Implementasi desa siaga di Kota Tidore Kepulauan Propinsi Maluku Utara
POLISIRI, Marwan, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Kondisi geografis Kota Tidore yang sebagian daerahnya hanya dapat ditempuh dengan transportasi laut memberikan dampak terhadap sulitnya akses pelayanan kesehatan. Keterbatasan tenaga dan fasilitas juga menjadi salah satu masalah di Kota Tidore. Sebagai upaya mengatasi masalah ini, Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan mengembangkan program desa siaga dengan melibatkan masyarakat. Pada tahun 2007-2008 di Kota Tidore Kepulauan telah terbentuk 28 desa siaga dan rencananya akan dibentuk secara simultan 72 desa siaga atau semua desa di Kota Tidore Kepulauan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan desa siaga di Kota Tidore Kepulauan. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang dibantu dengan alat pedoman wawancara. Responden terdiri atas Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bidang Binakesmas, Kepala Seksi Promosi Kesehatan, Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak, Ketua Forum Sehat, bidan di masing-masing Desa Siaga, kepala desa/lurah, dan kader Desa Siaga. Hasil: Pelaksanaan desa siaga di Kota Tidore Kepulauan telah berjalan sejak tahun 2007 dengan mendapatkan dukungan dari Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan, walaupun belum ada petunjuk teknis pelaksanaan secara khusus. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pelaksanaan ambulan desa, warung obat desa, poskesdes, posyandu, dana tabulin, kelompok donor darah, serta kebersihan lingkungan. Kegiatan-kegiatan ini sepenuhnya didukung oleh masyarakat dan aparat pemerintah desa yang pelaksanaannya berdasarkan kesadaran masyarakat itu sendiri dengan mengembangkan berbagai organisasi di masing-masing desa. Kesimpulan: Kegiatan desa siaga di Kota Tidore masih bersifat top down, pelatihan bagi kader masih bersifat ceramah sehingga kader belum sepenuhnya berhasil mengimplementasikan pengetahuan mereka untuk memecahkan masalah yang ada di desa mereka masing-masing. Pengorganisasian masyarakat telah melibatkan beberapa elemen masyarakat yang dikoordinasikan oleh Kepala Desa bekerjasama dengan ketua Forum Sehat serta kader, tokoh masyarakat dan pemuda. Peran informal leader di Kota Tidore Kepulauan harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan di masa depan.
Background: The geographic condition of Tidore which parts of its area can be reached only by sea tranportation has been giving difficulties for accressing health service. Limited facilities and health force were also among of Tidore’s problems. As an effort to overcome this prolem, the Tidore’s health office has planed to develop an alert village with form on community involvement. At the year of 2007-2008, 28 alerts village had been developed and projected to have 72 more so the entire villages on the city of Tidore would have alert village. Objectives: The purpose of this research is to evaluate the implementation of alert village in Tidore Kepulauan city. Method: Method of this research was descriptive qualitative with case study design. Primary data was collected through in-depth interviews assisted by interview guidance tools. Respondents were the head of health office, head of community health improvement office, head of health promotion section, head of mother and child health section, head of health forum, alert villages midwives, communities anchor person, head of villages, and allert village’s cadres. Result: The Implementation of the alert village in the Tidore Kepulauan City went since 2007 by getting the support from the health service of the Tidore Kepulauan City, although not yet having the technical guidance of the implementation specially. The activity that was carried out covered the implementation of the village ambulance, the stall of village medicine, poskesdes, posyandu, the fund tabulin, the blood donor's group, as well as the cleanliness of the environment. These activities were fully supported by the community and government apparatus of the village where his implementation was based on the awareness of the community personally by developing various organisations in respectively the village. Conclusion: The alert villages activities were stil top down in manner. Trainings were in form of lectures so cader’s have not been successed in implementing ther knowledge to solve problem at their villages. Community organizing have involved several community’s element which were coordinated by their head of village together with the head of health forum and also TOMA, Cadre and youth involvement. Informal leader role in the island city of Tidore must be maintained and improved in the future.
Kata Kunci : Implementasi, Desa siaga, Implementation, allert village