Efisiensi pemasaran daun potong di pasar bunga Rawabelong DKI Jakarta
INDRAJATI, Siti Bibah, Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, MS
2008 | Tesis | S2 Magister Manajemen AgribisnisPenelitian bertujuan: menganalisis pemasaran daun potong Asparagus Buntut Bajing, Paku Leatherleaf, Andong Hijau, Pilodendron, Drasena Jamaika, Monstera di Pasar Bunga Rawabelong DKI Jakarta, dengan mengkaji saluran pemasaran, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi marjin pemasaran dan besarnya marjin pemasaran di setiap tingkat pemasaran, serta menganalisis efisiensi pemasaran. Pola saluran pemasaran keenam jenis daun potong yang diamati terbagi menjadi empat: saluran pemasaran 1 (petani-pedagang pengumpul sekaligus pedagang grosir di los-pedagang pengecer-konsumen daun potong untuk diproses dan konsumen akhir), saluran pemasaran 2 (petani-pedagang pengumpul sekaligus pedagang grosir di los-konsumen daun potong untuk diproses), saluran pemasaran 3 (petani-pedagang pengumpul-pedagang grosir di kios-pedagang pengecer-konsumen daun potong untuk diproses), dan saluran pemasaran 4 (petani-pedagang pengumpulpedagang grosir di kios-konsumen daun potong untuk diproses). Hasil analisis marjin pemasaran menunjukkan penyebaran marjin pemasaran, keuntungan dan B/C rasio pada setiap tingkat pemasaran di masing-masing saluran pemasaran tidak merata. Hal ini disebabkan biaya pemasaran yang dikeluarkan karena adanya aktifitas yang dilakukan oleh lembaga pemasaran dalam menjalankan fungsi-fungsi pemasaran. Nilai marjin pemasaran bervariasi antara Rp 1,560.00 – Rp 6,093.75. Apabila dibandingkan besarnya nilai marjin pemasaran pada setiap saluran pemasaran, saluran pemasaran 2 memiliki nilai marjin pemasaran terkecil. Dari hasil analisis regresi, diketahui bahwa jarak dan tingkat pemasaran berpengaruh nyata terhadap marjin pemasaran keenam jenis daun potong (α=1%). Volume penjualan hanya berpengaruh nyata terhadap marjin pemasaran daun potong Andong Hijau (α=5%), Pilodendron (α=1%), Drasena Jamaika (α=1%), Monstera (α=1%). Secara keseluruhan indeks Efisiensi teknis (Et) keenam jenis daun potong menunjukkan nilai yang cukup besar, sedangkan indeks Efisiensi ekonomis (Ee) menunjukkan nilai yang kecil. Hal ini berarti pemasaran keenam jenis daun potong menanggung biaya pemasaran per ikat per 1 km jarak pemasaran yang cukup besar dan memberikan keuntungan yang kecil. Apabila dibandingkan pada keempat saluran pemasaran daun potong Asparagus Buntut Bajing dan Paku Leatherleaf, saluran pemasaran 4 secara teknis dan ekonomis merupakan saluran pemasaran yang efisien. Untuk daun potong Andong Hijau dan Pilodendron, saluran pemasaran 2 merupakan saluran pemasaran yang efisien secara teknis dan ekonomis. Sedangkan untuk daun potong Drasena Jamaika dan Monstera, saluran pemasaran 1 dan 2 merupakan saluran pemasaran yang efisien secara teknis dan ekonomis.
The objective of this research is to analyze the cut leaf marketing of six observed cut leaf: Asparagus Buntut Bajing, Paku Leatherleaf, Andong Hijau, Pilodendron, Drasena Jamaika and Monstera in Rawabelong Flower Market DKI Jakarta, by (a) studying marketing channel, (b) analyzing influence factors to marketing margin and margin rate in every marketing level, and (c) analyzing marketing efficiency. The pattern of marketing channel which is utilized in six observed cut leaf are divided into 4 channels such as: (a) marketing channel 1 (farmers – collectors/grocers in the kiosk – retailers – consumers); (b) marketing channel 2 (farmers – collectors/grocers in the kiosk – consumers); (c) marketing channel 3 (farmers – collectors – grocers in the kiosk – retailers – consumers); and (d) marketing channel 4 (farmers – collectors – grocers in the kiosk – consumers). The result of marketing margin analysis shows that margin distribution, profit and B/C ratio for each marketing level in every marketing channel do not spread well. The value of marketing margin in each marketing level is influenced by marketing cost. Marketing margin value varies between Rp 1,560.00 – Rp 6,093.75. From six observed cut leaf, the second marketing channel is the shortest channel that has the lowest marketing margin. From the result of regression analysis, it show that distance and marketing level have real influence to marketing margin from six observed cut leaf (α=1%). On the other hand, selling volume only has influence to marketing margin of Andong Hijau cut leaf (α=5%), Pilodendron (α=1%), Drasena Jamaika (α=1%), and Monstera (α=1%). Finally, analysis of technical efficiency index (Et) show that six observed cut leaf result high value, while analysis of economics efficiency index (Ee) result low value. This condition shows that the marketing of the six kinds of cut leaf that were analyzed has the quite high marketing expense for each bundle of 1 km marketing distance and gives the small profit. However if it is compared on each marketing channel, it shows that marketing of Asparagus Buntut Bajing and Paku Leatherleaf will be technically and economically efficient if it use marketing channel 4. On the other hand, marketing of cut leaf of Andong Hijau and Pilodendron will be technically and economically efficient if it use marketing channel 2 and cut leaf of Drasena Jamaika and Monstera will be technically and economically efficient if it use marketing channel 1 and 2.
Kata Kunci : Efisiensi,Marjin,Pemasaran,Saluran, Efficiency, Margin, Marketing, Channel