Persepsi stakeholder terhadap pelaksanaan desa siaga di Kabupaten Sambas tahun 2007
HERMANSYAH, Agus, dr. Kristiani, SU
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Desa siaga merupakan gambaran masyarakat yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Kabupaten Sambas pada tahun 2007 telah membentuk 14 desa siaga dari 16 kecamatan yang ada. Tujuannya adalah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan karena kondisi lingkungan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Keterlibatan stakeholder dan masyarakat sangat diperlukan agar suatu program dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Tujuan Penelitian : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi stakeholder terhadap bentuk/model dari pelaksanaan Desa Siaga di Kabupaten Sambas tahun 2007. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan rancangan studi kasus. Subjek penelitian adalah stakeholder yang terdiri dari Kepala Sub Dinas Promosi Kesehatan, Kepala Puskesmas, Camat, Kepala Desa, Bidan/Tenaga pendamping, PKK, kader dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan penelusuran dokumen. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa siaga di Kabupaten Sambas telah berjalan sejak awal tahun 2007 dengan mendapatkan dukungan kebijakan dari dinas kesehatan kabupaten, aparat pemerintah desa dan masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pelaksanaan posyandu, poskesdes, dana tabulin, ambulan desa, kelompok donor darah, penggalangan dana masyarakat, sosialisasi dan penyuluhan, surveilans sederhana, pembentukan tim siaga bencana, kebersihan lingkungan serta pencatatan dan pelaporan. Persepsi stakeholder terhadap bentuk/model desa siaga berupa partisipasi masyarakat sudah baik, walaupun dukungan kebijakan dari pemerintah daerah masih kurang . Hal ini karena masih kurangnya peran pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan desa siaga di Kabupaten Sambas, sehingga dinas kesehatan perlu terus meningkatkan sosialisasi dan advokasi tentang desa siaga kepada pemerintah daerah maupun sektor terkait. Kesimpulan : Persepsi stakeholder terhadap bentuk/model desa siaga berupa partisipasi masyarakat sudah baik, walaupun sebagian stakeholder masih mempunyai pemahaman yang terbatas mengenai desa siaga seperti konsep desa siap antar jaga.
Background: The alert village (Desa Siaga) form of depiction on society whose have readiness on resources and ability as well as willingness to prevent and overcome a health problems, disaster and health emergencies by their self. Sambas Regency in 2007, had established 14 Desa Siaga from its entire 16 sub district. The goals of Desa Siaga were to decrease the maternal and infant mortality as well as to prevent unintended event from the environment which could raise a health problem. The stakeholder involvement and the community were needed in order any program could be implemented according to the declared goals. Objectives: This research was aimed to know the stakeholder’s perception to the model/form of the implementation of Desa Siaga in Sambas Regency in 2007. Methods: The research was descriptive research using case study design. The subjects of the research ware stakeholders that consisted of Head of Sub Department of Health Promotion, Head of Community Health Center, Sub district Head, Village Head, midwifes/ birth attendant, United of Family Welfare, cadre and community leader. The data collecting was performed by in depth interview and document exploration. Results and discussion: The result showed that Desa Siaga in Sambas Regency had been operated since early of 2007, and obtained support from policy of Regency Health Department. The activist that had been implemented include Integrated Service Post, Village Health Post, fund of labor, village ambulance, blood donor group, community fund mobilization, socialization and illumination, simple surveillance, to established disaster alert team, environmental cleanness, as well as recording and reporting. The stakeholder’s perception on the form/model of Desa Siaga to the community participation was good, while in policy support was still less. Those because the less role of regional government in supporting the implementation of Desa Siaga in Sambas Regency. Therefore the Health Department need to increase continualy a socialization and avocations on Deasa Siaga to regional government and related sector. Conclusions: The stakeholder’s perception to the community involvement in implementation of Desa Siaga was good, part of stakeholder still had limited understanding on Desa Siaga as a guard deliver ready village concept.
Kata Kunci : Partisipasi masyarakat,Desa siaga,Stakeholder,persepsi, perception; stakeholder; community participation, Desa Siaga.