Pengaruh konseling farmasis terhadap luaran terapik pasien hipertensi di RSU Kardinah Tegal
KUSUMANINGJATI, Yani, Dra. Zulies Ikawati, Ph.D., Apt
2008 | Tesis | S2 Farmasi KlinikPenelitian eksperimental ini dilakukan untuk menilai pengaruh konseling yang dilakukan farmasis (peneliti) terhadap luaran terapetik pasien hipertensi rawat jalan di RSU Kardinah Tegal. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan pengisian kuesioner Short Form-36 (SF-36) pada pasien hipertensi dan mendapat pengobatan dengan antihipertensi. Pasien ditentukan secara random dan dikelompokkan menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, selanjutnya dilakukan pemantauan selama 1 bulan. Kelompok kontrol tidak mendapatkan konseling dari farmasis (peneliti). Pasien yang termasuk dalam kelompok intervensi menerima konseling dari farmasis (peneliti) tentang hipertensi, terapi dengan obat dan non obat serta bantuan untuk meningkatkan ketaatan terhadap terapi. Luaran terapetik yang diamati berupa perubahan tekanan darah dan penilaian kualitas hidup menggunakan instrumen generik SF-36 yang mengukur status kesehatan umum. Data yang didapat diolah dan dianalisis menggunakan program SPSS 15. Diperoleh 49 subyek penelitian terdiri dari 26 (53,1%) penderita hipertensi yang mendapat konseling dari farmasis (peneliti) dan 23 (46,9%) penderita hipertensi tanpa mendapat konseling (kontrol). Terdapat penurunan rerata tekanan darah bermakna pada kelompok intervensi dari awal sampai akhir penelitian 21,92 poin pada tekanan darah sistolik (dari 170 menjadi 148,08 mmHg; p=0,001) dan 6,92 poin pada tekanan darah diastolik (dari 103,46 menjadi 96,54 mmHg; p=0,004). Perubahan rerata tekanan darah secara bermakna pada kelompok kontrol dari awal sampai akhir penelitian sebesar 11,74 poin pada tekanan darah sistolik (dari 165,22 menjadi 153,48 mmHg; p=0,002) dan 5,22 poin pada tekanan darah diastolik (dari 101,74 menjadi 96,52 mmHg; p=0,007). Dibandingkan antara dua kelompok, perubahan rerata tekanan darah sistolik dan diastolik tidak bermakna. Pada akhir penelitian 2 dari 14 pasien hipertensi non diabetes (14,29 %) mmHg pada kelompok intervensi mencapai tekanan darah < 140/90 mmHg, sedangkan kelompok kontrol 1 dari 11 pasien (9,09 %). Dari 12 pasien hipertensi dengan diabetes pada kelompok intervensi 1 pasien (8,33 %) mencapai tekanan darah < 130/80 mmHg, sedangkan kelompok kontrol tidak ada. Uji Mann-Whitney untuk penilaian kualitas hidup masing-masing skala SF-36 pada awal dan akhir penelitian antara kelompok intervensi dan kontrol didapatkan rerata nilai berbeda tidak bermakna (p > 0,05). Konseling yang dilakukan farmasis menunjukkan perbaikan terhadap tekanan darah dan pasien hipertensi dapat mencapai target tekanan darahnya. Penilaian kualitas hidup masing-masing skala SF-36 tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
An experimental research, was conducted to assess the influence patient counseling by pharmacist results in outcome therapeutic for outpatients hypertension in Kardinah hospital, Tegal. Data collection was conducted with interview and fill the Short-Form 36 (SF-36) questionnaire in patients with hypertension and newly commenced on antihypertensive drug therapy. Subject were randomized and assigned to control and intervension groups and followed for 1 month. Control subject did not receive counseling by pharmacist. Patients in the intervention group received counseling by pharmacist about hypertension, drug and non drug management and assistance to enhance compliance. Outcome therapeutic were measured by changes in blood pressure and a quality of life assessment performed using generic instrument, SF36 were used to measure general health status. Data was processed and analyzed by SPSS version 15. Fourty-nine patients were enrolled into the study; 26 (53,1 %) were randomly assigned to the intervention group and 23 (46,9 %) to the control group. A significant decreases in mean blood pressures were noted for the intervension group from the baseline to final assessment 21,92 poin in systolic blood pressure (from 170 to 148,08 mmHg; p=0,001) and diastolic blood pressure 6,92 poin (from 103,46 to 96,54 mmHg; p=0,004). Significant changes in mean blood pressure in the control group from the baseline to final assessment 11,74 poin in systolic blood pressure (from 165,22 to 153,48 mmHg; p=0,002) and 5,22 poin in diastolic blood pressure (from 101,74 to 96,52 mmHg; p=0,007). Comparing the groups, the change in systolic and diastolic blood pressure was insignificant. At the completion of the study 2 of 14 patients non diabetes (14,29 %) in the intervention group attained their blood pressure goal below 140/90 mmHg and 1 of 11 patient (9,09 %) in the control group. Of 12 patients with diabetes in the intervention group, 1 patient (8,33 %) attained their blood pressure goal < 130/80 mmHg and no one in the control group. Mann-Whitney test to assessment quality of life in each scale SF-36 from the baseline to final assessment were found no significant difference in score between group (p>0,05). Patient counseling by pharmacist contributed to improved blood pressure and results in more patients with hypertension reaching their blood pressure goal. The assessment quality of life in each scale SF-36 health survey scores was insignificant between intervention and control group.
Kata Kunci : Hipertensi,Konseling,Tekanan darah,Kualitas hidup,hypertension, counseling, blood pressure, quality of life