSRD Banggai Regency bigger than tariff. Conclusion: Unit cost of service in inpatient service ward is above the established tariff. It reflected that the valid tariff has not been appropriate with the real cost in conducting service toward the patient.
Kata Kunci : Aktivitas,Cost driver,Unit cost, Activity, cost driver