Laporkan Masalah

Building social capital for community development :: A comparative perspective from 2 Hamlets, Krasakan and Kranggan 1, in Sleman District, Yogyakarta, Indonesia

SRIHARJONO, Benedictus Setyo, Prof. Dr. Lynn Thiesmeyer

2008 | Tesis | S2 Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Modal sosial telah dipandang memiliki hubungan positif terhadap beragam pembangunan masyarakat. Penelitian ini membandingkan, menjelaskan dan menganalisis peran modal social dalam pembangunan di 2 dusun, di Kabupaten Sleman, Indonesia. Dua dusun tersebut memiliki kesamaan sumber daya dan demografi. Dusun Krasakan sangat aktif mengirimkan dan meminta proposal dana stimulus dari pemerintah daerah. Dusun ini juga aktif melaksanakan pembangunan masyarakat secara gotong-royong seperti konblokisasi jalan dusun dan perbaikan irigasi. Di sisi lain, Dusun Kranggan 1 tidak seaktif seperti Dusun Krasakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Survey yang dilakukan menggunakan kuesioner dari World Bank Working Paper No 18 yang telah disesuaikan dengan kondisi masyarakat di daerah penelitian dan tujuan penelitian. Masyarakat yang memiliki modal sosial lebih baik, yakni dalam dimensi network, kegiatan kolektif dan juga persepsi yang lebih baik terhadap kredibilitas pemimpin lebih berhasil dalam mendapatkan dana stimulus dan dalam melaksanakan pembangunan masyarakat. Pemimpin di tingkat lokal di dusun memiliki peran kunci dalam memaci proses pembangunan masyarakat dan dalam pembentukan atau penurunan tingkat modal sosial di masyarakat desa. Pemimpin yang cakap dibutuhkan dalam pembentukan modal sosial untuk mewujudkan pembangunan masyarakat di desa. Namun, pemimpin cakap yang mampu mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pembangunan ini tidak dimiliki oleh setiap masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pemimpin di tingkat lokal dalam mendorong masyarakat melaksanakan pembangunan di desanya.

Social capital has been linked positively to various community developments. This study compares, describes, and analyzes the role of social capital in community development in 2 Hamlets, in Sleman District, Indonesia. The two hamlets have similarity in demographics and resources. One hamlet, Krasakan, is very active in proposing and demanding the stimulus fund from the local government and in conducting community development through the tradition of gotong royong (mutual assistance) e.g. paving hamlet roads and upgrading irrigation system. On the other hand Kranggan 1 hamlet is as not active as Krasakan Hamlet. Communities with more social capital in terms of network, collective action, and perception to the leaders’ credibility are more successful in receiving the stimulus fund and in conducting community development. The leaders of the local institutions in the hamlet play key roles in stimulating the process of community development and in building or decreasing the level of social capital in rural area. A good leadership is needed in promoting social capital to pursuit community development in rural area. However, not every community has a good leader who able to achieve community goals in undertaking development activities. Therefore, such training programs to improve the capability of local leaders in assisting the communities to conduct community development.

Kata Kunci : Modal sosial,Gotong,royong,Pembangunan masyarakat,Kepemimpinan,social capital, gotong-royong (mutual assistance), community development, local institutions, leaderships


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.