Analisis pendapatan nelayan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara, 2008
INGRATUBUN, Ruslan Abdul Gani, Dr. Soeratno, M.Ec
2008 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanPenelitian ini bertujuan untuk (1) menghitung pendapatan kelompok usaha nelayan per bulan di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara, baik pendapatan kotor maupun pendapatan bersih (2) menghitung pendapatan nelayan per bulan dan membandingkan dengan upah minimum provinsi (UMP) Provinsi Maluku tahun 2008; dan (3) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan kelompok usaha nelayan baik pendapatan kotor maupun pendapatan bersih. Penelitian dilakukan di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara pada bulan September-Oktober 2008 dengan menggunakan data yang dikumpulkan dari sampel sebanyak 36 kelompok usaha nelayan. Faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap pendapatan kelompok usaha nelayan bersifat konfirmatori. Alat analisis yang digunakan adalah Fungsi Penerimaan, Fungsi pendapatan, Analisis Bagi hasil, dan Regresi Berganda (OLS). Hasil perhitungan penerimaan menunjukan bahwa penerimaan kelompok usaha nelayan bermesin ukuran besar (40 PK) lebih besar dari penerimaan kelompok usaha nelayan bermesin ukuran kecil (15 PK dan 5,5 PK). Namun demikian, pendapatan bersih kelompok usaha nelayan yang bermesin ukuran kecil (5,5 PK) memperoleh pendapatan bersih perbulan lebih besar dari kelompok yang bermesin ukuran besar (40 PK dan 15 PK). Berdasarkan sistem bagi hasil, diketahui bahwa rata-rata pendapatan per orang nelayan per bulan sebesar Rp603.650. Sementara upah minimum provinsi (UMP), Provinsi Maluku tahun 2008 sebesar Rp870.000. Artinya rata-rata pendapatan per orang nelayan per bulan masih dibawah UMP. Tingkat pendapatan nelayan yang rendah ini mengakibatkan nelayan hidup dalam keadaan miskin, tidak berdaya, terpuruk dan rentan terhadap penyakit. Dari hasil analisis regresi model 1, diketahui bahwa faktor modal kerja, panjang jaring, ukuran mesin, intensitas melaut dan faktor dummy pinjaman kelompok (1 jika ada pinjaman, 0 jika tidak) nelayan berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan kelompok usaha nelayan. Sementara dalam model 2, ada 3 faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan bersih kelompok usaha nelayan. Faktor-faktor tersebut adalah modal kerja, panjang jaring dan faktor dummy pinjaman kelompok (1 jika ada pinjaman, 0 jika tidak). Secara simultan, semua variabel independen yang dimasukkan dalam model berpengaruh positif dan signifikan terhadap baik penerimaan maupun pendapatan bersih kelompok usaha nelayan. Hasil studi ini menyarankan beberapa hal antara lain (1) nelayan menjual ikan langsung di pasar, tidak melalui papalele; (2) perlu adanya wadah kerja sama berbentuk koperasi nelayan; (3) sebaiknya mesin bantuan pemberdayaan nelayan yang diberikan pemerintah daerah adalah mesin jenis ketinting 5,5 PK; (4) pengadaan tempat pelelangan ikan.
This research aims to (1) counting fisher group’s income in Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara Regency, for both gross and net income; (2) counting per person fisher income monthly and compare to minimum wage of province level (MWP) Maluku Province, 2008; and (3) analyze factors influencing fisher group’s income, both gross and net income. This research took place in Kecamatan Kei Kecil Maluku Tenggara Regency from September until October 2008 by using data collected from 36 fisher groups. The factors assumed influence to the fisher group’s income is confirmatory. Tools used are revenue function, net income function, income sharing system and multiple regression function (OLS). The result of revenue counting shows that the gross income fisher group per month using bigger engine power (40 HP) is more than smaller one (15 HP and 5,5 HP). How ever, net income for fisher group per month using smaller engine power (5,5 HP) is more than the biggers (40 HP and 15 HP). Based on the income sharing system, known that income per fisher on avarage Rp603.650 per month. While the minimum wage of province level (MWP) for Maluku Province for 2008 is Rp870.000. It means, income per fisher per month is still less than MWP. Such income level create fishers live in poor, powerless, voicelessness and vulnerable on disease. The result of multiple regression function model 1, shows that the factors of working capital, net length, power engine, fishing hour, and dummy loan (1 if any loan, 0 otherwise) significantly influence to gross income of fisher groups. While in the second model (model 2), the factors significantly influencing net income of fisher group are working capital, net length, and dummy loan (1 if any loan, 0 otherwise). Simultanously, all factors in the two models used are positive and significant on both gross and net income fisher groups. Result of this study suggests the followings (1) fish must be sold direct to the local market, not to fish collectors; (2) to form fisher’s cooperation board; (3) the type of engine in the package of local government’s aid to empowering fisher group is ketinting 5,5 HP; (4) providing place for fish auction.
Kata Kunci : Nelayan,Kelompok nelayan,Pendapatan,Bagi hasil,Modal kerja,Ukuran mesin,Intensitas melaut,fisher, fisher groups, income, income sharing, working capital, power engine, and fishing hour