Laporkan Masalah

Community participation in collaborative forest management :: A case study of the Linggajati community, Kuningan Regency, Indonesia

FULTON, Mochammad Danny, Dr. R. Rijanta, M., Sc

2008 | Tesis | S2 MPKD

Hutan adalah sumberdaya alam yang dapat diperbaharui yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi. Dewasa ini pembangunan hutan di Indonesia, diarahkan oleh kebijakan sehingga hutan dapat menyediakan keuntungan yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat dengan memelihara kelestarian dan keberlanjutan fungsi hutan. Studi ini difokuskan pada pengaruh program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dalam suatu daerah di Pulau Jawa, yaitu Kabupaten Kuningan. PHBM meningkatkan pengelolaan sumberdaya hutan, dimana Perhutani melibatkan masyarakat dan stakeholder lain untuk bekerjasama dengan semangat bagi hasil, sehingga kepentingan bersama untuk meraih keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dapat tercapai secara optimal dan proporsional. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji apakah dan dalam hal apa, partisipasi masyarakat urban dalam program PHBM mempengaruhi kelestarian pembangunan hutan di Kecamatan Cilimus. Penelitian ini bertipe explanatory research, yang bertujuan di satu sisi untuk mengkaji pengaruh partisipasi masyarakat urban dalam program PHBM terhadap kelestarian fungsi hutan di Kecamatan Cilimus dan di sisi lain untuk menginvestigasi keuntungan ekologi, finansial dan sosial program ini terhadap masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian kualitatif. Strategi penelitian yang digunakan dapat dikatakan sebagai kombinasi antara case study, seperti wawancara, survei dan focus group discussions. Data sekunder seperti laporan, artikel dan dokumen lain yang relevan didapat dari organisasi pemerintah, Perhutani, LPI-PHMB, dan LSM yang terkait. Data primer didapat penelitian lapangan selama kurang lebih satu bulan, sejak tanggal 30 Juli hingga 4 September 2007, di Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Instrumen penelitian in adalah kombinasi dari wawancara mendalam dan kuisioner dengan pilihan jawaban tersedia. Pemilihan responden kunci untuk wawancara berdasarkan purposive sampling. Selanjutnya, untuk survey di antara populasi penelitian dalam hal persepsi masyarakat tentang kelestarian hutan, maanfaat yang didapat oleh masyarakat dari program ini, tingkat partisipasi masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat, kuisioner dengan pilihan jawaban tersedia, diterapkan terhadap anggota masyarakat Linggajati yang telah terseleksi. Teknik pengambilan contoh untuk menyeleksi responden dari masyarakat terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama menggunakan purposive sampling. Memilih rumah tangga yang tergabung dalam program ini. Tahap kedua, secara acak mengambil contoh dari grup pertama yang telah terpilih. Disebakan keterbatasan waktu dan ketersedian financial untuk penelitian ini, jumlah responden dari masyarakat dibatasi sebanyak 40 rumah tangga. Temuan utama penelitian ini adalah: pertama, adanya masalah illegal logging sewaktu Perhutani mengelola hutan, khususnya sepanjang tahun 1998-2000 (era reformasi). Selama periode tersebut di Kuningan terjadi tingkat deforestasi tertinggi. Kedua, masyarakat adalah titik pusat di setiap proses dan kegiatan program PHBM. Pelaksanaan di lapanan yang terdiri dari penanaman, pembibitan, pemeliharaan, penjagaan dan perlindungan tanaman, dan pemanfaatan produk hutan. Pada setiap tahap proses PHBM, setiap perkembangan, masalah dan pemecahannya diinformasikan dan didiskusikan dengan seluruh stakeholder. Sebelum menjadi mitra Perhutani dalam mengelola hutan, masyarakat diberdayakan terlebih dahulu. Ketiga, dalam PHBM, semua keputusan berasal dari negoisasi dan konsensus antara masyarakat, Perhutani dan stakeholder lainnya. Tidak ada pihak yang lebih berkuasa dari yang lainnya. Setiap stakeholder adalah sama dan suara mereka diperhatikan selama secara teknis dapat diterapkan. Keempat, motivasi, hak pengelolaan lahan hutan yang tak terbatas, rasa memiliki, pimpinan masyarakat, pendekatan pembelajaran, agen perantara, komitmen masyarakat, dan dana adalah faktor-faktor yang memicu partisipasi masyarakat. Selanjutnya, untuk memelihara kelestarian hutan, masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan untuk menjaga dan melindungi hutan. Untuk menjaga hutan dari kebakaran dan illegal logging, masyarakat melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti patroli (secara sengaja maupun sambilan). Terahir, manfaat yang didapat oleh masyarakat dari program ini dapat dikategorikan dalm tiga grup, manfaat ekologi (kondisi udara, ketersediaan air bersih), financial (peningkatan pendapatan), dan sosial (peningkatan kepedulian dan pengetahuan masyarakat, aktualisasi dan kesempatan kerja) Sebuah rekomendasi, partisipasi aktif masyarakat Linggajati dalam mengelola hutan terbukti efektif dalam memelihara kelestaria hutan. Diharapkan, di masa mendatang, masyarakat semestinya dilibatkan dalam pengelolaan hutan, siapapun yang akan menjadi pengelola hutan nantinya.

