Dampak kenaikan harga BBM Oktober 2005 dan gempa 27 Mei 2006 terhadap pasar properti perumahan Daerah Istimewa Yogyakarta :: 2003 sampai 2006
RAHMANTO, Wahyu Tri, Drs. Muhammad Edhie Purnawan, M.A
2008 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanYogyakarta terkenal sebagai kota pelajar dan kota budaya serta keagungan budaya jawa yang arif dan adi luhung, karenanya banyak orang yang ingin tinggal ditempat tersebut. Permintaan rumah yang terus meningkat berakibat pada pasar properti perumahan yang berkembang pesat di kota ini. Kebijakan pemerintah pada bulan Oktober tahun 2005 untuk menaikakan harga BBM berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat. Tujuh bulan kemudian gempa berkekuatan 6,2 skala richter mengguncang propinsi tersebut dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Kejadian yang berurutan ini membuat kondisi ekonomi di Yogyakarta semakin buruk, seperti yang terjadi pada pasar perumahan. Pada penelitian ini kami mengestimasi dampak kenaikan harga BBM dan Gempa terhadap pasar perumahan menggunakan metode Generalized Least Square (GLS) serta menggunakan analisis data Panel. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan fixed effect memberikan hasil yang terbaik dari dua pendekatan yang digunakan. Variabel harga memiliki hubungan negatif terhadap jumlah rumah terjual di DIY, selain itu untuk suku bunga deposito dan kenaikan harga bbm juga mempunyai hubungan negatif. PDRB memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap jumlah rumah yang terjual. Pada penelitian ini kita memperoleh gambaran bahwa pengaruh gempa pada pasar perumahan hanya berlangsung sebentar dan tidak berpengaruh signifikan.
A lot of peoples are want to live in Yogyakarta because of its famous as tourism city, student city, and the great of it javanesse cultural. Expanding in the demand of dwellings makes housing market in this region grown faster. Oktober 2005, Indonesian government was make a policy to step up the price of fuel, this policy leads to many serious problems definately on people purchasing power. Seven months later, 6,2 on Richter scale earthquake had shake Yogyakarta and a small piece of Central Java. These rolling occurence makes the economics of Yogyakarta more terrible, so the housing market become as terrible as the economics certainly. In this research we estimate the impact of step up on fuel price and earthquake through housing market in Yogyakarta based on Generalized Least Square (GLS) model with Pooled Data analysis. The analysis results show that fixed effect method gives the best result of regression among the two approaches in the data panel. The variable of house price has a negative correlation with quantity housing sold in DIY; both price of fuel step up and deposito interest rate has a negative also, but GDP has positive significant correlation. The research results give a picture that the shock on housing market in Yogyakarta after the earthquakes had done with no longer time and hasn’t significant impact on it.
Kata Kunci : Pasar perumahan,Analisis panel data,Generalized Least Square,Fixed effect,housing market, fixed effect, pooled data analysis