Laporkan Masalah

Persepsi petugas kesehatan tentang imunisasi hepatitis B usia nol hari di puskesmas Menteng Kotamadya Palangkaraya

WAWAN, Yaesar, dr. Endy Paryanto, SP.A(K), MPH

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan yang telah menginfeksi lebih dari 350 juta orang di dunia dan 78% di Asia Tenggara. Imunisasi hepatitis B 1 sangat tepat diberikan pada bayi usia nol hari. Indonesia termasuk kelompok endemis sedang dan tinggi, dengan prevalensi di populasi 7%-10%. Cakupan imunisasi hepatitis B bayi usia 0-7 hari tahun 2007 secara nasional 54,1%, provinsi Kalteng 18,3%, Kotamadya Palangkaraya 25,8% dan Puskesmas Menteng 27,3%. Cakupan hepatitis B yang rendah akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius bagi masyarakat dengan meningkatnya angka prevalensi hepatitis B. Persepsi petugas kesehatan dan masyarakat yang mengatakan anak yang diimunisasi akan lumpuh, bahkan mengakibatkan kematian. Persepsi yang salah tentang keparahan penyakit dipengaruhi kepercayaan setempat pada perkiraan mengenai penyakit tidak berbahaya, penyakit langka, tidak menyebar, merupakan penyakit khusus anak dan serangan penyakit akan resisten secara alami. Tujuan Penelitian: Untuk mengkaji persepsi petugas kesehatan tentang imunisasi hepatitis B usia nol hari. Metode Penelitian: Jenis penelitian kualitatif dengan analisis isi dan metode pengambilan data primer dengan DKT kepada 8 orang petugas Pustu dan wawancara mendalam sebanyak 4 orang agar didapatkan informasi secara mendalam persepsi petugas kesehatan. Hasil: Pemahaman petugas kesehatan tentang imunisasi hepatitis B usia nol hari dapat berakibat yang sangat fatal jika dilakukan terhadap bayi. Imunisasi dilakukan bila bayi agak besar, karena mengimunisasi bayi kecil muncul perasaan kasihan. Pengetahuan tentang penyakit hepatitis B merupakan penyakit menular yang tidak dapat sembuh total dan masa penyembuhan lama serta biaya mahal. Pengobatan tradisional jarang dilakukan oleh petugas kesehatan, karena tidak membunuh virus hanya menjaga stamina tubuh. Program imunisasi hepatitis B usia nol hari bukan merupakan program prioritas dan bukan salah satu indikator UCI. Promosi tidak dilakukan secara khusus, tetapi dilakukan secara umum. Kesimpulan: Pemahaman petugas kesehatan tentang imunisasi hepatitis B usia nol hari sudah bagus, akan tetapi belum sampai terjadi perubahan dalam melakukan imunisasi bayi usia nol hari. Desiminasi dan informasi tentang perlindungan hukum bagi petugas kesehatan dan pasien perlu dilaksanakan. Dukungan pemerintah daerah dan pusat diperlukan dalam penyediaan anggaran promosi serta operasional dilapangan.

Background: Hepatitis B is one of health problem that infects more than 350 millions people in worldwide and about 78% of them live in southeast Asia. Hepatitis B1 immunization should be given during the first 24 hours life. Indonesia is one of an included in intermediate to high endemic areas, with prevalency 7%- 10%. Hepatitis B immunization coverage on 0-7 day old baby in national wide is 54.1%, where as Central Kalimantan province is 18.3%. The immunization coverage in Palangkaraya Municipal is about 25.8%, and in Menteng Community Health Center is 27.3%. The low coverage of hepatitis B immunization could cause serious ommunity health problem f the prevalence hepatitis B deseases increase highly. Most people and health provider still perceive that immunization able to cause death. The wrong perception about the severity desease is influenced by the local belief, such as the undangerous desease, scare desease, unsepareted desease, special infant desease, and the infected desease caused the naturally resistent. Objectives: To determine the perception on health provider on hepatitis B immunization on day-zero . Methods: We conducted a qualitative research design with content analysis. The primary data were collected by focus group discussion consisted of eight unit staffs of health centre.Seven person where interviewed indepthly as the triangulation informan. Results: The health provider percepton about hepatitis B immunization on dayzero was contradictory with the programm. The reason was such immunization many fatal if given too early. The prefered to give hepatitis B until day-seven. The health providers have already known that hepatitis B was a transmitted desease and could not be treated totally. The treatment needed long time and costly. The tradisional care many eliminate the virus. However, it a “balance” in the body. Conclusions: The was a contradictory perception of health providers about hepatitis B on day-zero, although their knowledge about the importance of hepatitis B immunization is sufficient. The health unlless feel fity if the have to do immunization on day-zero.

Kata Kunci : Hepatitis B,Imunisasi,Usia nol haro,Petugas kesehatan,hepatitis B immunization, zero day old, perception, health provider


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.