Laporkan Masalah

Pengaruh faktor-faktor produktivitas terhadap perkembangan usaha ternak kambing di Kabupaten Lombok Timur

RUSDIANTO, Sasongko Wijoseno, Prof. Ir. Krishna Agung Santosa, M.Sc., Ph.D

2008 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan

Usaha ternak kambing merupakan komponen penting dalam sistem usaha tani lahan kering antara lain sebagai penyedia uang tunai untuk mengelola lahan pertanian dan biaya sosial lainnya. Kebutuhan hidup yang makin meningkat menuntut peternak untuk mengembangkannya. Keterbatasan modal yang dimiliki menyebabkan mereka membutuhkan modal usaha, salah satunya adalah sistem gaduhan. Penelitian ini dilakukan untuk : 1). menganalisis faktor-faktor produktivitas yang berpengaruh terhadap perkembangan usaha ternak kambing, pada peternakan rakyat pada wilayah lahan kering di Kabupaten Lombok Timur. 2). mengetahui besarnya penerimaan berdasarkan sumber modal (modal sendiri, atau gaduhan) yang digunakan untuk usaha ternak kambing. dan 3) menganalisis tingkat kelayakan usaha ternak kambing dari sumber modal usaha milik sendiri atau gaduhan. Survei dilaksanakan pada empat kecamatan di wilayah Kabupaten Lombok Timur, dengan responden sebanyak 50 orang peternak kambing. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan regresi linear, analisis variansi dan analisis kelayakan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor produktivitas (skala awal usaha, lama usaha dan penambahan skala usaha) memberikan pengaruh (P<0,01) terhadap perkembangan usaha ternak kambing. Litter size, kidding interval, mortalitas dan tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan, karena kualitas kambing yang dipelihara relatif sama dan sistem pemeliharaan yang tidak jauh berbeda. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada tiga sumber modal (milik sendiri, gaduhan dan gabungan keduanya) Kelayakan usaha bagi peternak yang menggunakan sumber modal (milik sendiri, gaduhan perorangan dan gaduhan dari pemerintah), NPV berturut-turut 976.448, 609.692, dan 1.376.771, sedangkan BCR berturut-turut 1,51, 1,32, dan 2,31. kelayakan usaha bagi pemberi gaduhan yaitu nilai NPV = 1.546.770 dan BCR = 2,65; sedangkan untuk modal yang dikeluarkan oleh pemerintah pada periode pertama NPV = -1.191.125; dan BCR= 0,53. Namun pada guliran ternak berikutnya mendapatkan NPV = 219.509; dan BCR = 1,28.

Goat farming is an essential component of dry-land farming system to provide cash needed by farm as well as other social expenses. The increase of living expenses makes the farmers to expand their goat farming. Capital has been limited. Gaduhan is a goat sharing scheme which has been adopted for long time. This study was designed 1) to analyzed productivity factor affecting the development of goat sharing, 2) to determine the revenue of goat farming and 3) to determine the financial feasibility of goat farming using either own capital or gaduhan. Survey was conducted throughout East Lombok taking 50 goat farmers as respondents. Regression analyses showed that productivity factors, i.e. initial goat number, length of experience and the increase of goat number affected (P<0.01) the development of goat farming. The non significant effects of litter size, kidding interval and mortality were due to the facts that the quality of goats and the farming techniques were not different. There were no different effects among the type of capital (own capital, gaduhan, or both). Financial analyses showed the net present value (NPV) of goat farming using own capital, gaduhan (personal and Government) are as follows: Rp 976,448, 609,692, and 1,376,771 with benefit/cost ratio (BCR) of 1.51, 1.32 and 2.31, respectively. From Government’s side in providing the capital, NPV and BCR were found to be –Rp1, 191,125 and 0.53, respectively. However, on the second revolvement, NPV and BCR increased to Rp 219,509 and 1.28, respectively.

Kata Kunci : Kambing,Usaha lahan kering,Goat Farming, Dry-land Farming, Goat Sharing Scheme


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.