The impact of landcover change on discharge response and flood hazard :: A case study in Gesing subwatershed, Indonesia
PRATISTO, Arif, Dr. Projo Danoedoro
2008 | Tesis | S2 Geo-Informasi untuk Manajemen BencanaPertumbuhan penduduk menimbulkan permasalahan lingkungan yang komplek berkaitan dengan aspek keruangan. Tekanan penduduk terhadap lahan mempengaruhi terjadinya konversi penggunaan lahan. Konversi penggunaan lahan berarti juga konversi terhadap penutupan lahan. Perubahan penutupan lahan dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan factor pertumbuhan penduduk. Masyarakat akan selalu berusahan memaksimalkan lahan mereka untuk menghasilkan keuntungan terbaik dengan memilih jenis tanaman yang paling menguntungkan. Pertumbuhan penduduk memerlukan lahan untuk perumahan bagi mereka sehingga masyarakat mengkonversi lahan-lahan yang masih berhutan menjadi areal untuk rumah. Salah satu efek dari perubahan penutupan lahan adalah masalah banjir yang terjadi di outlet. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penutupan lahan selama periode 1992 – 2003 di Sub DAS Gesing. Perubahan penutupan lahan di Gesing secara umum dapat di bagi menjadi tiga bagian. Perubahan penutupan lahan di daerah atas relatif tidak banyak. Pada bagian bawah relative tidak berubah. Perubahan paling mencolok terjadi di bagian tengah. Kawasan berhutan mengalami penurunan dari 2934.76 ha di tahun 1992 menjadi 2419.41 ha di tahun 2003. Pada saat yang sama lahan kosong bertambah dari 102.89 ha di tahun 1992 menjadi 455.24 di tahun 2003. Daerah kebun juga mengalai peningkatan dari 885.67 ha di tahun 1992 menjadi 1048.38 di tahun 2003. Konversi dari hutan menjadi kebun menduduki peringkat paling tinggi. Total luasan yang dikonversi dari hutan menjadi kebun adalah seluas 545.84 ha. Penurunan kualitas penutupan lahan berdampak negative terhadap proses hidrologi di sub DAS Gesing. Perubahan penutupan lahan berpengaruh nyata terhadap volume debit air di sungai. Penelitian ini menggunakan software PCRaster untuk memodelkan debit air tahun 1992 dan 2003. Berdasarkan hasil pemodelan debit air mengalami peningkatan sebesar 31.28m3/s dari tahun 1992 ke tahun 2003. Debit air pada tahun 1992 sebesar 79.97m3/s sedangkan debit air di tahun 2003 sebesar 111.24m3/s. Kenaikan debit air menimbulkan kenaikan bahaya banjir. Tingkat bahaya banjir ditentukan berdasarkan ketinggian banjir. Ketinggian banjir di ukur di lapangan berdasar partisipasi masyarakat. Peta banjir di dibuat menggunakan Gaussian Krigin di software ILWIS 3.3. Berdasarkan hasil kriging ketinggian banjir di tahun 1992 adalah 0-0,7m sedangkan banjir di tahun 2003 setinggo 0-0,98m. Selaian ketinggian banjir yang meningkat, luasan banjir juga mengalami peningkatan. Kenaikan banjir selain disebabkan oleh aspek perubahan penutupan lahan juga disebabkan oleh aspek hujan dan juga pengaruh sedimentasi yang terjadi di sungai.
Population growth provokes environment problems related to space. Interaction between human and environment is very complex. Human pressure causes forest conversion from forest to other land uses which is also expressed as conversions in land cover types. Those changes are mostly caused by economic and population growth reasons. People always maximize their land to get the best benefit by choosing the commodity that gives the best benefit. Population growth needs more space for their settlement, housing and farming so that people cut down the forest. The wood will be used to make their house. One of the effects of land cover is flood on the down stream. This research aims to analyze the pattern of land cover change during 1992 to 2003 and to analyze the effect of land cover change to the discharge and flood hazard on the down stream. Land cover change in Gesing subwatershed can be divided into three parts. Land cover in the upper part changed slightly. The down stream the changing is relative not significant. The most significant land cover change happened on the middle part of Gesing subwatershed. During 1992 to 2003 the forest area decreased from 2934.76 ha in 1992 to 2419.41 ha in 2003. In the same time, the barren land increased from 102.89 ha in 1992 to 455.24 ha in 2003. Plantation area also increased from 885.67 ha in 1992 to 1048.38 ha in 2003. Conversion from forest to plantation is the highest. Total conversion area from forest to plantation is 545.84 ha. The conversion from forest to plantation occurred because the people interested in clove that gives more benefit to them. Decreasing land cover influences a negative effect on hydrological processes. It affected to the discharge. The discharge in 1992 and 2003 were modeled using PCRaster. Based on the modeling, discharge during 1992 to 2003 increased 31.28m3/s. Discharge in 1992 is 79.97m3/s and discharge in 2003 is 111.24m3/s. Increasing discharge affects to the flood hazard on Piji Kibon. In this research, flood hazard was determined by flood height. The flood height in Piji Kibon was determined using kriging in ILWIS 3.3. Based on kriging, flood height increases during 1992 to 2003. Flood height in 1992 varies from 0-0.7m and flood height in 2003 varies from 0-0,98m. The flood extent also increased. The flood area in 2003 is wider than in 1992. The flood increasing flood height is not mainly caused by land cover change. It is also caused by the rainfall and may be caused by sedimentation on the river.
Kata Kunci : Sub DAS Gesing, Perubahan penutupan lahan, Debit air, Banjir, Remote Sensing, PCRaster, ILWIS 3.3, Gesing subwatershed, Land cover change, Discharge, Flood hazard, GIS and Remote Sensing,