Laporkan Masalah

Pemberian makanan pendamping asi (MP-ASI) bubuk instan dan biskuit pada bayi usia 6-11 bulan dan anak usia 12-24 bulan dengan status kurang gizi dari keluarga miskin

SULENDRI, Ni Ketut Sri, dr. Madarina Julia, Sp.A(K), MPH, Ph.D

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Akar permasalahan masalah gizi di Indonesia terletak pada krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang menyebabkan makin meningkatkan jumlah keluarga miskin dan peningkatan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk. Di propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2005 prevalensi balita yang mengalami gizi buruk sebesar 8,4% dan gizi kurang sebesar 24,9%. Di Propinsi Bengkulu prevalensi balita mengalami gizi buruk sebesar 7,0% dan gizi kurang sebesar 19,6% dengan menggunakan indeks berat badan menurut umur. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan pemberian MPASI blended food (secara gratis). Pada tahun 2007 ini, kembali pemerintah secara nasional memberikan bantuan pada keluarga miskin berupa MP-ASI bubuk instan yaitu berupa bubur untuk bayi 6-11 bulan serta MP-ASI biskuit untuk anak 12-24 bulan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pemberian MP-ASI bubuk instant dan biskuit pada bayi dan anak usia 6-24 bulan dengan gizi kurang dari keluarga miskin. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan pendekatan metode kuantitatif. Rancangan penelitian ini adalah longitudinal pre dan post test. Lokasi penelitian di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Bengkulu Utara dengan waktu penelitian dilaksanakan akhir bulan Agustus sampai Pebruari 2008. Sampel pada penelitian ini berjumlah 336 bayi dan anak, yang diambil dengan cara systematic random sampling. Variabel dalam penelitian ini : Asupan MP-ASI bubuk instan dan biskuit, Asupan Non MP-ASI (variable bebas) dan Variabel terikat : status gizi dan perubahan BB. Cara pengolahan dan analisis data dengan cara deskriptif dan analitik uji paired t test dan anova. Hasil : Selama pemberian MP-ASI adalah 73,5 % sampel berada pada tingkat konsumsi energi baik dan untuk protein 68,8% baik. Asupan zat gizi dari MP-ASI terhadap rekomendasi Depkes mencapai 77,96 % untuk energi dan 77,78% untuk protein. Proporsi asupan zat gizi yang berasal dari MP-ASI terhadap total asupan sehari untuk energi 47,26% dan untuk protein 48%. Setelah pemberian MP-ASI selama 3 bulan, ada 17,55% sample yang menurun menjadi gizi buruk, 51,2% tetap gizi kurang dan 31,25% meningkat menjadi gizi baik. Kesimpulan : Ada peubahann berat badan dan status gizi (BB/U) setelah pemberian MP-ASI. Tidak ada hubungan antara pemberian MP-ASI energi dan protein dengan ststus gizi di 4 kabupaten/kota.

Background: The central problem of nutrition in Indonesia lies on economic crisis which has occurred since mid 1997 resulting in escalating quantity of poor families and the prevalence of undernourishment and malnutrition. In the Province of Nusa Tenggara Barat 2005 the prevalence of malnourished children under five was 8.4% and undernourishment was 24.9%. In the Province of Bengkulu the prevalence of malnourished children under five was 7.0% and undernourishment was 19.6% based on index of weight for age. An effort that has been made by the government is providing blended complementary breastfeeding for free. In 2007 the government nationally provided complementary breastfeeding for poor families in the form of instant powder for infants of 6-11 months and biscuits for children of 12-24 months. Objective: The study aimed to evaluate the provision of instant powder complementary breastfeeding for infants of 6-11 months and biscuit complementary breastfeeding for children of 12-24 with undernourished nutrition status from poor families. Method: The study was observational which used quantitative approach and longitudinal pre and post test design. Location of the study were Mataram Municipality, District of Lombok Barat, District of Lombok Timur and District of Bengkulu Utara. The study was carried out from end of August 2007 to February 2008. There were as many as 336 samples of infants and children that were chosen using systematic random sampling technique. Independent variables of the study were intake of instant powder and biscuit complementary breastfeeding and intake of non complementary breastfeeding. Dependent variables were nutrition status and weight changes. Data processing and analysis were done descriptively and using paired t-test and anova. Result: During the provision of complementary breastfeeding 73.5% of samples belonged to good energy consumption level and 68.8% belonged to good protein consumption level. Intake of nutrients from complementary breastfeeding based on the recommendation of the Ministry of Health reached 77.9% for energy and 77.8% for protein. Proportion of nutrient intake obtained from complementary breastfeeding against total daily intake was 47.3% for energy and 48% for protein. After 3 months supply of complementary breastfeeding as much as 17.6% of samples became malnourished; 51.2% undernourished and 31.3% increased to good nutrition. Conclusion: There were changes in weight and nutrition status (weight for age) after the supply of complementary breastfeeding. There was no relationship between energy and protein complementary breastfeeding supply and nutrition status

Kata Kunci : Makanan pendamping ASI,(MP,ASI),Kekurangan gizi,Bayi,complementary breastfeeding, undernourishment


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.