Kinerja pelayan medis di puskesmas Kota Singkawang
PRIHARTONO, Rindar, dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Kendala pelayanan kesehatan yang masih dirasakan oleh puskesmas di berbagai daerah salah satunya adalah keterbatasan tenaga medis. Selama ini puskesmas masih merasakan ketimpangan dalam jumlah tenaga pelayan medis di propinsi atau daerah perkotaan dan di kabupaten atau daerah pedesaan. Rasio jumlah dokter terhadap penduduk di Indonesia jauh lebih kecil, jika dibandingkan dengan rasio di negara-negara maju maupun di Negara-negara Asean lainnya. Keterbatasan dokter inilah yang kemudian mempengaruhi kinerja mereka di puskesmas terutama yang berkaitan dengan tugas dan peran dokter selama bekerja di puskesmas. Saat ini isu-isu terkait tugas dan peran dokter di puskesmas menjadi polemik antara dokter yang menjabat sebagai pejabat fungsional juga menjabat sebagai pejabat struktural yaitu kepala puskesmas. Tujuan: Tujuan umum penelitian untuk mengetahui kinerja tenaga medis di puskesmas Kota Singkawang. Metode Penelitian: Jenis penelitian analitik menggunakan rancangan cross sectional, dengan metoda kualitatif dan kuantitatif. Unit analisis penelitian ini adalah tenaga medis di Kota singkawang. Subyek penelitian ini adalah seluruh tenaga medis yaitu dokter yang bekerja di Puskesmas Kota Singkawang yang berjumlah 20 orang baik itu dokter umum maupun dokter gigi. Hasil: Tenaga medis di Puskesmas Kota Singkawang 50% memiliki kinerja yang tinggi, 35% memiliki kinerja yang sedang dan 15% tenaga medis memiliki kinerja yang rendah. Faktor-faktor jabatan rangkap, motivasi kerja, insentif, disiplin kerja dan tingkat pendidikan menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kinerja tenaga medis (p<0,05) sedangkan status kepegawaian, pengalaman kerja, jenis kelamin dan umur tidak mempunyai hubungan yang signifikan atau bermakna dengan kinerja pelayanan medis (p>0,05). Kesimpulan: Kinerja dokter di puskesmas Kota Singkawang yang menjabat sebagai tenaga struktural dan tenaga fungsional lebih rendah dibandingkan dengan kinerja dokter yang tidak memiliki jabatan rangkap. Faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja tenaga medis adalah motivasi kerja sedangkan umur merupakan faktor yang paling lemah berhubungan dengan kinerja tenaga medis.
Background: One of health service barriers that still felt by community health service in many places was it’s limited medical force. Community health service trhough all this time was experiencing disproportion in medical service force between the provincial or city areas and the region or countryside areas. Doctore people ratio’s in Indonesia compared with advance countries was a lot smaller, even to ASEAN’s countries. This doctor’s limitation have influenced their performance at the community health service. There was a contradictive between doctor’s duty and role at community health service, between doctor who has functional duty and structural role as a head of community health service. Purpose: The common purpose of this research is to learn the medical force performance at the Singkawang’s community health service. Method: This was a analityc research using cross sectional design with qualitative and quantitative method. Research’s unit analysis were medical force at Singkawang. Research subject were all 20 people who worked at Singkawang’s community health service, the public doctors and even dentist who administered as the head of that community health service. Result: The high performance medical force are 50%, 35% have medium performance and 15% with low performance. Factors like multiple job position, work motivation, incentive, work dicipline and education level have shown a significant correlation (<0.05) but employment status, working experience, type of gender and age have shown no significant correlation with performance (0,05). Conclusion: Doctor who perform structural and functional role have a lower performance than doctor who do not have a multiple fuction. The most dominant factor influencing medical force performance is work motivation, hence age is the weakest factor related with medical force performance.
Kata Kunci : Kinerja,Tenaga medis,Puskesmas,Performance, Medical Force, Community health service