Dampak perubahan tarif impor kedelai terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia
PRIMASARI, Ryan, Dr. Ir. Suhatmini Hardyastuti, M.S
2008 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianBerdasarkan Persetujuan Pertanian WTO, tarif impor merupakan satu-satunya instrumen proteksi komoditas pertanian, termasuk kedelai. Pada periode 1998-2004, Indonesia membebaskan perdagangan kedelai pada tingkat tarif 0 persen, kemudian menetapkan tarif impor kembali sebesar 10 persen pada 2005-2007 dan membebaskannya kembali pada awal 2008 akibat terjadinya gejolak harga kedelai di pasar dunia. Mengingat tingginya ketergantungan impor kedelai Indonesia dan lemahnya dukungan negara pada sektor pertanian, perubahan tarif impor kedelai ini menjadi sangat penting baik bagi petani, konsumen maupun pemerintah. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi harga kedelai di tingkat petani, permintaan kedelai di tingkat pedagang besar dan penawaran kedelai di tingkat petani, (2) menganalisis dampak perubahan tarif impor kedelai terhadap harga, jumlah penawaran, jumlah permintaan dan jumlah impor kedelai, serta (3) menganalisis dampak perubahan tarif impor kedelai terhadap kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, maka digunakan analisis regresi untuk mengestimasi fungsi harga kedelai tingkat petani, fungsi permintaan kedelai di tingkat pedagang besar dan fungsi penawaran kedelai di tingkat petani dan analisis ekuilibrium parsial untuk mengukur dampak perubahan tarif impor kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga kedelai di tingkat petani dipengaruhi oleh harga kedelai di tingkat pedagang besar, jumlah konsumsi dan jumlah produksi kedelai. Permintaan kedelai di tingkat pedagang besar dipengaruhi oleh harga kedelai dan harga telur di tingkat pedagang besar, jumlah penduduk dan pendapatan per kapita masyarakat, sedangkan penawaran kedelai di tingkat petani dipengaruhi oleh harga kedelai di tingkat petani dan harga pupuk urea. Selanjutnya, analisis ekuilibrium parsial memberikan hasil bahwa skenario penurunan tarif sebesar 10 persen akan meningkatkan jumlah permintaan dan menurunkan produksi kedelai akibat terjadinya penurunan harga di tingkat pedagang besar dan petani. Hal ini kemudian akan mendorong kenaikan kesejahteraan masyarakat, namun akan merugikan pertanian kedelai nasionel akibat penurunan surplus produsen dan peningkatan jumlah permintaan impor kedelai. Oleh karena itu, maka pemerintah Indonesia harus tetap mempertahankan tarif impor kedelai sekaligus mengupayakan peningkatan produksi kedelai nasional untuk mencapai kemandirian pangan nasional, khususnya untuk komoditas kedelai.
Based on the the Agreement on Agriculture under WTO arrangements, import tariff duty is the only instrument of protection for agricultural commodities, include soybean. In 1998-2004, Indonesia liberalized soybean trade on 0 percent tariff rate, then reinstated tariff rate on 10 percent in 2005-2007 and removed it again in early 2008 due to price instability in world market. Because of Indonesian high importdependency on soybean, besides weak national support on agricultural sector, the change of soybean import tariff is very important for farmer, consumer and also government. Based on the explanation, the objectives of this research are (1) to determine factors influencing producer price, wholesaler demand and producer supply of soybean, (2) to analyze effects of soybean import tariff change on domestic price, soybean quantity supplied, demanded and imported, and (3) to analyze effects of soybean import tariff change on social welfare. Thus, regression analysis was used to estimate producer price, wholesaler demand and supply function of soybean as well as partial equilibrium analysis was used to measure effects of import tariff change. The results indicate that soybean producer price is significantly influenced by soybean wholesaler price, quantity of consumption and production. Soybean demand in wholesaler is influenced by wholesaler price of soybean and egg, real income and population, while soybean supply is influenced by soybean producer price and urea fertilizer price. Furthermore, partial equilibrium analysis conclude that 10 percent tariff-cut scenario would increase soybean demanded and decrease soybean supplied in responses to the decrease of both wholesaler and producer price. Thus, it would lead the increase of net welfare gain, but would squeeze the national soybean agriculture by the decrease of producer surplus and the increase of soybean import quantity. Meanwhile, the increase of tariff rate by 10 percent has the opposite results. It is suggested, therefore, that Indonesian government has to retain the import tariff to protect soybean producer and improve soybean production at the same time to pursue national food independency, especially for soybean.
Kata Kunci : Tarif import,Kesejahteraan,Analisis equilibrium parsial,Kedelai, import tariff, welfare, partial equilibrium analysis, soybean