Pengaruh karakteristik sosial ekonomi rumah tangga terhadap kemiskinan di Kota Padang tahun 2006
HENDRI, Desfi, Drs. Muhammad Edhie Purnawan, M.A
2008 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanPembangunan bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, pemerataan distribusi pendapatan dan mengentaskan kemiskinan. Dalam kenyataannya, kondisi yang ingin dituju tersebut untuk Kota Padang masih sulit dicapai, khususnya dalam mengentaskan kemiskinan. Persentase penduduk miskin Kota Padang relatif lebih tinggi dibanding tingkat kemiskinan Provinsi Sumatera Barat, pada tahun 2005 persentase penduduk miskin Kota Padang sebesar 23,03 persen sedangkan di tingkat Provinsi Sumatera Barat hanya sebesar 12,45 persen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi rumah tangga miskin dan pengaruh karakteristik sosial ekonomi terhadap peluang suatu rumah tangga masuk dalam kategori miskin di Kota Padang tahun 2006. Untuk menganalisis karakteristik rumah tangga miskin dilakukan dengan metode analisis deskriptif sedangkan untuk menganalisis pengaruh karakteristik sosial ekonomi rumah tangga terhadap status kemiskinan dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan model regresi logit. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, rumah tangga miskin di Kota Padang pada tahun 2006 secara umum memiliki karakteristik secara sosial ekonomi, yaitu; mempunyai jumlah anggota keluarga yang relatif besar, tingkat pendidikan kepala rumah tangga 52 persen SLTP ke bawah, sebagian besar bekerja pada sektor informal, mempunyai luas lantai rumah per kapita relatif kecil dan umumnya bertempat tinggal pada kecamatan di luar pusat kota. Dari hasil regresi logistik diketahui bahwa ukuran rumah tangga, status pekerjaan di sektor informal dan tempat tinggal di kecamatan jauh dari pusat kota berpengaruh signifikan dan positif dalam meningkatkan risiko rumah tangga masuk kategori miskin, sedangkan luas lantai rumah per kapita berpengaruh signifikan dalam mengurangi risiko rumah tangga masuk dalam status kemiskinan. Sesuai kesimpulan disarankan supaya Pemerintah Kota Padang dalam menyusun rencana dan program pembangunan untuk pengentasan kemiskinan agar memfokuskan pada sektor tenaga kerja, pendidikan, perumahan dan prasarana wilayah sebagai bagian dari faktor-faktor yang menentukan kemiskinan suatu rumah tangga. Kemudian, Pemerintah Kota Padang dalam menyusun dan melaksanakan program pembangunan daerah agar memberikan fokus lebih besar pada pengentasan kemiskinan dengan mengintensifikan kembali program keluarga berencana, memberikan pembinaan, dan bantuan permodalan pada rumah tangga yang bekerja di sektor informal dan memberikan alokasi lebih besar pada wilayah kecamatan yang berada jauh dari pusat kota serta memberikan subsidi atau bantuan dan kemudahan dalam memperoleh akses pendidikan dan perumahan yang layak bagi masyarakat berpendapatan rendah khususnya keluarga miskin.
Development process is aimed at raising economic growth, expanding job opportunity, equalizing income distribution and reducing poverty. In reality, these goals are difficult to achieve for Padang City, especially in poverty reduction. The percentage of people living under the poverty line in Padang City is relatively higher than that of West Sumatera Province. In 2005, the amount of poor people in Padang City is 23,03 percent, while in West Sumatera Province is 12,4 percent. This research is aimed to analyze the socio economics characteristics of poor households and the influence of those socio economics characteristics towards the opportunity of a household to get into poor category in Padang City in 2006. A descriptive methods is used to analyze the characteristics of poor households, while a quantitative logit regression methods is used to analyze the influence of these characteristics towards poverty status of the households. According to the result of the descriptive analysis, poor households in Padang City in 2006 generally socio-economical characterized i.e.: relatively have big familiy members, education level of 52 percent family leader were SLTP and below, most of them worked at informal sectors, the house capacious per capita was relatively smaller and generally lived at the subdistrict outside the city centre. From the result of logistic regression model, it could be found that the household’ size, work status in informal sectors, and living place at subdistrict, far from the centre of the city included in poor category, while the house capacious per capita significantly influenced in decreasing the risk of a household to be included in the status of poverty. Based on the conclusion, it is suggested that in the arranging the development plan and program for decreasing poverty, the government of Padang City should be more focus on sector ie; labour, education, regional infrastructure and property as parts of factors which determined households’ poverties. Then, in arranging and doing region development programs, the government of Padang City should be more focus on decreasing poverty by re- incentivizing the family planning program, giving guidance, work training, and capital support to households which work at informal sectors, and allocating more funds to subdistricts far from the central of the city, and giving subsidy and facilitation to poor people in getting access to education and suitable housing for people who have low revenues, especially for poor people.
Kata Kunci : Kemiskinan,Karakteristik sosial ekonomi,Logit,poverty, socio economics characteristic