Laporkan Masalah

Analisis spasial dan faktor risiko kasus TBC paru dengan BTA (+) di Kabupaten Bantul tahun 2008

HUTAURUK, Lenny Susie Oktriana, dr. Riris Andono Ahmad, MPH

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang : Penyakit Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang kronis menular dan menjadi isu kesehatan global di semua negara. Menuju target 70% penemuan kasus, secara global angka penemuan kasus di dunia pada tahun 2005 adalah 59%. Indonesia berhasil mencapai deteksi kasus sebesar 76% pada tahun 2006. Angka penemuan kasus TB untuk Kabupaten Bantul tahun 2005 hanya memberikan kontribusi sebesar 49,7 %, sedangkan untuk tahun 2006 mengalami penurunan yaitu hanya sebesar 48,33%. Menurut penelitian yang dilakukan Aprisa Chrysantina mengenai Analisis Spasial dan Temporal Tuberkulosis di Kota Yogya, Juli – Desember 2004 menyatakan bahwa adanya kecenderungan pengkulsteran kasus TB di bantaran sungai. Tujuan : Mengetahui apakah terdapat clustering pada pola persebaran kasus tuberkulosis, faktor risiko kejadian kasus TBC dan akses pelayanan kesehatan di Kabupaten Bantul Metode : Jenis penelitian adalah survey dengan pendekatan Kasus Kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Subyek dalam penelitian ini adalah obyek wilayah, kasus sebanyak 93orang yang tercatat menderita TB paru dengan BTA(+) pada register TB kabupaten dan kontrol sebanyak 93 orang yang merupakan suspek pada register TB kabupaten. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengambilan titik koordinat rumah penderita dengan GPS dan pengukuran luas ventilasi dan pencahayaan dengan lux meter. Analisis data : Analisis spasial dengan SaTScan untuk mengetahui clustering penderita TB BTA(+), Excel Distcalc untuk mengetahui jarak tempat tinggal kasus dengan sarana pelayanan kesehatan, analisis Spatially weighted regression menggunakan Geoda untuk mengetahui ada tidaknya hubungan variabel bebas (Faktor risiko kependudukan, lingkungan dan akses pelayanan kesehatan) terhadap variabel dependen (Distribusi penderita TB BTA(+) yang ditemukan). Data dianalisis secara bivariat dan multivariat dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian : Ada satu pengklusteran di 2 kecamatan yaitu Kecamtan Bantul dan Pandak dengan jumlah kasus 6 orang. Hasil analisis bivariat menunjukkan variable yang secara statistic berhubungan terhadap kejadian TB paru dengan BTA (+) di Kabupaten Bantul adalah kependudukan (sosio ekonomi), kondisi rumah (kepadatan hunian, jenis lantai, ventilasi dan pencahayaan. Hasil analisis multivariat menunjukkan 2 variabel yang signifikan dan dominant berhubungan terhadap kejadian TB paru dengan BTA (+) di Kabupaten Bantul yaitu : Kepadatan Hunian (OR = 2.888; 95% CI: 1.466-5.691) dan jenis lantai(OR =4.048; 95% CI : 1.966-8.334) Kesimpulan: Adanya satu pengklusteran di 2 kecamatan dan kepadatan hunian serta jenis lantai merupakan factor risiko kejadian TB paru dengan BTA (+) di Kabupaten Bantul dan bermakna secara statistic (p<0.05)

Background: Tuberculosis (TBC) is a chronic communicable disease that has become a global health issue in all countries. The report of WHO (2006) concludes that there are 22 countries with heavy load of TBC. India, China and Indonesia contribute more than 50% of all cases that happen in 22 countries with heavy load of TBC and Indonesia is in the third rank. Indonesia identified 76% of case invention in 2006 and District of Bantul contributed 49.7% of TB case invention in 2005 and 48.33% in 2006. A study carried out by Chrysantina (2006) reveals that there is a tendency of clustering of TB cases at the bank of river. Objective: To identify the presence of clustering in acid fast lung TB case distribution pattern and risk factors of the prevalence of acid fast lung TB cases at District of Bantul. Method: This was a survey with case control study design carried out at District of Bantul, Province of Yogyakarta Special Territory. Subject were object of location with 93 cases identified as having acid fast lung TB at district TB registry and as many as 93 people as suspect of district TB registry. Data were obtained through interview, the specification of coordinate of dwelling place of the patient using Global Positioning System (GPS) and measurement of width of ventilation and lighting using luxmeter. Data were analyzed spatially using SaTScan to find out clustering of acid fast bacillus lung TB. Data were analyzed using bivariable and multivariable technique at significance 95%. Result: There was one clustering at 2 subdistricts, i.e. Bantul and Pandak with 6 cases. The result of bivariable analysis showed variables statistically related to acid fast bacillus lung TB at District of Bantul were demography (socio economic), house condition (occupancy density, types of floor, ventilation and lighting). The result of multivariable analysis showed that 2 variables significantly and dominantly related to the prevalence of acid fast bacillus lung TB at District of Bantul were: occupancy density (OR=2.888; 95% CI:1.466-5.691) and types of flour (OR=4.048; 95% CI:1.966-8.334). Conclusion: There was one clustering at 2 subdistrict and occupancy density as well as types of floor were risk factors for the prevalence of lung TB with acid fast bacillus at District of Bantul and they were statistically significant (p<0.05).

Kata Kunci : Analisis spasial,Faktor kependudukan dan kondisi rumah,Faktor risiko,TB paru BTA (+),spatial analysis, demography, house condition, lung TB, acid fast bacillus


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.