Laporkan Masalah

Akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan di Kabupaten Bolaang Mongondow

KAINAKAIMU, Ferdinandus, Dr. Anna Marie Wattie

2008 | Tesis | S2 Magister Studi Kebijakan

Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan dalam tiga dekade ini telah cukup berhasil meningkatkan derajat kesehatan. Namun demikian derajat kesehatan di Indonesia, khususnya di kabupaten Bolaang Mongondow masih terhitung rendah apabila dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang sudah maju. Penelitian ini bertujuan: 1) untuk menganalisis akses rumah tangga miskin terhadap pelayanan kesehatan di kabupaten Bolaang Mongondow; 2) untuk mengetahui dan mengidentifikasi kendala-kendala internal dan eksternal dalam mengakses pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tiga teknik pengumpulan data, yaitu wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Informan meliputi dua macam, yaitu para stakeholder penyedia pelayanan kesehatan (provider) dan penguna pelayanan kesehatan (klien). Informan kategori pertama meliputi Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Bolaang Mongondow dan dua orang petugas kesehatan. Informan kategori kedua adalah sebelas orang warga miskin pemegang kartu Askeskin yang mendapatkan pengalaman dalam mengakses pe layanan kesehatan di puskesmas. Dalam pengolahan data penelitian, semua data dan informasi yang diperoleh baik data primer (diperoleh melalui wawancara) maupun data sekunder (berupa laporan-laporan) dikelompokan dan disajikan mengunakan metode deskriptif dengan teknik analisa kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Akses rumah tangga miskin terhadap pelayanan kesehatan di kabupaten Bolaang Mongondow belum tercapai secara maksimal. Hal ini terindikasi bahwa tidak semua penduduk dapat mengakses pelayanan kesehatan, dimana masih banyak penduduk yang ketika sakit (walaupun memiliki Askeskin) namun memutuskan untuk merawat sendiri atau bahkan tidak sedikit yang menggunakan rawat jalan swasta. Ironisnya dari hasil temuan masih dijumpai warga mampu yang mendapatkan kartu Askeskin sehingga mengurangi akses rumah tangga miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu. Tidak hanya itu warga miskin yang seharusnya mendapatkan pelayanan kesehatan gratis karena memiliki kartu Askeskin masih tetap mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar pelayanan kesehatan berupa jasa pertolongan persalinan dan posyandu bagi balita. 2) Kendala -kendala dalam mengakses pelayanan kesehata n meliputi kendala internal dan kendala eksternal. Kendala-kendala internal adalah kendala -kendala yang berasal dari warga miskin pemegang kartu Askeskin sebagai pengguna layanan kesehatan (klien) dalam mengakses pelayanan kesehatan di puskesmas. Kendala-kendala eksternal adalah kendala - kendala yang berasal dari penyedia layanan kesehatan (provider) dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada warga miskin Rekomendasi kebijakan diajukan kepada: 1) Dinas Kesehatan kabupaten Bolaang Mongondow untuk meningkatkan pemberian informasi terkait dengan manfaat Askeskin sehingga masyarakat miskin termotivasi untuk berobat ke puskesmas; 2) Pemerintah Daerah dan DPRD kabupaten Bolaang Mongondow agar tetap berkomitmen untuk memperbesar alokasi anggaran daerah pada bidang kesehatan, terutama untuk warga miskin sehingga dapat gratis 100 persen; 3) Bagi pengambil kebijakan di pusat perlu berpikir untuk meningkatkan sosialisasi di tingkat masyarakat dan pengambil kebijakan.

Sustainable development on health sector in the last three decades increases the level of health significantly. However, health level in Indonesia generally, and Bolaang Mongondow district specialy, is categorized as low compared to other more advanced regions. The study aims at : 1) analyzing poor families’ access to healthcare in Bolaang Mongondow; 2) finding and identifying internal and external difficulties in accessing healthcare. The study uses qualitative methods with three data collection methods of in-depth interview, observation, documentation. The informants are categorized as providers and clients of healthcare. First category informants are the Head of Health Office of Bolaang Mongondow and two health professionals. Second category informants are eleven poor families holding Askeskin (health insurance program for poor people) card that have experience in accessing healthcare in Puskesmas (community health center). In data processing, all data and information obtained, both primary (from interviews) and secondary (from reports), are grouped and presented using descriptive method and qualitative analysis technique. Result indicates that: 1) poor family’s access to healthcare in Bolaang Mongondow is not yet optimum- not all people can access healthcare: many Askeskinholder, when ill, decide to either take care of themselves or seek medical treatment from private hospitals. Ironically, findings show that some financially able people get the Askeskin card, which to some degree impede the poor families’ access to quality healthcare. Also, poor families are sometimes charged additional fees to cover such healthcare as childbearing and maternal and infant healthcare; 2) difficulties in accessing healthcare are internal and external. Internal difficulties arise from Askeskin card holder themselves in accessing healthcare in Puskesmas. External difficulties come from the providers of healthcare in giving services to poor families. Recommendations are made to: 1) Health Office of Bolaang Mongondow to improve informations on the benefits of Askeskin so that poor families are motivated to go to Puskesmas; 2) the Local Government and Local Legislatures in Bolaang Mongondow to keep committed to rise the local budget for health sector, especially for poor families so that they are 100% freed from charge; 3) policymakers in the central government to do more socialization in the level of people and policymakers.

Kata Kunci : Pelayanan kesehatan,Akses masyarakat, Access, Poor, Healthcare


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.