Laporkan Masalah

Aspek religius dalam novel Auladu charatina karya Najib Macfuzh dalam kaitannya dengan teks Al-Qur'an dan Hadis :: Analisis intertekstual

WIJAYANTI, Wira Kautsari, Dr. Sangidu, M.Hum

2008 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Aulādu Chāratinā adalah novel karya Najīb Machfūzh yang mengantarkannya meraih nobel sastra. Novel ini mendapat banyak kritikan karena dianggap melecehkan agama, namun setelah diamati dengan seksama, ternyata novel ini memuat banyak aspek religius. Karya sastra berlatarbelakang keagamaan atau religi biasanya dikaitkan dengan aspek moral. Sastra dan religi hendaknya dapat berjalan seiring dan saling membantu. Hal tersebut mengingat karya sastra adalah wadah yang cukup dapat diandalkan dalam pembinaan moral keagamaan. Di lain pihak, moral keagamaan ini merupakan problem yang selalu menarik untuk ditampilkan dalam sebuah karya sastra. Najīb Machfūzh seorang sastrawan yang lahir dari keluarga religius menggoreskan pesan-pesan religinya dalam novel Aulādu Chāratinā. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan keterkaitan aspek religius dalam teks Aulādu Chāratinā karya Najīb Machfūzh dengan teks al-Qur’an dan hadis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hikmah dan pelajaran kepada para pembaca melalui aspek-aspek religius yang terkandung dalam novel atau memberikan gambaran kadar penghayatan tentang keagamaan. Karena itu, untuk mengungkapkan hal tersebut, dimanfaatkan teori intertekstual dengan metode perbandingan. Prinsip intertekstual memandang setiap teks sastra dibaca dengan latar belakang teks-teks lain. Tidak ada sebuah teks pun yang sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain. Metode perbandingan adalah metode yang membandingkan salah satu unsur struktur dalam teks Aulādu Chāratinā dengan teks al-Qur’an dan hadis. Dalam hal ini teks al-Qur’an dan hadis menjadi latar penciptaan teks Aulādu Chāratinā. Dari hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa dalam teks Aulādu Chāratinā memuat banyak aspek religius yang ditransformasikan dari teks al-Qur’an dan hadis. Di samping itu pesan-pesan religius yang disampaikan oleh Najīb Machfūzh dalam teks Aulādu Chāratinā ini, diperankan melalui beberapa tokoh yang terdapat dalam novel, yaitu Adham, Jabal, Rifa’ah, Qasim dan Irfah.

Aulādu Chāratinā is the work of Najīb Machfūzh that led him to achieve Nobel award for Literature in 1988. Although this novel earned so many criticisms for its abuse of religion, the investigation of this research shows that it actually contains many religious aspects. Literary works that employ religion as their background usually comprise moral teachings. Literature and religion, on one hand, are expected to work together and help each other for a literature is an extremely reliable tool for learning religious ethics, and, on the other hand, religious morality also everlastingly serves interesting issues to be written in a literary work. Najīb Machfūzh, a writer born in a religious family, proves that religious messages and literature are intimately intertwined in his work, Aulādu Chāratinā. This research aims to explore the relation between religious aspects of Aulādu Chāratinā written by Najīb Machfūzh and the Qur’anic and Hadith texts. It expects to give lessons and wisdoms to the readers about religious aspects within the novel or to present a picture of the religious understanding of the novel. To expose them, therefore, this research employs intertextuality theory with comparative method. Intertextuality principle understands that each text should be read with the background of other texts. No text is independent, meaning that the creation and the reading of the text could not be done without the existence of other texts. The comparative methode is used to compare one element in both of the structures Aulādu Chāratinā and al-Qur’an and Hadis. Regarding this novel, Qur’anic and Hadith texts are the background of the creation of the texts. It is found from the research that the text of Aulādu Chāratinā by Najīb Machfūzh does contain many religious messages transformed from Qura’nic and Hadith texts. In addition, these religious messages are expressed by the figures of Adham, Jabal, Rifaah, Qasim and Irfah, whom are analogous figures of the prophets in the Qur’an, and, therefore, shows the strong intertextuality relation between Aulādu Chāratinā and the Quranic and Hadith texts.

Kata Kunci : Religius,Intertekstual,Perbandingan, Religious Morality, Intertextuality, Comparative


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.