Laporkan Masalah

Pendekatan geoekosistem untuk zonasi daerah rawan tsunami di wilayah kepesisiran Johan Pahlawan kabupaten Aceh Barat

HARAHAP, Evi Aguswandi, Prof. Dr. Sutikno

2008 | Tesis | S2 Magister Pengelolaan Lingkungan

Penelitian ini bertujuan untuk (a) mengkaji zonasi daerah rawan bencana tsunami dengan pendekatan satuan geoekosistem pada wilayah kepesisiran Johan Pahlawan, (b) mengkaji kesesuaian RTRW Kabupaten Aceh Barat kaitanya dengan zonasi daerah rawan bencana tsunami, dan (c) mengkaji persepsi masyarakat tentang efektifitas rehabilitasi pembangunan permukiman kembali (resettlement) di wilayah kepesisiran yang terkena tsunami. Penelitian ini menggunakan metode survei yaitu kegiatan pengumpulan data skunder, data primer tentang kondisi abiotik, biotik dan kultur. Data primer diperoleh dari survei di lapangan, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instansi. Data Primer tentang komponen fisikal diperoleh dari survei lapangan, sedangkan data primer tentang persepsi masyarakat diperoleh dari hasil wawancara dengan 380 responden yang dipilih secara pursposif di delapan desa di Kecamatan Johan Pahlawan. Analisis yang digunakan adalah kuantitatif, kualitatif dan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga zona di wilayah kepesisiran Johan Pahlawan yaitu zona aman, zona rawan, dan zona sangat rawan. wilayah kepesisiran Johan Pahlawan merupakan daerah yang sangat rawan terhadap bencana tsunami maupun gelombang pasang. Hal ini dikarenakan bentuk pantai yang lurus dengan kemiringan kurang dari 2% dan tersusun oleh pasir halus yang tidak dapat meredam energi yang timbul dari gelombang tsunami ataupun gelombang pasang. Zona sangat rawan ini permukiman penduduk harus lebih dibatasi dan struktur bangunannya menyesuaikan dengan kondisi tanahnya yang labil, sebab bila terjadi bencana alam akan menelan banyak korban. Pada saat ini, wilayah dalam zona ini masih banyak digunakan sebagai permukiman dan fasilitas umum seperti sekolah dan perkantoran. Zona rawan merupakan daerah 1 – 2 km dari garis pantai dan rawan terhadap bahaya tsunami. wilayah ini masih dimungkinkan untuk digunakan sebagai tempat perdagangan, permukiman ataupun kantor pemerintahan dengan perlakuan tertentu. Daerah ini umumnya merupakan rawa depan yang tidak stabil sehingga dalam pembangunan infrastruktur perlu penanganan khusus yaitu dengan penimbunan. Pada wilayah ini dapat dibangun permukiman, untuk para nelayan yang akan memudahkan mereka beraktivitas di laut. Permukiman yang dibuat dapat dengan bentuk rumah panggung sebagai usaha menyesuaikan dengan daerah rawa. Kesesuaian RTRW dengan pendekatan satuan geoekosistem sangat sesuai, akan tetapi pelaksanaannya di lapangan tidak diterapkan oleh Pemerintah Daerah. Persepsi masyarakat terhadap efektifitas pembangunan permukiman kembali, sangat efektif karena 68,42 % penduduk wilayah kepesisiran Johan Pahlawan adalah nelayan.

The aims of this research are: (a) to analyze of zone tsunami hazard geoecosystem unit approach in Johan Pahlawan coastal area, (b) to study the suitability of spatial planning of Aceh Barat regency in relation to tsunami hazard area zone, and (c) to know the society perception on effectiveness of resettlement in coastal area suffered from tsunami. This research use survey method that is collection of secondary data and primary data on abiotic, biotic and culture condition. Primary data was obtained from field survey, while secondary data was gathered from relevant institutions. Primary data on componen physical was obtained from field survey, while primary data on society perception from field interview for 380 respondents of society in Johan Pahlawan coastal area in eight villages. The research analisys qualitative, quantitative and spatial (map overlay) approach. Result of the research indicate there is three zone in territory very hazard, hazard and safeks area against tsunami or tidal wave. Johan Pahlawan coastal area is tsunami hazard area zone and of tidal wave. Matter this caused by beach shape flat slope coast with less 2% and consists of fine sand that cant absorb energy rise from tsunami wave of tidal wave. For the area, settlement should be limited and building structure is adjusted to labile soil condition, else the natural disaster will make many victims or recreation parks. Enough moment this area in zone is used for settlement and public facilities such as school and offices. Hazard zone is 1-2 km from coast line and sensitive to tsunami. The area is still possible use in for trading, settlement or office area with specific treatment. This area is general us swamp front territory not stable so infrastructure construction requires special treatment with pilling up. Settlement for fishermen can be constructed in this area, for rubber fisherman the will easily their on sea activities . The settlement can be constructed stage house to adjust with marsh area. Suitability of spatial arrangement plant of Aceh Barat with geoecosystem unit approach very agree, will but on field not apply because of territory government. people perception on effectiveness of resettlement very efectiveness because 68,42 % of people in Johan Pahlawan coastal area with fishermen.

Kata Kunci : Geoekosistem,Wilayah kepesisiran,Daerah rawan tsunami,Persepsi masyarakat,coastal area,geoecosystem, Hazard tsunami, society perception


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.