Kawasan zona bahaya Merapi :: Studi tentang stigma lingkungan dan pengaruhnya terhadap penurunan nilai persepsi tanah pertanian di Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman tahun 2008
PRAMONO, Suroto Yudo, Drs. Wakhid S. Ciptono, M.B.A., M.P.M
2008 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanGunung Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di dunia. Untuk keperluan mitigasi bencana, kompleks Gunung Merapi dibagi menjadi daerahdaerah yang menunjukkan Zona Terlarang, Bahaya I, dan Bahaya II, dan dikenal sebagai Kawasan Zona Bahaya Merapi (KZBM). Penetapan kawasan tersebut memunculkan stigma yang akan memberikan eksternalitas negatif pada nilai tanah pertanian di kawasan tersebut. Secara umum, stigma adalah persepsi publik tentang properti yang sifatnya merugikan, intangible, dan tidak dapat dikuantifikasikan secara langsung. Kecamatan Pakem mempunyai wilayah yang berada tepat di lereng Gunung Merapi dan sebagian besar wilayahnya termasuk ke dalam KZBM. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Pakem terkena stigma akibat penetapan KZBM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pengaruh stigma KZBM terhadap penurunan nilai persepsi tanah pertanian di Kecamatan Pakem. Survei persepsi nilai dilakukan dengan kuesioner disertai wawancara. Metode yang digunakan untuk penilaian adalah Contingent Valuation Method (CVM) mengingat sulitnya memperoleh data transaksi di wilayah tersebut. Selanjutnya penurunan nilai persepsi dianalisis dengan model regresi logit terhadap faktorfaktor demografi dan atribut-atribut ketidaknyamanan. Variabel terikat adalah persentase penurunan nilai persepsi tanah pertanian. Variabel bebas untuk kategori demografi meliputi faktor jenis kelamin, umur, pendidikan, dan pendapatan. Variabel bebas untuk atribut ketidaknyamanan meliputi ketidaknyaman terhadap kondisi rawan bencana, lokasi, aksesibilitas, dan fasilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penurunan nilai persepsi mencapai 37,84%. Penurunan tersebut mempunyai korelasi kuat dengan ketidaknyamanan yang ditunjukkan oleh angka korelasi Pearson sebesar 0,570. Faktor-faktor demografi yang berpengaruh signifikan adalah faktor pendidikan yang berhubungan positif dan faktor pendapatan yang berhubungan negatif. Atribut ketidaknyamanan yang berpengaruh signifikan adalah kondisi rawan bencana dan lokasi yang masing-masing berhubungan positif. Hal ini dapat dimaklumi karena aksesibilitas dan fasilitas di sekitar KZBM sudah tersedia dalam kondisi yang cukup baik.
Merapi mount was one of the most active mount in the world. For disaster mitigation, Merapi mount complex divided be areas that shows prohibited zone, danger I, and Danger II, and well known as Merapi Danger Zone Area (MDZA). That provision is raise stigma that will produce negative externalities to farmland value in that area. Generally, stigma defined as an adverse public perception about a property that is intangible and not directly quantifiable. Pakem region have area that exactly exist at the hill of Merapi mount and most embrace in to MDZA. Based on that fact, we may conclude that Pakem region stigmatized as consequence from MDZA provision. The objectives of this research are to analyze how far impact of stigma affected to reduction of farmland perceived value at Pakem region. Perceived survey carry out by questionnaire and followed by interview. Method that used in this research is Contingent Valuation Method (CVM) cause it difficult to get transaction data at that location. Then reduction of perceived value analyzed with logit model towards demographic factors and inconvenience attributes. Dependent variable is percentage reduction of farmland perceived value. Independent variables for demographic category are sexual category, age, education, and income. Independent variables for inconvenience attributes are inconvenience about disaster perilous condition, location, accessibilities, and facilitates. The result of this research shows that reduction of perceived value up to 37.84% on average. That reduction has strength correlation with inconvenience that showed by Pearson’s correlation index by 0.570. Demographic factors that significantly influenced are education that related positively and income that related negatively. Meanwhile, inconvenience attributes that significantly influenced are disaster perilous condition and location, both related positively. This regards may allowed cause accessibilities and facilitates already provided in good condition.
Kata Kunci : Kawasan zona bahaya merapi,Stigma,Nilai persepsi,Contingent valuation method (CVM),Merapi Danger Zone Area (MDZA),stigma,perceived value,Contingent Valuation Method (CVM)