Laporkan Masalah

Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi penggunaan bahan bakar elpiji dan identifikasi golongan adopter pada masyarakat Yogyakarta

NAWARINI, Alisa Tri, B.M. Purwanto, Dr., MBA

2008 | Tesis | S2 Magister Manajemen

Program konversi minyak tanah ke gas adalah strategi yang diambil pemerintah untuk mengatasi semakin tingginya harga minyak mentah dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat adopsi bahan bakar elpiji pada masyarakat serta mengidentifikasi golongan adopter. Factor-faktor yang dapat mempengaruhi adopsi inovasi dalam penelitian ini diteliti dengan menggunakan karakteristik-karakteristik inovasi dari Rogers (1995) yang terdiri dari keunggulan relatif inovasi, kesesuaian inovasi dengan keadaan responden, kemudahan penggunaan inovasi, kemudahan suatu inovasi untuk dicoba, kemudahan untuk melihat hasil penerapan inovasi dan tingkat kesukarelaan responden dalam mengadopsi suatu inovasi. Penelitian ini dilakukan terhadap dua golongan responden, yaitu responden usaha mikro (pedagang makanan kaki lima) dan responden rumah tangga dengan menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam dengan responden. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak sepuluh orang dari kalangan usaha mikro dan sepuluh orang dari kalangan rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata produk yang diposisikan baik oleh produsen dapat saja berubah menjadi produk dengan posisi yang buruk di benak konsumen jika tidak disertai dengan pelaksanaan strategi pemasaran yang baik pula dari produsen. Kurang intensifnya sosialisasi yang diberikan pemerintah mengenai penggunaan elpiji telah membuat proses adopsi bahan bakar elpiji di Yogyakarta berlangsung lambat. Proses adopsi bahan bakar elpiji di Yogyakarta telah mengalami beberapa hambatan yang telah mempengaruhi keputusan responden untuk tidak beralih mengunakan elpiji. Hambatan yang dialami oleh responden usaha mikro adalah hambatan nilai karena responden belum dapat melihat manfaat lebih dari penggunaan bahan bakar elpiji untuk tujuan produksi. Bagi responden rumah tangga, hambatan yang dialami berupa hambatan dalam penggunaan elpiji dan hambatan resiko yang terjadi akibat persepsi buruk terkait kerawanan bahan bakar elpiji. Hambatan nilai yang dialami oleh responden usaha mikro dapat diatasi dengan menetapkan harga elpiji yang lebih rendah bagi pelaku usaha mikro untuk mendorong kesediaan responden dalam menggunakan elpiji. Sedangkan untuk mengatasi hambatan penggunaan dan resiko pada responden rumah tangga, pemerintah dapat memanfatkan orang-orang yang disegani di masyarakat sebagai agen perubahan.

Petroleum to Liquid Petroleum Gas conversion program is a strategy taking by government to overcome increasing world crude oil price. This research has the aims to know the factors that affect Liquid Petroleum Gas adoption process in Yogyakarta and to identify adopters’ categories based on their voluntariness to use Liquid Petroleum Gas. The factors that affect innovation adoption in this research is examined by using the innovation characteristics proposed by Rogers (1995). The factors are relative advantage, compatibility, complexity, trialibility, observability and voluntariness. This research was carried out on two respondent categories; they are micro entrepreneurs (food hawkers) and household respondent by using observation and in depth interview method. The respondents in this research are ten people from micro entrepreneur category and ten people from household category. The results of research shows that good positioning product can turned out to be bad positioning product if it doesn’t followed by good marketing strategy execution by manufacturers’. Socialization program carried out by government is still less intensive so it has bad affect to Liquid Petroleum Gas adoption process in Yogyakarta. Liquid Petroleum Gas adoption process in Yogyakarta has some barriers that could cause society to reject using Liquid Petroleum Gas. Liquid Petroleum Gas adoption barrier faced by micro entrepreneur category is value barrier. Value barrier is happened because respondent still can’t felt more advantage by using Liquid Petroleum Gas in their production process. In household category, the barriers faced by them are usage barrier and risk barrier. These barriers are caused by respondents’ bad perception toward danger in using Liquid Petroleum Gas. Value barrier faced by micro entrepreneur category could handle by set lower price to encourage them using Liquid Petroleum Gas in their production process. Usage barrier and risk barrier faced by household category could handle by using society opinion leaders’ as change agent.

Kata Kunci : Keunggulan,Penggunaan inovasi,Kemudahan suatu inovasi untuk dicoba, relative advantage, compatibility, complexity, trialibility,observability and voluntariness


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.