Peningkatan pelayanan informasi obat bagi petugas penyerah obat puskesmas dan puskesmas pembantu dengan diskusi kelompok kecil disertai umpan balik
SYAFRIL, Dessy, Dra. Siti Munawaroh, Apt., M.Kes
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Didalam pelayanan obat kepada pasien, salah satu komponen penting yang ikut menentukan keberhasilan atau kegagalan terapi adalah aspek informasi dan komunikasi. Tidak lengkapnya informasi pelayanan obat ini akan menyebabkan kurangnya informasi yang diterima oleh pasien, sehingga akan terjadi penggunaan obat yang tidak rasional. Untuk meningkatkan pelayanan informasi obat dapat dilakukan dengan intervensi edukasi melalui Diskusi Kelompok Kecil (DKK). Intervensi DKK dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap dari petugas obat maupun pasien. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan intervensi DKK yang disertai umpan balik tertulis dan lisan untuk meningkatkan pelayanan informasi obat oleh Petugas Penyerah Obat (PPO). Metode: Rancangan penelitian yang digunakan eksperimental semu, pre dan post test tanpa kontrol. Lokasi penelitian seluruh Puskesmas (3) dan Puskesmas Pembantu (17) di Kota Solok. Data diambil 1 bulan sebelum intervensi dan 3 bulan setelah intervensi dengan time point 1 bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan PPO yang diukur dengan menggunakan kuesioner, dan peningkatan pelayanan informasi obat yang diukur dengan menggunakan indikator pelayanan pasien (WHO, 1993) serta melakukan wawancara kepada pasien terhadap pelayanan obat oleh PPO. Data ditabulasi dalam bentuk skor dan dilakukan analisis statistik dengan uji anava untuk melihat perbedaan antara sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap PPO serta peningkatan pelayanan informasi obat oleh PPO secara bermakna. Pada tahap awal skor rata-rata pengetahuan 13,90 meningkat menjadi 20,90 setelah Umpan Balik 2 (UB2), keterampilan 5,95 meningkat menjadi 11,85 setelah UB2, sikap 67,10 meningkat menjadi 96,05 setelah UB2, waktu penyerahan obat 10,97 detik meningkat menjadi 11,61 detik setelah UB2, jumlah obat dengan etiket yang benar 0% meningkat menjadi 27,29% setelah UB2 dan pasien yang memahami informasi obat 12% meningkat menjadi 30% setelah UB2. Rata-rata pengetahuan, keterampilan dan sikap PPO Puskesmas serta pelayanan informasi obat nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan PPO Pustu. Kesimpulan: Dari hasil penelitian disimpulkan intervensi DKK yang disertai umpan balik tertulis dan lisan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan PPO serta pelayanan informasi obat oleh PPO. Nilai pengetahuan, keterampilan dan sikap PPO Puskesmas dengan latar belakang pendidikan AA lebih tinggi dibandingkan dengan PPO Pustu dengan latar belakang pendidikan bidan dalam hal penyerahan dan pemberian informasi obat kepada pasien.
Background: Deliver drug service to patient, was component that determines to succes or fail therapy was information and communication aspect. Drug information service was part of health service that become community expected. Drug information service that not complete cause lack information received by patient, will be generate irrational drug use. To increase drug information service can with to do intervention education with Small Group Discussion (SGD). Small Group Discussion can increase knowledge, skill and attitude the drug dispenser although patient. Thus, in this research conduct SGD intervention with writen and verbal feedback for increase drug service information by the drug dispenser. Method: This research design use quasi experiment, pre and post test without control. Number of sample, are 3 Public Health Center (PHC) and 17 Assistant Public Health Center in Solok Municipality. Data colected 1 month before intervention and 3 month after intervention with time point 1 month. Data was derived by observation knowledge, attitude and skill of the drug dispenser that measure with quessionaire, and increasing drug information service measure with patien care indicators (WHO, 1993) also interviewingto patient through drug service by the drug dispenser. The data is listed in the score statistically analized with anava to know defference between before and after intervention. Result: this research shows there increase knowledge, attitude and skill of the drug dispenser and increase drug information service by the drug dispenser significant in this way. In early step, knowledge mean score 13,90 increase to 20,90 in post feedback 2, attitude 67,10 increase to 96,05 in post feedback 2, skill 5,95 increase to 11,85 in post feedback 2, drug transfer time 10,97 second increase to 11,61 second in post feedback 2, number of drug with right label 0% increase to 27,29% in post feedback 2 and patient that understand drug information 12% increase to 30% in post feedback 2. The mean of knowledge, skill and attitude and also drug information service by the drug dispenser PHC have higher score than the drug dispenser Assistant PHC. Conclussion: The result of the research indicates that SGD intervention with writen and oral feedback can increase konwledge, attitude ang skill the drug dispenser and also drug information service by the drug dispenser. The knowledge, skill and attitude the drug dispenser PHC with Assistant Pharmacist educational background higher than the drug dispenser Assistant PHC with midwife educational background to giving drug and that information use in the patient.
Kata Kunci : Pelayanan informasi obat,Petugas penyerah obat,Diskusi kelompok kecil,Drug information service, Drug dispenser, Small Group Discussion