Forest is a renewable natural resource which has economic and ecological value. Forest development in Indonesia is nowadays directed by policy in such a way that it provides optimal advantage for community welfare by maintaining the sustainability and continuity of its function. This study focuses on the impact of the Colaborative Forest Mangement Program (CFMP) in a particular region on Java Island, namely Kuningan Regency. The CFMP promotes forest resource management under which Perhutani involved communities, other stakeholders to collaborate with the spirit of sharing, so that common interest to achieve the continuity of function and the advantage of forest resource can be realized optimally and proportionally. The main object of this research is to assess whether and in what manner, urban community participation in the CFMP is effecting sustainable development of the Cilimus Sub-district forest. This research is an explanatory research, which aims on the one hand to assess the effect of urban community participation in the CFMP on the sustainability of forest functions in Cilimus Sub-district and on the other hand investigates the ecological, financial, and social benefits of the program to the community. The method used in this research is a qualitative assessment. The research strategy can be considered combination between a case study research by means of interviews, surveys and focus group discussions. Secondary data such as reports, articles, and other relevant documentations is collected from governmental agencies, Perhutani, ISO-CFMP, and an involved NGO. Primary data were collected during a one-month fieldwork period from 30th July 2007 till 4th September 2007 in Kuningan Regency, West Java province, Indonesia. The research instruments were a combination of in-depth interviews with openended questionnaires. The choice of key respondents for these interviews is based on purposive sampling. Furthermore, for the survey among the research population on the community’s perception of the sustainability of forest, the benefits that the community obtains from the program, the level of participation and the factors that effect the level of participation open-ended questionnaires were applied among selected members of the community of Linggajati. The sampling technique for selecting the respondents from the community was divided into two stages. The first stage involved a purposive sampling choosing households of the Linggajati community that joined the program. The second stage involved a randomly sampling of the first selected group. Considering the limited time and finances available for the research, the number of community respondents was restricted to 40 households. The main findings of the research are: firstly, there was illegal logging problem when Perhutani managed the forest, especially during 1998-2000 (reformation era). During that period Kuningan faced the highest deforestation ever. Secondly, the community is the central point in every process and activity of the CFMP. Performance in the field consists of plantation, nursing, maintaining, protecting, and preserving the plants, and exploiting the forest product. At each level of the CFMP process, every progress, problem and solution which has been done were informed to and discussed with all stakeholders. Before becoming Perhutani’s partner in managing forest, community was empowered. Third, in the CFMP, all decisions come from negotiation and consensus among the community, Perhutani and other stakeholders. There is no party that more powerful than the other. Every stakeholder is equal and its voice is taken into account as long as technically can be implemented. Forth, motivation, unlimited right of land tenure, sense of belonging, the community’s leader, learning approach, intermediary agency, government commitment, and funds are factors encouraging participation of the community. Hence, to maintain the sustainability of the forest the community conducts activities to protect and preserve the forest. To prevent the forest from fire and illegal logging, the community conducts activities such as patrols (purposely and not purposely). Lastly, the benefit that community obtains from the program is grouped in three kinds, ecological (air condition, clean water availability), financial (income increased), and social (the increasing of community awareness and knowledge, actualization and job opportunity) benefits. One recommendation arising from the field, the active involvement of Linggajati community in managing the forest is proven effective in maintaining sustainability of the forest. Hopefully, in the future the community should be involved in managing the forest, whoever will be the manager the forest.

Kata Kunci : Partisipasi,Collaborasi,Pengelolaan hutan,Linggajati, collaborative, participation, community, forest management


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.